Fenomena Kejadian Kehamilan Berisiko Berdasarkan Faktor Layanan Kesehatan dan Pendampingan Suami
DOI:
https://doi.org/10.15294/higeia.v9i2.21745Keywords:
Kehamilan berisiko, Layanan kesehatan, pendampingan suamiAbstract
Pada tahun 2023, kejadian kehamilan berisiko di Indonesia mengalami kenaikan menjadi 23,5% yang sebelumnya 22,4% pada tahun 2020, yang mencakup usia hamil tidak ideal (<18 tahun dan >34 tahun) serta memiliki anak >3. Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan fenomena kejadian kehamilan berisiko berdasarkan faktor layanan kesehatan dan pendampingan suami. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional dan menggunakan pendekatan persebaran kejadian melalui pemetaan. Sampel didapatkan sebanyak 21.171 responden dari survei Kemenkes RI dengan pembobotan secara proportional to size dalam SKI 2023. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2024-Januari 2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Data dianalisis dengan analisis univariat dan analisis pemetaan secara overlay menggunakan software QGIS. Hasil analisis menggambarkan bahwa kejadian kehamilan berisiko ditemukan sebanyak 9.747 kejadian hamil berisiko yang mayoritas terdapat di Pulau Jawa, Pulau Sulawesi, dan Pulau Nusa Tenggara. Angka kejadian kehamilan berisiko tertinggi ditemukan pada Provinsi Jawa Tengah sebanyak 940 kejadian (IR 4,44%).