KINERJA PELAYANAN BUS KOTA DI KOTA SEMARANG

Asniati Sulaiman

Abstract


The study of performance modes of public transport buses and buses are standard in the city of Semarang can be described as follows: Accessibility bus route network reaches a good city, but there are two districts which include areas of land up for settlement of Tembalang Pedurungan and residential land is not all underserved . Travel speed average is sufficient, even bigger than the standard World Bank 10-12 km / hour. Frequency 50% of the surveyed 90% and a standard bus and Headway for buses is routes, passenger load factor greater than the value of 0.70. Utilization (Km-kendaraan/hari), 80% of the routes under study are the standard World Bank 230-260 km / day, or standard DLLAJR 200 Km / day. Government set tariffs City USD 600, - the average per-passenger or Rp.50, - per pnp-km, is already feasible, because according to the calculation of tariffs without profit operator for all the routes studied Rp.814, - the average per - passengers or Rp.108, - per pnp-km for the standard bus, and for the bus was Rp.315, - the average per passenger or Rp.40, - per pnp-km, which could theoretically known that for the standard bus users already enjoy a subsidy. When entering the value of time, then the standard bus fare to be Rp.940, - the average per passenger or Rp.125, - per pnp-km. As for the bus was Rp.596, - the average per passenger or Rp.77, - / pnp-km. These calculations with the assumption of 75% operating rate for the standard bus and the bus was 90%, with a payback period of 5 (five) years.

Hasil penelitian kinerja angkutan umum moda bis standard dan bis sedang di kota Semarang dapat digambarkan sebagai berikut : Aksesibilitas mencapai jaringan trayek bis kota cukup baik, namun ada dua kecamatan yang termasuk daerah terbangun untuk lahan pemukiman yaitu Pedurungan dan Tembalang belum semua lahan pemukiman terlayani. Kecepatan perjalanan rata-rata sudah cukup memadai, bahkan lebih besar dari standar World Bank 10-12 Km/Jam. Frekwensi dan headway untuk bus sedang 90 % dan bus standard 50 % dari rute yang diteliti, faktor muat penumpang lebih besar dari nilai tengah 0.70. Utilisasi (Km-kendaraan/hari), 80 % dari rute yang diteliti sudah sesuai standar World Bank 230-260 Km/hari, maupun standar DLLAJR 200 Km/hari. Tarif yang ditetapkan Pemerintah Kota Rp 600,- rata-rata per penumpang atau Rp.50,- per pnp-km, sebenarnya sudah layak, karena menurut perhitungan tarif tanpa keuntungan operator untuk semua rute yang diteliti Rp.814,- rata-rata per penumpang atau Rp.108,- per pnp-km untuk bis standar, dan untuk bis sedang Rp.315,- rata-rata per penumpang atau Rp.40,- per pnp-km, sehingga secara teoritis bisa diketahui bahwa untuk bis standar pengguna sudah menikmati subsidi. Bila memasukkan nilai waktu, maka tarif bis standard menjadi Rp.940,- rata-rata per penumpang atau Rp.125,- per pnp-km. Sedangkan untuk bis sedang Rp.596,- rata-rata per penumpang atau Rp.77,- / pnp-km. Perhitungan tersebut dengan asumsi tingkat operasi 75 % untuk bis standar dan 90 % bis sedang, dengan masa pengembalian modal 5 (lima) tahun.


Keywords


performance of transport services; frequency optimization; accessibility; tariffs; kinerja pelayanan angkutan; optimasi frekwensi; aksesibilitas; tarif

Full Text:

PDF

References


Armstrong A, Wright, 1986. Uban Transit Systems. Washington: Technical Paper No.52,

Box Paul C and Oppenlander Joseph C., 1996. Manual of Traffic Engineering Studies. Arlington: Fourth Edition, Institut of Transportation Engineers.

Ditjen Bina Marga, 1997. Manual Kapasitas Jalan Indonesia No.036/T/BM, Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum.

Munawar A, dkk., 1998. Evaluasi Kinerja Angkutan Umum Perkotaan. Prosiding Simposium I, hal.B.11, Bandung: Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tamin, 1996. Perencanaan Transportasi. Bandung: Institut Teknologi Bandung (ITB).

Vuchic VR, 1991. Urban Public Transportation System and Technology. New Jersey: Prentice-Hall Inc.

Widodo S, 1998. Studi Sensitivitas Menggunakan Bus Line Model Untuk Optimasi Frekwensi Layanan Dan Ukuran Bus. Bandung: Prosiding Simposium I, hal.B.9, Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi, Institut Teknologi Bandung (ITB).




DOI: https://doi.org/10.15294/jtsp.v11i1.6966

Refbacks

  • There are currently no refbacks.