FAKTOR STRUKTURAL DAN KULTURAL PENYEBAB KESENJANGAN SOSIAL: KASUS INDUSTRI BATIK PAMEKASAN MADURA

Oki Rahadianto Sutopo

Abstract

Abstrak
Secara teoretis, pembangunan ekonomi diandaikan akan menghasilkan pemerataan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Pasca ditetapkan sebagai sentra batik, yang terjadi di Kecamatan Proppo Pamekasan Madura justru sebaliknya, tingkat prasejahtera warga berdasarkan alasan ekonomi justru tertinggi di antara kecamatan yang lain. Dengan menggunakan metode kualitatif secara spesifik dengan teknik wawancara mendalam dan observasi, sebagai studi awal analisis dalam artikel ini akan menjelaskan mengenai faktor struktural, kultural serta proses reproduksi sosial yang menyebabkan kesenjangan sosial tersebut. Reproduksi struktur sosial yang timpang menyebabkan distribusi kuasa juga tidak merata, menciptakan relasi dominasi subordinasi dan pada prosesnya akses juga tidak merata. Struktur sosial yang timpang ini diperkuat dengan kultur patriarkhis yang semakin meneguhkan kesenjangan sosial.

Abstract
Theoretically, economic development will create equality of wealth distribution to people. This is not the case in Proppo disctrict Pamekasan Madura after being declared as one of Batik centre, Proppo has the highest rate of disadvantaged people compared to other districts. Using qualitative method, specifically in-depth interview and observation, this article explains the structural, cultural factors as well as the process of social reproduction that resulted in social inequality in Proppo district. This article concludes that the reproduction of unequal social structure results in unequal power distribution, dominant-subordinant relation and also unequality of access.This unequal social structure is also reinforced by patriarchalculture which later strengthened social inequality.
2013 Universitas Negeri Semarang

Keywords

batik; culture; inequality; structure; social reproduction

Full Text:

PDF

References

Aini, N. 2010. Analisa Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Industri Batik Madura di Pamekasan. Skripsi. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang.

Berger, P.l and Thomas L. 1966. The Social Construction of Reality. USA: Basic Books.

Bourdieu and Wacquant. 1992. Invitation to Reflexive Sociology. England: Polity

Bourdieu, P. 1998. Outline of Theory of Practice. England: Cambridge.

Mansurnoor, L. 1992. Local Initiatives and Government Plans in Madura. Journal of Southeast Asian Issues. 7 (1): 69-94.

Mills, C.W. 1956. The Power Elite. USA: Oxford.

Mills, C. W. 1962. The Marxist. USA: Del publishing.

Pamekasan dalam angka. 2011. Badan Pusat Statistik. Kabupaten Madura.

Ritzer, G. 2007. Modern Sociological Theory. USA: McGrawhill.

Ritzer, G. 2010. Classical Sociological Theory. USA: McGrawhill.

Saputro, E. 2008. Kiai Langgar dan Klebun: Sebuah Studi tentang Kontestasi Makelar Budaya. Tesis. Pascasarjana CRCS- UGM. Yogyakarta.

Scwartz, D. 1997. Culture and Power. USA: Chicago Press.

Sutopo, O.R. 2012. Relevansi Integrasi Paradigma Melalui Level Analisis dari George Ritzer Terhadap Penggunaan Mixed Methods. Jurnal Universitas Paramadina. 9 (1): 318-328.

Sutopo, O.R. 2012. Biaya-Biaya Manusia dalam Era Neoliberal: Sebuah Imperatif. Jurnal Pemikiran Sosiologi. 1 (1): 30-43.

Wirutomo, P. 2011. Social Development Policies on Informal Sector in Solo. Bisnis dan Birokrasi: Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi. 18 (2): 94-107.

Zamroni, I. 2012. Dinamika Elite Lokal Madura. Jurnal Sosiologi Masyarakat. 17 (1): 23-48

Refbacks

  • There are currently no refbacks.