SITUS “KOTO RAYO” DAN KEARIFAN TRADISIONAL DI TEPI SUNGAI TABIR JAMBI

Pahrudin -

Abstract

Dalam penelitian ini, penulis  membahas  ‘Koto Rayo’, sebuah pemukiman kuno di sisi Sungai Tabir, Jambi sebagai sebuah budaya dan kearifan lokal. Penelitian difokuskan pada nilai kearifan lokal yang dimiliki masyarakat dalam kaitan dengan situs ini. Hasil penelitian dan pembahasan memunculkan fakta-fakta sebagai berikut. Pulau Sumatera memiliki peradaban tinggi di masa lalu, khususnya melalui Kerajaan Sriwijaya yang mengontrol dan mendominasi seluruh pulau ini dan sebagian besar wilayah Asia Tenggara. Salah satu wilayah Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatera adalah Jambi, yang dahulu memiliki banyak Kerajaan Melayu. ‘Koto Rayo’ yang terletak di sisi Sungai Tabir ‘mungkin’ salah satu peradaban yang berhubungan dengan sejarah Kerajaan Melayu Jambi dan atau Kerajaan Sriwijaya di masa lalu. Situs ini mempengaruhi beberapa perilaku kearifan lokal pada masyarakat sekitar dalam wujud perilaku yang tegas dalam melestarikan lingkungan dan menjaga warisan budaya. Kearifan lokal ini penting untuk meminimalisir efek negatif globalisasi.


The objective of this study is to discuss ’Koto Rayo’, an ancient settlement on the side of Tabir river, Jambi as a culture and local wisdom. The study focused on the value of local knowledge in the communities in connection with this site. Data was collected through observation, interviews and document analysis. The results and discussion led to the following facts. The island of Sumatra has a high civilization in the past, particularly through the kingdom of Srivijaya that controls and dominates the entire island and most of the Southeast Asia region. One of the kingdom of Srivijaya in Sumatra is Jambi, which once had many Malay kingdom. ’Rayo Koto’ located on the side of Tabir river is ’probably’ one of civilization associated with the history of the Malay kingdom of Srivijaya kingdom of Jambi in the past. This site affects some local knowledge on the behavior of the surrounding community in the form of assertive behavior in preserving the environment and maintain the cultural heritage. This local knowledge is essential to minimize the negative effects of globalization.

Keywords

Civilization; Jambi; Koto Rayo Sumatra; Melayu.

Full Text:

PDF

References

Abercrombie, N. dkk. 2006. Kamus Sosiologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Agustrisno. 2004. Praktik-praktik Tradisional dan Konservasi. Jurnal Pemberdayaan Komunitas. 3 (1): 25-45.

Ibrahim, W. dan Nandang. 2011. Arsitektur Tradisional Kenali Salah Satu Kearifan Tradisional Lampung. Jurnal Rekayasa. 15 (1).

Jary, D. & Julia J. 1991. Collins Dictionary of Sociology. Glasgow: HarperCollins Publishers.

Johnson, D. P. 1988. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Locher-Scholten, E.B. 2002. “Berdirinya Kekuasaan Kolonial di Jambi: Partai Ganda Politik dan Ekonomi” dalam J. Thomas Lindblad (ed.), Fondasi Historis Ekonomi Indonesia. Yogyakarta: Pusat Studi Asia Tenggara Universitas Gadjah Mada-Pustaka Pelajar.

Muljana, S. 2008. Sriwijaya. Yogyakarta: LKiS.

Pattiselanno, F. dan Mentansan, G. 2010. Kearifan Tradisional Suku Maybrat dalam Perburuan Satwa Sebagai Penunjang Pelestarian Satwa. Makara, Sosial Humaniora. 14 (2): 85-100.

Ritzer, G. & Douglas J.G. 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.

Rochgiyanti. 2011. Fungsi Sungai Bagi Masyarakat Di Tepian Sungai Kuin Kota Banjarmasin. Jurnal Komunitas. 3 (1): 51-61.

Zakaria, Y.R. 1994. Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat. Jakarta: Penerbit Walhi.

www.wikipediaindonesia.com/kerajaan-melayu-jambi. Akses tanggal 5 Maret 2011.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.