PLURALITAS AGAMA DALAM KELUARGA JAWA

Agus Prasetyo

Abstract

Dalam masyarakat Jawa terdapat pemahaman dan pemaknaan sendiri terhadap agama yaitu ”agami ageming aji”. Artinya apa pun agama yang dipeluk sama saja karena semua agama mengajarkan keselamatan. Oleh sebab itu menjadi sebuah fenomena menarik di kalangan masyarakat Jawa karena mereka cenderung lebih toleran dalam menyikapi perbedaaan dan keragaman beragama. Salah satu contoh masyarakat yang menghargai pluralitas agama adalah masyarakat Desa Getas Kaloran Temanggung. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan tentang sejumlah keluarga yang dapat menerima pluralitas agama dan toleransi terhadap pluralitas agama dalam keluarga Jawa. Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subyek penelitian adalah masyarakat Desa Getas yang memiliki keragaman agama dalam keluarganya. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa masyarakat Desa Getas dapat menerima pluralitas agama karena menurut mereka agama adalah urusan pribadi seseorang jadi tidak ada pihak yang dapat memaksakan suatu keyakinan kepada individu lain. Pluralitas agama tersebut tidak menimbulkan masalah berarti karena masyarakat memiliki derajat toleransi yang tinggi antar anggota keluarga, yang ditunjukkan melalui saling menghargai dan mengormati dan tidak mencampuri urusan keagamaan orang lain, serta saling membantu antar anggota keluarga untuk memperlancar kegiatan ibadah masing – masing.

In Javanese community there is a specific principle on the meaning of religion, namely ”agami ageming aji”. This pilosophy means whatever religion people believe, it doesn’t matter because they all teach salvation. This is an interesting phenomenon among the Javanese community because they tend to be tolerant in dealing with differences and diversity of religion that happen in one household. The objective of this article is to discuss the practices of religious tolerance found in a rural community of Getas, Kaloran, Temanggung Central Java. Techniques of data collection is done by interviews and observation. The study subjects were villagers of Getas, which has a diversity of religion in families. Based on the research results, it can be concluded that the villagers embrace a tradition of religious pluralism because they think religion is one’s personal affairs so that no party can impose a conviction for another individual. The plurality of religion does not cause significant problems because the public has a high degree of tolerance among family members, which is demonstrated through mutual respect and attitude not to interfere in religious affairs of others, and mutual help among family members to facilitate the worship activities of their relatives.

Keywords

plurality, religion, getas community

Full Text:

PDF

References

Adnan, Z. 1990. State and Civil Society in Indonesia. Clayton, Victoria: Centre Southeast

Al-Qurtuby, S. 2001. Arus Cina-Islam-Jawa: bongkar seja¬rah atas peranan Tionghoa dalam penyebaran aga¬ma Islam di Nusantara abad XV & XVI. Salatiga: Inspeal Press.

Brata, N. 2010. Konflik Menurut Orang Jawa. Jurnal Komunitas.2(1):15-25

Damami, M. 2002. Makna Agama Dalam Masyarakat Jawa. Yogyakarta: LESFI

Dhofier, Z. 1980. The Pesantren Tradition: A Study of the Role of the Kyai in the Maintenance of the Tradi¬tional Ideology of Islam in Java. Canberra: Aus¬tralian National University

Fox, J. 1991. Ziarah Visits to the Tombs of the Wali, the Founders of Islam on Java. Canberra: Australian National University

Geertz, C. 1971. Islam observed: Religious development in Morocco and Indonesia. Chicago: University of Chicago Press.

Hefner, R.W. 1987. Islamizing Java? Religion and Politics in Rural East Java. The Journal of Asian Studies. 46 (3): 533-554

Hefner, R.W. 1987. The political economy of Islamic con¬version in modern East Java. Princeton: Princeton University Press.

Ibrahim, R. 2008. Pendidikan Multikultural: Upaya Meminimalisir Konflik dalam Era Pluralitas Agama. Universitas Islam Indonesia. Jurnal El Tarbawi (Jurnal Pendidikan Islam). 1 (1): 100- 110.

Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Ba¬lai Pustaka.

Ricklefs, M. 1991. Islam in the Indonesian social context. Monash: Monash Asia Institute.

Roibin.2008. Mitologi Religius dan Toleransi Orang Jawa. UIN Malang. Jurnal El Harakah. 10 (1): 10-20.

Saksono, W. 1995. Mengislamkan tanah Jawa: telaah atas metode dakwah Walisongo. Bandung: Mizan.

Tabik dan Sumiarti. 2008. ’Pluralisme Agama: Studi Tentang Kearifan Lokal di Desa Karangbenda Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap’. Jur¬nal Peneltian Agama.9(2):271-291.

Woodward, M. 1988. The” Slametan”: Textual Knowl¬edge and Ritual Performance in Central Java¬nese Islam. History of Religions. 28 (1), : 54-89

Woodward, M. 1989. Islam in Java: normative piety and mysticism in the Sultanate of Yogyakarta. Arizo¬na: University of Arizona Press.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.