Abstract

Maraknya kesenian modern yang berkembang dimasyarakat pada saat ini, berakibat terhadap merosotnya eksistensi kesenian daerah. Meskipun demikian karena adanya kearipan lokal diantaranya ada yang masih bertahan. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian peneliti merumuskan permasalahan diantaranya :estetika kesenian terbang papat dalam tradisi karnaval ampyang,bagaimana bentuk interaksi simbolik masyarakat terhadap kesenian terbang papat dalam tradisi karnaval ampyang. Metode penelitian yang dipakai peneliti adalah metode kualitatif dengan memusatkan pada metode riset lapangan, dalam hal ini teknik pengumpulan data dialakukan dengan cara wawancara, observasi, teknik studi dokumen, Berdasarkan data yang diperoleh hal ini dapat disimpulankan sebagai berikut. Dilihat dari segi penampilan antara lain : bentuk esetika kesenian terbang papat terletak pada instrumennya, pola pukulan, teknik permainan, juga pesan dari syair yang dilagukan. Ditemukan dua motif pola irama terbang papat yaitu motif gombrang dan motif krangen, keunikan yang lain adalah pada instrument jedor, seniman terbang papat pada saat memainkan alat musik terbang papat harus dapat menguasai nada dan syair terlebih dahulu. Bentuk dari interaksi sosial masyarakat adalah ditemukan beberapa rangkaian acara terbang papat dalam tradisi karnaval ampyang yaitu; nganten mubeng gapuro padurekso, tradisi nasi kepel, tradisi loram bersholawat atau tradisi albarzanji, dan juga Loram ekspo.

 

The rise of modern art that developed in the community at this time, causes a decline in the existence of local arts. How everdue to the local genius some of which still survive. Based on this background, the study research hers formulate problem ssuch as:aesthetics art terbang papat in ampyang carnival tradition, how the forms of social interaction on the terbang papat art in the tradition of carnival ampyang. The research method is a method of observation, document study techniques, Based on the data obtainedit can be concluded as follows. In terms of appearance among others: esetika art form terbang papat located on the instrument, pattern punch, playing techniques, also the message of the poemsung. Found two motifs terbang papat rhythm patterns and motifs baggy motifs Krangen, another unique nessison jedor instruments, artists terbang papat when playing a musical instrument terbang papat should be able to master the tone and lyrics first. Forms of social interaction is found terbang papat a series of events in the carnival tradition ampyang namely; nganten mubeng gapuro padurekso, nasi kepel tradition, tradition or tradition sloram bersholawatal barzanji, and also loram expo

Maraknya kesenian modern yang berkembang dimasyarakat pada saat ini, berakibat terhadap merosotnya eksistensi kesenian daerah. Meskipun demikian karena adanya kearipan lokal diantaranya ada yang masih bertahan. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian peneliti merumuskan permasalahan diantaranya :estetika kesenian terbang papat dalam tradisi karnaval ampyang,bagaimana bentuk interaksi simbolik masyarakat terhadap kesenian terbang papat dalam tradisi karnaval ampyang. Metode penelitian yang dipakai peneliti adalah metode kualitatif dengan memusatkan pada metode riset lapangan, dalam hal ini teknik pengumpulan data dialakukan dengan cara wawancara, observasi, teknik studi dokumen, Berdasarkan data yang diperoleh hal ini dapat disimpulankan sebagai berikut. Dilihat dari segi penampilan antara lain : bentuk esetika kesenian terbang papat terletak pada instrumennya, pola pukulan, teknik permainan, juga pesan dari syair yang dilagukan. Ditemukan dua motif pola irama terbang papat yaitu motif gombrang dan motif krangen, keunikan yang lain adalah pada instrument jedor, seniman terbang papat pada saat memainkan alat musik terbang papat harus dapat menguasai nada dan syair terlebih dahulu. Bentuk dari interaksi sosial masyarakat adalah ditemukan beberapa rangkaian acara terbang papat dalam tradisi karnaval ampyang yaitu; nganten mubeng gapuro padurekso, tradisi nasi kepel, tradisi loram bersholawat atau tradisi albarzanji, dan juga Loram ekspo.