TIPOLOGI RUMAH SUSUN DI KOTA YOGYAKARTA

Hestin Mulyandari

Abstract


Yogyakarta city did not escape from the slums. Some ways of thinking to solve the problem, including the construction of flats, the residents are expected to have a more decent place to live as well as efforts to curb the city. This study aims to analyze the typology of the three flats in the Municipality of Yogyakarta, in order to know the advantages and disadvantages of physical, inconvenience users of flats, which will produce a number of recommendations to guide the planning and design of the new flats.Research carried out by using the Post Occupancy Evaluation (POE) in terms of physical control and functional frame.Physical aspects of the typology analysis of control: (1) control the climate, the average flats does not have adequate shading so it can not avoid the rain, (2) the problem of waste and storm sewers are clogged, causing a stench, (3) using tile metal roofing is not sandy so hot during the day for a stay on the top floor, and when the rain came a loud voice from the rain. Analysis of the functional frame (1) the average pattern of the building are single loaded, 2) in the towers have the same type, (3) the height of the floor for the towers Jogoyudan and Juminahan is 3 m, while the towers Cokrodirjan is 2.8 m. Efforts to add new towers to accommodate the people who still live on the banks of the river was still hazardous Code of cold lava.

Kota Yogyakarta tidak luput dari pemukiman kumuh. Rumah-rumah di sekitar bantaran Sungai Code saling berhumpitan. Dari sinilah mulai timbul cara memecahkan masalah tersebut, diantaranya adalah pembangunan rumah susun, yang diharapkan warga mempunyai tempat tinggal yang lebih layak sekaligus sebagai upaya penertiban kota. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tipologi terhadap tiga rusunawa di Kotamadya Yogyakarta, untuk dapat mengetahui keunggulan dan kelemahan fisik, ketidaknyamanan pengguna rusunawa, sehingga akan menghasilkan beberapa rekomendasi sebagai pedoman perencanaan dan perancangan rumah susun yang baru nantinya. Penelitian dilakukan dengan kajian Evaluasi Purna Huni (EPH) dari segi physical control dan functional framenya. Analisa tipologi dari aspek Physical control yaitu (1) kontrol terhadap iklim, rata-rata rusunawa tidak memiliki tritisan yang memadai sehingga tampias hujan; (2) masalah sampah dan saluran air kotor yang mampet, menimbulkan bau menyengat; (3) penutup atap menggunakan genteng metal yang tidak berpasir sehingga panas di siang hari untuk yang tinggal di lantai teratas, dan apabila hujan terdengar suara keras dari air hujan. Analisa dari functional frame (1) rata-rata pola bangunan single loaded; (2) dalam satu rusun memiliki besaran unit yang sama; (3) ketinggian lantai untuk rusun Juminahan dan Jogoyudan 3 m, sedangkan rusun Cokrodirjan 2,8 m. Upaya menambah rusun yang baru untuk mewadahi masyarakat yang masih tinggal di tepi sungai Code yang masih rawan bahaya lahar dingin.


Keywords


typology; flats; physical control; functional frame; Tipologi; rusunawa; physical control; functional frame

Full Text:

PDF

References


Moneo R., 1978. Opposition, MIT Press, Cambridge MA, p.22 45.

Peraturan walikota Yogyakarta nomor 17 tahun 2007 tentang RPJMD Kota Yogyakarta Tahun 2007-2011




DOI: https://doi.org/10.15294/jtsp.v14i2.7089

Refbacks

  • There are currently no refbacks.