Perwujudan Estetis Seni Ornamen Masjid Peninggalan Walisanga di Jawa Tengah

Supatmo Supatmo

Abstract


Kebudayaan berkembang dalam masyarakat melalui tiga fakta perwujudan, yaitu fakta mental, fakta sosial, fakta fisik. Perwujudan budaya sebagai fakta mental berupa kompleksitas gagasan; perwujudan budaya sebagai fakta sosial berupa perilaku berpola; sedangkan perwujudan budaya sebagai fakta fisik berupa benda-benda hasil karya manusia (artifact). Artifact peninggalan Walisanga yang berupa bangunan masjid, tersebar di sepanjang pesisir utara. Di Jawa Tengah terdapat masjid bersejarah peninggalan Walisanga, seperti Masjid Agung Demak, Masjid Sunan Kalijaga di Kadilangu, Masjid Menara Kudus, dan Masjid Sunan Muria. Tiga di antara masjid-masjid tersebut dijadikan obyek penelitian ini kecuali Masjid Agung Demak. Dalam perspektif budaya, keberadaan bangunan masjid beserta elemen estetis seni ornamennya bukan sekadar persoalan perbentukan atau struktur fisik, namun merupakan manifestasi nilai budaya. Di dalamnya terkandung gagasan ideal yang bersumber dari sistem nilai, sekaligus sebagai pengejawantahan identitas dan corak peradaban masyarakat pendukungnya. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh penjelasan dan pemahaman tentang gejala-gejala atau fenomena perwujudan estetis tradisi seni ornamen masjid peninggalan Walisanga di Jawa Tengah. Perwujudan estetis tersebut diasumsikan sebagai manifestasi gagasan ideal tentang multikultur yang dihayati dan diaktualisasi oleh masyarakat pendukung dalam kehidupan sehari-hari. Pada kondisi demikian terjadi perpaduan nilai dan tradisi budaya Islam dengan budaya pra-Islam tanpa menghilangkan karakteristik masingmasing. Penelitian ini menggunakan pendekatan ikonografis Panofsky dengan 3 tahapan analisis, yakni deskripsi preiconographical; analisis iconographical; dan interpretasi iconology. Penelitian ini menemukan adanya fenomena keragaman wujud estetis berupa perpaduan dan kesinambungan tradisi ornamen pra-Islam dengan tradisi Islam pada ornamen masjid peninggalan Walisanga (Masjid Menara Kudus, Masjid Sunan Kalijaga, dan Masjid Sunan Muria). Fenomena estetis seni hias (ornamen) tersebut merupakan manifestasi nilai multikultural yang dihayati dan dijalani oleh masyarakat pendukungnya.

Keywords


ornamen, estetis, motif, Walisanga

Full Text:

PDF

References


Al-Faruqi, Ismail R. dan Lamya Lois-alFaruqi.1992. The Cultural Atlas of Islam, alih Bahasa Malaysia: Othman, Ridzuan, et al. 1992. Atlas Budaya Islam. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.

Ambary, Hasan Muarif. 1998. Menemukan Peradaban Jejak Arkheologis & Historis Islam Indonesia. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Azra, Azyumardi. 2007. Identitas dan Krisis Budaya, Membangun Multikulturalisme Indonesia (dalam

http://www.kongresbud. budpar. go.id/ 58%20 ayyumardi%20azra.htm).

Endraswara, Suwardi. 2003. Mistik Kejawen. Yogyakarta: Penerbit Narasi.

Gustami, SP. 1997. Industri Seni Kerajinan Ukir Jepara, Kelangsungan dan Perubahannya, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Yogyakarta: tidak diterbitkan.

Hariani-Santiko. 1995. Seni Bangun Sakral Masa Hindu-Budha di Indonesia (Abad VIII-XV Masehi): Analisis Arsitektural dan Makna Simbolik, Pidato Pengukuhan Guru Besar Madya Tetap, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Jakarta: tidak diterbitkan.

Koentjaraningrat. 1977. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.

Lombard, Dennys. 2000. Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid 1: Batas-batas Pembaratan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Miksic, John. 2002. Arsitektur Periode Awal Islam dalam Indonesian Heritage Volume Arsitektur. Jakarta: Grolier International.

Mulder, Neils. 2001. Mistisisme Jawa. Yogyakarta: LKIS.

_____________ 1996. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. Jakarta: Sinar Harapan.

Purwadi. 2004. Tasawuf Jawa. Yogyakarta: Narasi.

Salam, Solichin. 1986. Seputar Walisanga. Kudus: Menara Kudus.

Soekiman, Djoko. 2000. Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa.Yogyakarta:

Bentang.

Sunaryo, Aryo. 2009. Ornamen Nusantara. Semarang: Dahara Press.

Susanti-Sahar, B. M.1999. Dimensi Renovasi Mesjid Menara Kudus Tahun 1919 1978: Kajian Aspek Historis Tesis Fakultas Ilmu Budaya. Yogyakarta: tidak diterbitkan.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.