MADURANISATION NATIVE GOVERNMENT BUREAUCRACY ELITE IN BESUKI RESIDENCY 1818-1942

Retno Winarni

Abstract

The purpose of this article is to discuss how the realization of maduranisation bureaucracy elite in Besuki Residency in 1818-1942. Maduranisation is a policy from the colonial government implicated by the elected candidate of regent. They are Madurese, although geographically, Besuki Resindence is located in East Java. This policy is implicated by argumentation and good political calculation. Besides, the elite communities in Madura are loyal to the Dutch government. They hope that they will have a good relation because the local governments execute the daily governance. On the other hand, the majority of government comes from Javanese. Consequently, the accumulation of power is failed because it is able to destroy the Dutch colonial government.

 

Artikel ini ditulis dengan tujuan untuk membahas tentang bagimana pelaksanaan maduranisasi elite birokrasi di Karesidenan Besuki dari 1818-1942.Maduranisasi adalah sebuah kebijakan dari pemerintah kolonial yang dilaksanakan melalui pemilihan bupati dari etnis Madura walaupun secara geografis Karesidenan Besuki terletak di Jawa Timur. Kebijakan ini dilakukan berdasarkan  argumentasi dan perhitungan politik yang baik bahwa elite Madura sangat loyal terhadap pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda berharap di satu pihak bupati dari etnis Madura akan menjadi partner yang baik, sebaliknya di pihak lain Pemerintah Hindia Belanda bisa memotong alur/keturunan dari penguasa lama (Blambangan).  Hasil dari kebijakan ini adalah, empat kabupaten di Karesidenan Besuki secara perlahan didominasi oleh elite Madura, terutama keturunan dari Pamekasan dan Sumenep, sementara keturunan dari penguasa Blambangan hanya memerintah sampai tahun 1889.

 

Keywords

Maduranisation, bureaucracy elite, regent, and Besuki

Full Text:

PDF

References

Ali, Fachry. 1986. Refleksi Faham Kekuasaan Jawa dalam Indonesia Modern. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.

Boomgaard, Peter and Gooszen, A.J. 1989. Changing Economy in Indonesia Vol. II: Population Trends 1795-1942. Amsterdam: Royal Tropical Institute.

Bottomore, T.B. 2006. Elite dan Masyarakat. Jakarta: Akbar Tanjung Institute.

Burger D.H.1962. Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia. Jakarta: Pradnya Paramita.

Elson, RE. 1994. Village Java Under The Cultivation System 1830-1870. Sydney: Allen and Unwin.

Epp, F. 1849. ”Banjoewangi”, TNI, 11e Jaargang, ii.

Gottschalk. 1975. Mengerti Sejarah: Pengantar Metode Sejarah. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia.

Guntur SR, E.M. 2007. Duplikat Silsilah Asal-Usul Raden Bagoes Assrah dengan Mas Nabehi Kertonegoro Ki Ronggo Bondowoso. Bondowoso: Tp.

Hageman, J.Cz. 1864. “De Adipati van Bezoeki op Java,1811-1818 Historisch Onderzoek.”TNI.

Hendrata, Lukas. 1983. “Bureaucracy, Participation and Distribution in Indonesian Development”. Prisma, 12(2): 21–32.

Kartodirdjo, Sartono, A. Sudewo & Suhardjo Hatmosuprobo. 1987. Perkembangan Peradaban Priyayi. Yogyakarta: Gadjah mada University Press.

Keller, Suzanne. Penguasa dan Kelompok Elite: Peranan Elite dalam Masyarakat Modern (terj. Zahara D.Noer). Jakarta: Rajawali Press.

Kuntowijoyo. 2002. Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura 1850-1940. Yogyakarta: Mata Bangsa.

Lombard, Denys.1996. Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia (jilid 2). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Margana, Sri. 2007. “Java’s Last Prontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan c.1763-1813,” Ph.D Thesis. Leiden: Leiden University.

Mashoed, H. 2004. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya: Papyrus.

Nawiyanto. 2001. “Perkembangan Transportasi di Daerah Pinggiran Jawa.” in Edy Sedyawati & Susanto Zuhdi (eds). Arung Samudra: Persembahan Memperingati Sembilan Windu A.B. Lapian. Depok: PPKB-Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.

Onderzoek naar de mindere welvaart der inlandsche bevolking op Java en Madoera IX C: overzicht van de uitkomsten der gewestekijke onderzoekingen naar de economie van de desa en daaruit gemaakte gevolgtrekkingen (Batavia: Kolff, 1911), Bijlage 2.

Ong Hok Ham. 2002. Dari Soal Priyayi Sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara. Jakarta: Kompas.

Partaningrat, Winarsih Arifin. 1995. Babad Blambangan. Yogyakarta: Bentang and Ecole Francraise d’Extreme-Orient.

Pusat Bahasa Depdiknas. 2002. Babad Basuki: Suntingan Teks dan Terjemahan, Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas.

Rickefs.M.C.1993. War, Culture and Economi in Java 1677-1776. Sidney: Allen and Unwin.

Soerjadi. 1974.”Sejarah Besuki” Bondowoso: tidak diterbitkan.

Staatsblad van Nederlansch Indie No 22, 1820

Staatsblad van Nederlansch Indie No 7 Tahun 1850.

Staatsblad 1883. “Resolutie van den Gouverneur Genderal in Rade van den 9den Mei 1820 no.6 waarbij gearresteerd wordt een reglement op de verpligtingen, rangen en titels der regenten.”

Sudjana, I Made. 2001. Nagari tawon madu: sejarah politik Blambangan abad XVIII. Denpasar: Pustaka Larasan

Sutherland, Heather. 1974. “Notes On Java’s Regent Families Part II.” Indonesia, No 17 (April) 1974.

Sutherland, Heather. 1975. “Priyayi.”Indonesia, No. 19 April 1975.

Sutherland, Heather 1983. Terbentuknya Sebuah Elite Birokrasi. Jakarta: Sinar Harapan.

Syafiie, Inu Kencana. 1994. Government System Indonesia ,Jakarta: PT Rineka Copyright.

Tjiptoatmodjo, F.A Sutjipto.1983.”Kota Kota Pantaii di Sekitar Selat Madura (Abad XVII Sampai Medio Abad XIX)”, Ph.D. Thesis UGM. Yogyakarta.

Veth, P.J. 1903. Java: Geographisch, Etnologisch, Historisch. Vol. III. Bon: Harlem.

Volkstelling. 1930. Vol III: Inhemse Bevolking van Oost Java. Batavia: Landsdrukkerij. 1934. Tabel I.

Wasino. 2007. Dari Riset hingga Tulisan Sejarah. Semarang: UNNES Press.

Wijayati, Putri Agus. 2001. Tanah dan Sistem Perpajakan Masa Kolonial Inggris. Jakarta: Tarawang.

Informan

Elizabeth, residents of Chinatown Besuki, 15 November 2009

Hari Yuswadi, 2 October 2009

Refbacks

  • There are currently no refbacks.