Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Ditinjau dari Adversity Quotient pada Challenge Based Learning Terintegrasi STEM

Authors

  • Arum Dinasari Universitas Negeri Semarang Author
  • Prof. Dr. Zaenuri, M.Si., Akt. Universitas Negeri Semarang Author
  • Dr. Kristina Wijayanti, M.S. Universitas Negeri Semarang Author

DOI:

https://doi.org/10.15294/ujmer.v1i1.25794

Keywords:

Adversity Quotient, Challenge Based Learning, Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis, STEM

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas pembelajaran dengan model Challenge Based Learning (CBL) terintegrasi STEM terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, dan mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa ditinjau dari Adversity Quotient (AQ). Penelitian kombinasi (mixed methods) ini menggunakan metode sequential explanatoty, melalui penelitian kuantitatif diperoleh data kemampuan pemecahan masalah matematis dan pada penelitian kualitatif diperoleh data deskripsi kemampuan pemecahan masalah ditinjau dari AQ. Pengumpulan data dilakukan melalui tes kemampuan pemecahan masalah matematis, observasi, dan wawancara. Penelitian dilakukan di SMP Ky Ageng Giri tahun ajaran 2023/2024 dengan sampel kelas VIII B sebagai kelompok eksperimen dan VIII D sebagai kelompok kontrol. Data yang diperoleh dianalisis melalui uji parametrik dan dideksripsikan untuk ditinjau dari AQ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model CBL terintegrasi STEM berkualitas dengan rincian perangkat pembelajaran berkategori valid, pelaksanaan pembelajaran berkategori sangat baik, dan pembelajaran Challenge Based Learning terintegrasi STEM efektif terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Lebih lanjut, analisis berdasarkan AQ menunjukkan perbedaan kemampuan yang signifikan dalam proses pemecahan masalah. Siswa climber menunjukkan penguasaan yang sangat baik dalam seluruh tahapan pemecahan masalah, mulai dari memahami masalah, perencanaan solusi, pelaksanaan penyelesaian, hingga pemeriksaan ulang hasil. Siswa camper mampu memahami masalah dan perencanaan dengan baik serta penyelesaian masalah yang cukup memadai, meskipun masih kurang optimal dalam tahap pemeriksaan kembali. Sementara itu, siswa quitter hanya mampu memahami masalah dengan cukup baik, namun mengalami kesulitan dalam tahap perencanaan, pelaksanaan penyelesaian, dan pemeriksaan kembali solusi yang telah dibuat.

Downloads

Published

2026-08-11

Article ID

25794