SULTAN ISKANDAR DJABIR SYAH: FROM MALINO CONFERENCE TO THE MINISTER OF INTERNAL AFFAIRS OF NEGARA INDONESIA TIMUR

Rustam Hasyim

Abstract

This study aims to reconstruct the political participation of Iskandar Djabir Syah (the 47thSultan of Ternate) in the establishment of the State of Eastern Indonesia. The results showed that: (1) the participation of Sultan of Ternate Iskandar Djabir Syah in the unitary state started in the early independence of the Republic of Indonesia; it was characterized by conducting Malino and Denpasar conferences in 1946. The establishment of the Eastern Indonesia State became the political inspiration for Iskandar Djabir Syah to involve as the senate member of the Eastern Indonesia State/NIT representing North Maluku, as well as one of its designers. (2) As one of the leaders who agreed to the idea of van Mook to form a federalist country in the Malino and Denpasar conference, so that when the Eastern Indonesia State was formed, he was appointed as the Minister of Internal Affairs in the cabinet of J.E. Tatengkeng for 1949 to 1950 periods. (3) Malino to Denpasar Conference in 1946 that was initiated by H.J. van Mook was the Dutch effort to establish the states in order to realize the United States of Indonesia (Republik Indonesia Serikat/RIS) based on Linggarjati Agreement. At the conference, it was formed the Eastern Indonesia State (Negara Indonesia Timur/NIT) covering the areas of Sulawesi, Small Sunda (Bali and Nusa Tenggara) and the Maluku Islands.

Fokus kajian ini menguraikan beberapa peristiwa politik yang melibatkan Iskandar Djabir Syah seperti konferensi Malino dan Denpasar hingga terpilih menjadi menteri dalam negeri Indonesia Timur pada periode 1949-1950. Hasil penelitian menunjukkan (1). Partisipasi Sultan Ternate Iskandar Djabir Syah dalam negara kesatuan dimulai sejak awal kemerdekaan Republik Indonesia, ditandai dengan diselengarakannya konperensi Malino dan Denpasar 1946. Terbentuknya Negara Indonesia Timur kemudian menjadi inspirasi politik bagi Iskandar Jabir Syah untuk melibatkan diri sebagai anggota senat NIT mewakili Maluku Utara, sekaligus merupakan salah satu disainernya. (2). Sebagai salah satu tokoh yang menyetujui gagasan van Mook untuk membentuk negera federalis dalam konperensi Malino dan Denpasar, sehingga ketika terbentuknya Negara Indonesia Timur diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri pada kabinet J.E. Tatengkeng periode 1949-1950. (3). Konferensi Malino hingga Denpasar pada tahun 1946 yang diprakarsai oleh H.J. van Mook merupakan upaya Belanda mendirikan negaranegara bagian dalam rangka mewujudkan Negara Indonesia Serikat (RIS) berdasarkan Persetujuan Lingarjati. Dalam konferensi tersebut dibentuklah Negara Indonesia Timur (NIT) meliputi wilayah Sulawesi, Sunda Kecil (Bali dan Nusa Tenggara) dan Kepulauan Maluku.

Keywords

Iskandar Djabir Syah, Political History, Malino and Denpasar Conferences.

Full Text:

PDF

References

Agung, Ide Anak Agung Gde. 1985. Negara Indonesia Timur ke Republik Indonesia Serikat. Yogyakarta: Gadjah Mada.

Amal, Adnan. 2007. Kepulauan Rempah-Rempah: PerjalananSejarah Maluku Utara 1250 1950. Jakarta: Gora Pustaka Indonesia.

Andaya, Leonard Y. 1993.The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period. Honolulu: University of Hawaii Press.

Bousoiri, Chasan. tt. Sekulimit Derita Satu Edisi Kehidupan Seorang Dokter, Jakarta: Anonymous.

de Clercq, F.S.A. 2007. Ternate:Karesidenan dan Kesultanan.Terjemahan Noer Fitriyanti dari,Bijdragen tot de kennis der Residentie Ternate, 1890. Ternate: Komunitas Uma Sania.

Djafaar, Irza Arnita. 2005. Dari Moloku Kie Raha Ke Negara Federal: Biografi Sultan Iskandar Muhammad Jabir Syah. Jakarta: Bio Pustaka.

Hasan, Abdul Hamid. 2000. Aroma Sejarah dan Budaya Ternate. Jakarta: PustakaUtama.

Indonesia Timoer, 24 January 1948.

Indonesia Timoer, 28 February 1948.

Indonesia Timoer, 24 May 1948.

Indonesia Timoer, 22 June 1948.

Indonesia Timoer, 18 & 22 December 1948.

Kahin, Audrey. 1990. Pergolakan Daerah Pada awal Kemerdekaan. Jakarta: Grafiti.

Katoppo, L. 1972. Perdjoangan Irian Kembali ke Dalam Wilayah RI. Bandung: KilatMadju.

Kutoyo, Sutrisno. 1978. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Maluku. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikandan Kebudayaan RI.

Lapian, A.B. 1980. Pengantar Memorie van Overgave J.H. Tobias (1857)-Memorie van Overgave C. Bosscher Residen Ternate (1859). Jakarta: ANRI.

Menara Merdeka, 12 December 1946.

Mononutu, Arnold. 1981. PotretSeorang Patriot. Jakarta: GunungAgung,.

Muhammad, Syahril. 2006. Kesultanan Ternate: Sejarah Sosial Ekonomi & Politik. Yogyakarta: Ombak.

Nachrawy, Herry RD. 2003. Peranan Ternate TidoreDalamPembebasanIrian Barat. Ternate: Yayasan Kie Raha.

Negara Baroe, 13 February 1947.

Negara Baroe, 4 March 1947.

Negara Baroe, 13-14 May 1947.

Negara Baroe, 23 June 1947.

Negara Baroe, 7 July 1947

Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (Eds.) 2008. SejarahNasional Indonesia VI. Jakarta: BalaiPustaka.

Schillers, Arthur A. 1989. The Formation of Federal Indonesia 1945-1949. Bandung.

Soeloeh Rakyat Makasar, 13 January 1949.

Soeloeh Rakyat Makasar, 19 Februay 1949.

Soeloeh Rakyat Makasar, 18 & 23 March 1949.

Soeloeh Rakyat Makasar, 30 May 1949.

Soeloeh Rakyat Makasar, 20 & 25 June 1949.

Soeloeh Rakyat Makasar, 25 & 30 July 1949.

Soeloeh Rakyat Makasar, 16 & 25 August 1949.

Soeloeh Rakyat Makasar, 19 September 1949.

Soeloeh Rakyat Makasar, 22 October 1949.

Soeloeh Rakyat Makasar, 10 & 22 November 1949.

Soeloeh Rakyat Makasar, 3 & 26 December1949.

Widjojo, Muridan. 2009. The Revolt of Prince Nuku: Cross Cultural Alliance Making in Maluku, c. 1780-1810. Leiden: Boston.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.