SUNAT PEREMPUAN PADA MASYARAKAT BANJAR DI KOTA BANJARMASIN

Tutung Nurdiyana

Abstract

Tujuan artikel ini adalah untuk mendiskusikan khitan perempuan yang dikenal dengan female genital mutilation (FGM) pada masyarat Banjar dan bagaimana mereka menginterpretasikan khitan perempuan bagi kehidupan sosial mereka. Penelitian menggunakan metode etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada masyarakat Banjar khitan perempuan dilakukan dengan memotong atau menggores klitoris. Bagi masyarakat Banjar, khitan perempuan adalah perintah agama yang tabu dibicarakan. Tujuan khitan perempuan menurut mereka adalah untuk menyucikan si jabang bayi dan menjadikannya sebagai muslim. Disamping itu khitan perempuan juga dimaksudkan untuk menjaga kelangsungan fungsi reproduksi.


The purpose of this study is to describe the practice of female genital mutilation (FGM) in Banjarese society and the view of Banjarees society about it and how they interpret the female genital  mutilation for their social life. This research method used is ethnography. This research found that female genital mutilation executed to the infant under one year and the mutilation  method is done by cutting or scratching parts of the clitoris. For Banjarese  society, female genital mutilation is a tradition and religious command, a taboo issue that cannot be discussed and was thought  to have the objectives to clean the infants before entering the area of moslemhood as a moslem and as endeavour to protect the continuity of reproduction function.

Keywords

Female Genital Mutilation; Banjaries Society and Tradition.

Full Text:

PDF

References

Daud, A.1997. Islam dan Masyarakat Banjar: Deskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar. Jakarta: PT Grafindo Persada.

Erwan, W., 2003, ”Sunat Laki-laki dan Perempuan pada Masyarakat Jawa dan Madura: Antara Mitos Seksual dan Alasan Sosio-Religi” dalam Jawa Pos. 24 Mei 2003.

Geertz, C. 1960. Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.

____________. 1992. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisius.

Kleden, I. 1988. Paham Kebudayaan Clifford Geertz. Jakarta: LP3ES.

Kleden, I.1999. After the Fact Dua Negeri, Empat Dasawarsa, Satu Antropolog Clifford Geertz. Yogyakarta: LKIS.

Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

Meneg PP. 2006. Mitos-mitos Mendasari Sunat Perempuan, http://www.kesrepro.or.id, diakses tanggal 23 Maret 2006.

Meirik, O. 2010. Female genital mutilation and obstetric outcome: WHO collaborative prospective study in six African countries. Europe Pepmed Central. Vol 4 (1): 20-30.

Mesraini. 2003, ”Khitan Perempuan Antara Mitos dan Legitimasi Doktrinal KeIslaman” dalam Kompas. 13 Oktober 2003.

Mosse, J.C, 1996. Gender dan pembangunan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rahman, A., 2009. Female Genital Mutilation: A Practical Guide to Worldwide Laws & Policies. New York: Center for Reproductive Law & Policy.

Ritzer, G., dan Douglas J.G. 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.

Rukasita, S . 2003, ”Sering Dikencingi saat Mengkhitan dalam Pikiran Rakyat. 07 Juni 2003.

Spradley, P. J. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Sakti, Y. dkk, 2004, Sunat Anak Perempuan pada Masyarakat Urban Madura di Surabaya, Jurnal Penelitian Dinamika Sosial , Vol. 5, No. 1, Surabaya: Lembaga Penelitian Universitas Airlangga.

Subagya, R. 1981. Agama Asli Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan dan Yayasan Cipta Loka Caraka.

Walgito, B. 2003. Psikologi Sosial. Yogyakarta: Andi Offset.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.