BANYUMAS 1571-1937

Sugeng Priyadi

Abstract

Banyumas was not a village which grew to become a city, but built directly into a city in the sixteenth century by Adipati (regent) Mrapat. Banyumas as a new center of power was the binary opposition of the toponym Toyareka after its moving from Wirasaba. Back then, Banyumas was inhabited merely by its regents until the beginning of eigthteenth century. The center was then moved again reastward to what it currently known as the old Banyumas and remained there until 1937. The Regent Sudjiman Mertadiredja Gandasubrata then moved the capital of both Banyumas Residency and Regency to Purwokerto, leaving Banyumas - once the biggest city in the residency, just as a capital of a kawedanan or kecamatan (municipality).

 

Banyumas bukanlah sebuah desa yang tumbuh menjadi kota, namun dibangun langsung ke sebuah kota pada abad keenam belas oleh Adapati (bupati) Mrapat. Banyumas sebagai pusat kekuatan baru adalah oposisi biner toponim Toyareka setelah pindah dari Wirasaba. Saat itu, Banyumas hanya dihuni oleh bupati sampai awal abad ke-19. Pusat itu kemudian dipindahkan kembali ke tempat yang sekarang dikenal sebagai Banyumas tua dan tetap di sana sampai tahun 1937. Bupati Sudjiman Mertadiredja Gandasubrata kemudian memindahkan ibu kota Karesidenan dan Kabupaten Banyumas ke Purwokerto, meninggalkan Banyumas - yang pernah menjadi kota terbesar di kediaman , sama seperti ibu kota kawedanan atau kecamatan (kotamadya).

 

Keywords

Banyumas, history, residency

Full Text:

PDF

References

Adrisijanti, Inajati. 2000. Arkeologi Perkotaan Mataram Islam. Yogyakarta: Jendela.

Brotodiredjo, R. M. S. dan Ngatidjo Darmosuwondo. 1969. Inti Silsilah dan Sedjarah Banjumas. Bogor: tanpa penerbit.

Carey, Peter. 1986a. Asal-usul Perang Jawa: Pemberontakan Sepoy & Lukisan Raden Saleh. Jakarta: Pustaka Azet.

Carey, Peter. 1986b. Orang Jawa & Masyarakat Cina (1755-1825). Jakarta: Pustaka Azet.

Carey, Peter. 2012a. Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855, Jilid 1. Jakarta: KPG.

Carey, Peter. 2012b. Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855, Jilid 3. Jakarta: KPG.

Djajadiningrat, Hoesein. 1983. Tinjauan Kritis tentang Sajarah Banten: Sumbangan bagi Pengenalan Sifat-sifat Penulisan Sejarah Jawa. Jakarta: Djambatan.

Gandasubrata, Ratmini Soedjatmoko. 2009. Sebuah Pendopo di Lembah Serayu: Kisah Keluarga Bupati Banyumas Jaka Kahiman hingga Gandasubrata. Jakarta: tanpa penerbit.

van Groenendael, Victoria M. Clara. 1987. Dalang di Balik Wayang. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

de Graaf, H. J. 1985. Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati. Jakarta: Grafitipers.

de Graaf, H. J. 1986. Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung. Jakarta: Pustaka Grafitipers.

de Graaf, H. J. 1987a. Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat. Jakarta: Pustaka Grafitipers.

de Graaf, H. J. 1987b. Runtuhnya Istana Mataram. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

de Graaf, H. J. 1989. Terbunuhnya Kapten Tack: Kemelut di Kartasura Abad XVII. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

de Graaf, H. J. & Th. G. Th. Pigeaud. 1985. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa: Perlihan dari Majapahit ke Mataram. Jakarta: Grafitipers.

Hendro G., Eko Punto. 2001. Kraton Yogyakarta dalam Balutan Hindu. Semarang: Bendera.

Ismail, Ibnu Qoyim. 1997. Kiai Penghulu Jawa: Peranannya di Masa Kolonial. Jakarta: Gema Insani Press.

Kartodirdjo, Sartono. 1982. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia: Suatu Alternatif. Jakarta: Gramedia.

Kasdi, Aminuddin. 2003. Perlawanan Penguasa Madura atas Hegemoni Jawa: Relasi Pusat-Daerah pada Periode Akhir Mataram (1726-1745). Yogyakarta: Jendela.

Knebel, J. 1900. “Babad Pasir, Volgens een Banjoemaasch Handschrift met vertaling,” Verhandelingen van het Koninklijk Bataviaasch Genootshap van Kunsten en Wetenschappen, deel LI: 1-155.

