ANALISIS PERFORMA MESIN MOBIL NISSAN GRAND LIVINA 1500 CC BERBAHAN BAKAR CAMPURAN PERTALITE DENGAN ETANOL DAN PERTAMAX

  • Bhramantya Panji S Universitas Negeri Semarang
  • Danang Dwi Saputro Universitas Negeri Semarang
  • Dwi Widjanarko Universitas Negeri Semarang
Keywords: Etanol, Pertalite, Pertamax, Motor Bensin, Unjuk Kerja, Emisi gas buang.

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi campuran etanol pada bahan bakar pertalite terhadap unjuk kerja dan emisi gas buang yang dihasilkan
mesin mobil Nissan Grand Livina 1500 cc. Variasi perbandingan persentase etanol adalah 10%, 15%, 20%, dan 25% pada 1 liter bahan bakar pertalite dibandingkan dengan pertamax
murni. Variasi putaran mesin untuk pengujian performa mesin yaitu 2000, 3000, 4000 dan 5000 rpm. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen. Pengujian unjuk kerja mesin bensin menggunakan dynamometer. Data hasil penelitian dianalisis dengan cara menganalisis hasil data eksperimen kemudian menentukan dan menyimpulkan hasil
penelitian yang telah dilakukan dalam bentuk grafik dan tabel. Dua hal yang diamati dalam penelitian ini adalah pengaruh variasi campuran etanol pada bahan bakar pertalite terhadap unjuk kerja dan emisi gas buang yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unjuk kerja yang dihasilkan mengalami kenaikan pada sampel P1-E10% dan P1-E15% namun pada sampel P1-E20% dan P1-E25% mengalami penurunan. Campuran etanol yang tepat pada penambahan bahan bakar pertalite akan berdampak pada performa mesin berupa torsi dan daya yang optimal bahkan lebih baik daripada penggunaan bahan pertamax murni. Campuran bahan bakar pertalite dan etanol sebesar 15 % dengan label P1-E15%
menghasilkan daya dan torsi yang paling optimal dibandingkan campuran lainnya termasuk pertamax murni. Emisi gas CO2 rata-rata mengalami peningkatan dibanding dengan
menggunakan bahan bakar pertamax murni, campuran terbaik pada sampel P1-E10%. Sedangkan Emisi gas CO cenderung mengalami penurunan seiring dengan penambahan
campuran etanol. Kandungan gas CO terbaik pada sampel P2 dengan nilai oktan 92, campuran terbaik pada sampel P1-10% tetapi gas CO yang terkandung masih di bawah sampel P2.
Campuran sampel P1-E15% memiliki daya dan torsi paling optimal, tetapi bukan yang terbaik pada emisi gas buang, namun emisi gas buang yang keluar masih bisa dikatakan baik.

Published
2020-08-17