Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Ditinjau dari Adversity Quotient pada Challenge Based Learning Terintegrasi STEM
DOI:
https://doi.org/10.15294/ujmer.v1i1.25794Keywords:
Adversity Quotient, Challenge Based Learning, Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis, STEMAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas pembelajaran dengan model Challenge Based Learning (CBL) terintegrasi STEM terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, dan mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa ditinjau dari Adversity Quotient (AQ). Penelitian kombinasi (mixed methods) ini menggunakan metode sequential explanatoty, melalui penelitian kuantitatif diperoleh data kemampuan pemecahan masalah matematis dan pada penelitian kualitatif diperoleh data deskripsi kemampuan pemecahan masalah ditinjau dari AQ. Pengumpulan data dilakukan melalui tes kemampuan pemecahan masalah matematis, observasi, dan wawancara. Penelitian dilakukan di SMP Ky Ageng Giri tahun ajaran 2023/2024 dengan sampel kelas VIII B sebagai kelompok eksperimen dan VIII D sebagai kelompok kontrol. Data yang diperoleh dianalisis melalui uji parametrik dan dideksripsikan untuk ditinjau dari AQ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model CBL terintegrasi STEM berkualitas dengan rincian perangkat pembelajaran berkategori valid, pelaksanaan pembelajaran berkategori sangat baik, dan pembelajaran Challenge Based Learning terintegrasi STEM efektif terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Lebih lanjut, analisis berdasarkan AQ menunjukkan perbedaan kemampuan yang signifikan dalam proses pemecahan masalah. Siswa climber menunjukkan penguasaan yang sangat baik dalam seluruh tahapan pemecahan masalah, mulai dari memahami masalah, perencanaan solusi, pelaksanaan penyelesaian, hingga pemeriksaan ulang hasil. Siswa camper mampu memahami masalah dan perencanaan dengan baik serta penyelesaian masalah yang cukup memadai, meskipun masih kurang optimal dalam tahap pemeriksaan kembali. Sementara itu, siswa quitter hanya mampu memahami masalah dengan cukup baik, namun mengalami kesulitan dalam tahap perencanaan, pelaksanaan penyelesaian, dan pemeriksaan kembali solusi yang telah dibuat.