Knebel, J. 1901. “Babad Banjoemas, Volgens een Banjoemaasch Handschrift beschreven,” Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, deel XLIII: 397-443.

Koderi, M. 1991. Banyumas Wisata dan Budaya. Purwokerto: Metro Jaya.

Lal, P. 1994. Mahabarata. Jakarta: Pustaka Jaya.

Lombard, Denys. 2000. Nusa Jawa: Silang Budaya: Jaringan Asia. Jilid 2. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mardiwarsito, L. 1979. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Ende: Nusa Indah.

van der Meulen, W.J. 1988. Indonesia di Ambang Sejarah. Yogyakarta: Kanisius.

Munandar, Aris & Dharomy Danusubroto. 1958. Barata Juda Karna Tanding: Babak ke-9. Jogjakarta: Kedaulatan Rakjat.

Nitihardjo, Soeprapto. 2001. Sintesa Analogi Filsafat dalam Susastra Jawa: Andharan dan Tafsir Filsafat Ha Na Ca Ra Ka. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Olthof, W. L. 1941. Poenika Serat Babad Tanah Djawi wiwit saking Nabi Adam doemoegi ing Taoen 1647. ’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Pijper, G. F. 1984. Beberapa Studi tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950. Jakarta: UI-Press.

Prawiroatmojo, S. 1988. Bausastra Jawa-Indonesia, Jilid I. Jakarta: Haji Masagung.

Prawiroatmojo, S. 1989. Bausastra Jawa-Indonesia, Jilid II. Jakarta: Haji Masagung.

Priyadi, Sugeng. 2000. ”Fenomena Kebudayaan yang Tercermin dari Dialek Banyumasan,” dalam Humaniora, No. 1. Yogyakarta: Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada.

Priyadi, Sugeng. 2001a. “Adipati Mrapat Profil Altruistik,” Radar Banyumas, edisi 4 Februari.

Priyadi, Sugeng. 2001b. Tinjauan Ulang Hari Jadi Kabupaten Banyumas. Yogyakarta: Kaliwangi Offset.

Priyadi, Sugeng. 2001c. Makna Pantangan Sabtu Pahing. Yogyakarta: Kaliwangi Offset.

Priyadi, Sugeng. 2002. Banyumas antara Jawa dan Sunda. Semarang: Mimbar.

Priyadi, Sugeng. 2010. ”Dinamika Sosial Budaya Banyumas dalam Babad Banyumas Versi Wirjaatmadjan: Suntingan Teks dan Terjemahan.” Disertasi. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

Priyadi, Sugeng. 2011a. Sejarah Tradisi Penjamasan Pusaka Kalisalak dan Kalibening (Banyumas). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Priyadi, Sugeng. 2011b. Sejarah Lokal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Remmelink, Willem G. J. 2002. Perang Cina dan Runtuhnya Negara Jawa 1725-1743. Yogyakarta: Jendela.

Ricklefs, M. C. 2002. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792: Sejarah Pembagian Jawa. Yogyakarta: Matabangsa.

Saleh, M. 1978. Mahabarata. Jakarta: Balai Pustaka.

Setyautama, Sem. 2008. Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia. Jakarta: KPG.

Slametmuljana. 2006. Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit). Yogyakarta: LKiS.

Soeratman, Darsiti. 1989. Kehidupan Dunia Kraton Surakarta (1830-1939). Yogyakarta: Tamansiswa.

Soetarno. 1984. Asal Mula Banyumas. Solo: Tiga Serangkai.

Sumadio dkk., Bambang. 1984. Sejarah Nasional Indonesia II: Jaman Kuna. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan-Balai Pustaka.

Suputro. 1959. Tegal dari Masa ke Masa. Djakarta: Bagian Bahasa, Djawatan Kebudayaan, Kementrian P. P. dan K.

Tjakraningrat. 1979. Kitab Primbon Attassadur Adammakna. Ngayogyakarta Hadiningrat: Soemodidjojo Maha Dewa.

Tjakraningrat. 1980. Kitab Primbon Betaljemur Adammakna. Ngayogyakarta Hadiningrat: Soemodidjojo Maha Dewa.

Werdoyo, T. S. 1990. Tan Jing Sing dari Kapiten Cina sampai Bupati Yogyakarta. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Zoetmulder, P. J. & S. O. Robson. 2000a. Kamus Jawa Kuna-Indonesia 1 (A-O). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Zoetmulder, P. J. & S. O. Robson. 2000b. Kamus Jawa Kuna-Indonesia 2 (P-Y). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.