PENGARUH KEHIDUPAN SOSIO-KULTURAL TERHADAP SPASIAL PERMUKIMAN DI KELURAHAN SEKARAN SEBAGAI DAERAH PINGGIRAN KOTA SEMARANG

Teguh Prihanto(1),


(1) Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES)

Abstract

The aims of This research are: (1) to explain The Government’s policies which applied to Sekaran Village as urban fringe area; (2) to explain the influences of Unnes Campus to the socio-cultural life of Sekaran peoples; (3) to explain the physical configuration of spatial settlements of Sekaran Village since Unnes Campus existed. The researcher applied rationalistic which based on the grand concept that may be as the grand theory. The design of rationalistic approach built from the results of previous research, the contextual theories and the expert’s minds. The results of this research are generally describes that Sekaran Village as the hinterland of Semarang City is the sprouting up area as well as the city agglomeration. That was regulated by Detailed Urban Plan 2000-2001 section 13 of Semarang City which located on Part of Urban Region VIII. One of the regulations is determined that Sekaran Village as an higher educational area. The specific results of this research are: (1) There is a socio-cultural change, from mutual cooperation to profit; (2) Based on the typological study, the first building is the owner house and the last is the commercial building which grew up nearest the main street since 1990; (3) Commonly, the functions of spatial are: external yard, internal yard, owner  house, boarding house, shop and toilet; (4) In hierarchy, the outer side is a shop and the inner side is a boarding house; (5) The communal places existed in a boarding house terrace and a owner house terrace (6) There are open accesses between owner house, boarding house and external yard which has more less owner’s control.

Tujuan penelitian ini adalah: (1) menjelaskan penerapan kebijakan Pemerintah terhadap spasial Kelurahan Sekaran sebagai daerah pinggiran kota; (2) menjelaskan pengaruh Kampus Unnes terhadap kehidupan sosio-kultural masyarakat Sekaran; dan (3) menjelaskan pola perubahan spasial permukiman Kelurahan Sekaran sejak keberadaan Kampus Unnes. Peneliti menggunakan pendekatan rasionalistik yang bertolak dari konstruksi “grand concept” yang mungkin sudah merupakan “grand theory”. Desain penelitian rasionalistik yang bertolak dari kerangka teori, dibangun dari pemaknaan hasil penelitian terdahulu, teori-teori yang dikenal dan pikiran para pakar. Kesimpulan umum menggambarkan bahwa Kelurahan Sekaran merupakan kawasan tumbuh kembang seiring terjadinya aglomerasi Kota Semarang. Hal tersebut telah diatur dalam Rencana Detail Tata Ruang Kota  (RDTRK) Tahun 2000 – 2010  pasal 13 Kota Semarang Bagian Wilayah Kota (BWK) VIII, yang salah satunya sebagai kawasan perguruan tinggi. Kesimpulan khusus penelitian adalah: (1) Adanya perubahan sosial dari kehidupan gotong royong ke arah profit; (2) Dari kajian tipologi bangunan ditemukan bahwa: bangunan pertama berfungsi sebagai rumah hunian pemilik dan yang terbaru berfungsi sebagai tempat usaha komersial yang tumbuh mendekati jalan utama sejak Tahun 1990an; (3) Secara umum, fungsi spasial permukiman berupa: halaman luar, rumah pemilik, rumah kos, kios, halaman dalam dan kamar mandi; (4) Hierarki ruang terluar adalah kios yang terdalam adalah rumah kos; (5) Ruang komunal berada di teras rumah kos dan teras rumah pemilik; (6) Terbukanya akses antara pemondok dan lingkungan luar secara tidak langsung memberikan keleluasaan kontrol pemilik kos.

Keywords

socio-cultural; spatial of settlements; urban fringe area; sosio-kultural, spasial permukiman; Sekaran; daerah pinggiran kota

Full Text:

PDF

References

Bintarto, R., 1984. Interaksi Desa-Kota. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Haryadi dan Setiawan, 1995. Arsitektur Lingkungan dan Perilaku. Direktorat Jenderal Pendididkan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Muhadjir, N., 1992. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Tesis, Program Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada.

Mulyati, A, 1995. Pola Spasial Permukiman di Kampung Kauman Yogyakarta. , Yogyakarta: Rake Sarasin.

Rapoport, A., 1969. House Form And Culture. Engewood Cliffs, N.J.: Prentice-Hall, Inc.

Shahab, K., 2007. Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Soekanto S, 2000. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Subroto, YW., Setiawan, B.dan Setiadi, 1997. Proses Transformasi Spasial dan Sosio-Kultural Desa-Desa di daerah Pinggiran Kota (Urban Fringe) di Indonesia (Studi kasus Yogyakarta). Yogyakarta: Pusat Studi Lingkungan Universitas Gadjah Mada.

Wiriaatmadja, S., 1981. Pokok-Pokok Sosiologi Pedesaan. Jakarta: C.V. Tasaguna.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.