Faktor Risiko Perilaku yang Berhubungan dengan Tuberkulosis Paru di Kabupaten Teluk Bintuni
DOI:
https://doi.org/10.15294/ijphn.v5i2.36663Keywords:
Perilaku Kesehatan , Tuberkolosis Paru , Kontak Sosial , Mengunyah PinangAbstract
Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat dengan beban tinggi di Indonesia. Selain dipengaruhi faktor lingkungan dan sosial ekonomi, perilaku individu turut berperan dalam penularan dan perkembangan TB.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan menganalisis prediktor perilaku yang berhubungan dengan kejadian TB paru di Kabupaten Teluk Bintuni.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan 210 responden yang dipilih melalui random sampling dari 16 puskesmas pada Maret–April 2025. Data diperoleh melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner. Analisis meliputi uji Chi-square untuk hubungan bivariat dan regresi logistik untuk menentukan prediktor dominan pada tingkat signifikansi 95%.
Hasil: Prevalensi TB paru adalah 43,8%. Perilaku responden meliputi riwayat kontak serumah (39,5%), kontak sosial (28,1%), kebiasaan mengunyah pinang (62,9%), tidur tidak teratur (35,2%), meludah sembarangan (63,8%), dan tidak membuka jendela secara rutin (69%). Kontak sosial (p=0,015) dan mengunyah pinang (p=0,049) berhubungan signifikan dengan kejadian TB paru. Analisis multivariat menunjukkan kontak sosial sebagai prediktor paling dominan (p=0,019; OR=0,454; 95% CI: 0,235–0,878).
Kesimpulan: Kontak sosial dan kebiasaan mengunyah pinang merupakan prediktor perilaku signifikan terhadap kejadian TB paru, dengan kontak sosial sebagai faktor paling dominan. Intervensi pencegahan perlu difokuskan pada edukasi perubahan perilaku, pengurangan kebiasaan berisiko, serta penguatan deteksi dini melalui surveilans pada kelompok dengan interaksi sosial tinggi.