TOLERANSI ANTAR PENGANUT NAHDHATUL ULAMA, MUHAMMADIYAH, DAN KRISTEN JAWA DI BATANG

Adistya Iqbal Irfani,, Moh. Yasir Alimi, Rini Iswari

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bentuk toleransi dan faktor pendorong dan faktor penghambat toleransi masyarakat Jawa dengan studi kasus di Dukuh Medono Kabupaten Batang. Di dukuh tersebut, penganut organisasi agama seperti NU, Muhammadiyah dan Kristen Jawa di Dukuh Medono saling hidup rukun. Metode penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa toleransi antar penganut NU, Muhammadiyah, Kristen Jawa tampak berbagai bentuk. Antara NU dan Kristen Jawa dalam bentuk partisipasi dalam ritual tahlilan, sedangkan antar ketiganya tampak dalam bentuk kerja bakti, saling membantu dalam acara hajatan, perkawinan campur dan saling berkunjung bila ada yang sakit. Faktor pendorong toleransi antara lain budaya toleransi yang sudah lama, pernikahan antar penganut yang berbeda, sosialisasi toleransi dalam keluarga, dan kepemimpinan desa yang menekankan pentingnya toleransi. Sedangkan faktor penghambat toleransi yaitu perbedaan pandangan antar penganut NU dan Muhammadiyah dalam pelaksanaan ibadah, pernikahan beda keyakinan, dan sikap menyinggung keyakinan diantara penganut yang ada.

The objective of this study is to explore forms of tolerance and the driving factor of religious tolerance in Dukuh Medono, Batang. In that village, the followers of NU, Muhammadiyah, and Kristen Jawa live peacefully and united in tolerance. The research method used here is a qualitative method with phenomenology approach. The result of the research shows that the tolerance between NU followers and Javanese Christians take the form of participation in tahlilan ritual. The tolerance between NU, Muhammadiyah followers, and Kristen Jawa followers are expressed through kerja bakti, mutual support in hajatan rituals, mixed marriage, visits to the sick, and social activities together. The factors which help to create tolerance include the culture of tolerance which exist in the village, marriages between religious followers, the socialization of tolerance within family, the socialization of tolerance within the society and the role of village administrative leaders. On the other hand, the factors which distract tolerance are different point of view between NU dan Muhammadiyah followers in some religious aspects, marriage between different religious followers, and the attitude of insulting others beliefs.

Keywords

tolerance, Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, Kristen Jawa

Full Text:

PDF

References

Alimi, M.Y. 2012. Catatan Editor: Kearifan Lokal untuk Hidup yang Lebih Baik. Jurnal Komuni¬tas.4(1)

Anderson, B. R. O’G. 2000. Mitologi dan Toleransi Orang Jawa. Yogyakarta : Qalam.

Cantor, David.2004. The religious right: The assault on tol¬erance & pluralism in America. New York: Anti- Defamation League.

Damami, M. 2002. Makna Agama Dalam Masyarakat Jawa. Yogyakarta : LESFI.

Faridah, I.F. 2009. ‘Toleransi Antar Umat Beragama dalam Mengembangkan Interaksi Sosial War¬ga Masyarakat Perumahan (Studi Kasus di Perumahan Penambongan Kecamatan Purbal¬ingga Kabupaten Purbalingga)’. Skripsi : Sema¬rang : FIS Unnes.

Gole, N. 2003. Contemporary Islamist movements and new sources for religious tolerance. Journal of Human Rights. 2 (1): 17-30.

Hilman, L. 2003. Toleransi dalam interdiskursus teks sastra. Sosial Humaniora. 7 (2): 100-115.

Habermas, Jürgen.2004. Religious Tolerance—The Pacemaker for Cultural Rights, Philosophy . Cam¬bridge: Cambridge University Press 2004

Ismail, A. 2010. Refleksi Pola Kerukunan Umat Be¬ragama (Fenomena Keagamaan di Jawa Ten¬gah, Bali, dan Kalimantan Barat). Jurnal Anali¬sa. 17(2) : 175-186

Jay, N. 1982. Foundations of religious tolerance,. Toronto: Toronto Uni Press

Jha, S. 2008. Trade, Institutions and Religious Toler¬ance: Evidence from India. Stanford University Graduate School of Business Research Paper No. 2004

Lubis, A. K. 2007. Islam dan Pluralisme Agama. http:// www.scribd.com/ doc/82968981/Islam-Dan- Plural-is-Me-Agama-2. (22 Jan. 2012).

Matervski, Z. 2007. Religious Dialogue And Toler¬ance – Theoretical And Practical Experiences Of Differences And Similarities. The Politics and Religion Journal. Issue 1.

Mahlmann, M. 2003. Religious Tolerance, Pluralist Soci¬ety and the Neutrality of the State: The Federal Con¬stitutional Court’s Decision in the Headscarf Case. Public Law. 10 (2): 202-212.

Muzaki. 2010. Partisipasi Tokoh Masyarakat dalam Toleransi Umat Beragama. Komunika. 4 (2): 296-313

Muchtar, B. 2012. Dalam Praktek, Masyarakat Indo¬nesia Tak Toleran. Jurnal Todupoli. Edisi Peb¬ruari 2012.

Puslitbang Kehidupan Beragama Kementrian Agama Republik Indonesia. 2006. ‘Toleransi dalam Pandangan Muslim Mayoritas di Pandeglang’. http://balitbangdiklat.kemenag.go.id/ (22 Jan. 2012).

Rachmawati, A. F. D. 2006. ‘Toleransi antar umat Is¬lam dan Katholik di Dukuh Kasaran, Desa Pa¬sungan, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten’. http://digilib.sunan-ampel.ac.id/index.php (22 Jan. 2012).

Randell-Moon, H. 2009. Tolerating Religious ‘Others’: Some Thoughts on Secular Neutrality and Reli¬gious Tolerance in Australia. Australian Religion Studies Review. 22 (3): 10-20.

Suseno, M. F. 2001. Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafi Tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: PT. Gramedia.

Subkhan, I. 2007. Hiruk Pikuk Wacana Pluralisme di Yo¬gyakarta. Yogyakarta : Kanisius.

Yusuf, A. A. 2002. Wawasan Islam. Bandung : Pustaka Setia.

Yonahan, F. 2003. Tolerance and Coercian in Islam: inter¬faith Relations in Muslim Tradition. Cambridge: Cambridge University Press.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.