UPAYA PENGELOLAAN LAHAN BANGUNAN PADA BANTARAN SUNGAI BERBASIS LINGKUNGAN DI KABUPATEN SLEMAN DIY

Hestin Mulyandari

Abstract


Sleman district have many good lands for investment, cause price of land would be raised, so that people look for the area increasingly. Eventually affect the increase land using in flood plains area in Sleman district as a reason of cheap land. From various studies that have been done, which flooding occurs in areas prone basically due to three factors, namely: human activities, natural events and environmental degradation. This study aims to direct the management of flood plains area better. This research was conducted by exploration to find using river bank and evaluate policy and control mechanisms in the areas of space utilization riverbanks in Sleman district. the case study of river are: Boyong-Code river, Winongo river, and Gadjah Wong river. Generally, the drainage concept of the three rivers are still referring to the concept of conventional drainage. The concept was interpreted as a run off water as soon as possible to the river and further downstream. Even the conventional drainage is often interpreted as an effort to drying area. The concept must be changed with the concept of environmentally friendly toward the drainage, for example run off water into a river naturally. It is therefore necessary to overcome the floods with the application of the concept: "one river one plan and one integrated management".

: Kabupaten Sleman merupakan lahan bagus untuk investasi lahan, mengakibatkan harga tanah di daerah tersebut semakin tinggi, sehingga masyarakat semakin mengincar daerah tersebut, akhirnya mempengaruhi peningkatan pemanfaatan lahan di daerah bantaran sungai di Kabupaten Sleman dengan alasan lahannya murah. Dari berbagai kajian yang telah dilakukan, banjir yang terjadi di daerah-daerah rawan banjir pada dasarnya disebabkan oleh tiga hal, yaitu: kegiatan manusia, peristiwa alam dan degradasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengarahkan pengelolaan lahan bangunan di daerah bantaran sungai untuk menjadi lebih baik.

Penelitian dilakukan dengan eksplorasi untuk menemukan profil pemanfaatan ruang bantaran sungai dan mengevaluasi kebijakan serta mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang oleh bangunan di daerah bantaran sungai di Kabupaten Sleman. Sungai yang menjadi studi kasus ini adalah: sungai Boyong-Code, sungai Winongo, dan Sungai Gadjah Wong. Pada umumnya konsep drainase di ketiga sungai tersebut masih mengacu pada konsep drainase konvensional. Konsep tersebut mengartikan drainasi sebagai upaya mengatuskan air secepat-cepatnya ke sungai dan selanjutnya ke hilir. Bahkan drainase konvensional sering diartikan sebagai upaya pengeringan kawasan. Konsep tersebut harus diubah dengan konsep menuju drainasi ramah lingkungan, yaitu upaya mengalirkan air kelebihan di suatu kawasan dengan jalan meresapkan air atau mengalirkan secara alamiah dan bertahap ke sungai. Oleh karena itu perlu penerapan mengatasi banjir dengan konsep: one river one plan and one integrated management.


Keywords


identify; land use; control; guideline; identifikasi; pemanfaatan lahan; kontrol; arahan

Full Text:

PDF

References


Anonim, 1993. Peraturan Menteri PU No. 63/PRT/1993 pasal 5 s/d 10 tentang Penetapan Garis Sempadan Sungai.

Anonim. 2007. Bapedal DIY.

Rapoport, 1990. System of Activities and System of Setting, Cambridge University, Cambridge.

Siswoko, 2007. Banjir, Masalah Banjir dan Upaya Mengatasinya. Makalah dalam Lokakarya Nasional Peringatan Hari Air Dunia ke-15.

Blog The Environmentalist, 27 Februari 2007.

rovicky.wordpress.com, 20 Maret 2008.




DOI: https://doi.org/10.15294/jtsp.v13i1.7061

Refbacks

  • There are currently no refbacks.