URGENSI DAN RELEVANSI PEMBELAJARAN SEJARAH MARITIM UNTUK WILAYAH PEDALAMAN

Tsabit Azinar Ahmad

Abstract

Maritime aspect is becoming a national priority. Nevertheless, its application in educational domain, especially in the history learning is still constrained. Therefore, the article focused to (1) analyze the urgency and relevance of the maritime history teaching in the history learning curriculum; (2) identify the problems and obstacles encountered in the implementation of maritime history teaching; (3) formulate ideas and strategies recommended in implementing the maritime history teaching in the inland areas that are not based maritime. Maritime history can not be separated from the overall national history, so its presence in the teaching of history becomes an inherent factor. However, learning maritime history will face cultural and pedagogical problems when delivered in areas do not pertain directly to the maritime aspect. Therefore, it needs contextualization strategies in learning of maritime history. First attempts to do is implement a linking and bridging strategies. Thus, the strengthening of maritime vision can be applied anywhere and contextual in a diverse cultural environment.

Aspek kemaritiman saat ini tengah menjadi isu nasional. Akan tetapi penerapannya dalam ranah pendidikan, khususnya pembelajaran sejarah masih terkendala. Oleh karena itu, tulisan fokus pada upaya untuk (1) menganalisis urgensi dan relevansi terhadap pembelajaran sejarah maritim dalam kurikulum mata pelajaran sejarah; (2) mengidentifikasi permasalahan dan kendala yang dihadapi dalam implementasi pembelajaran sejarah maritim; (3) merumuskan gagasan dan strategi yang direkomendasikan dalam menerapkan pembelajaran sejarah maritim di wilayah yang tidak berbasis maritim. Sejarah maritim tidak dapat dilepaskan dari sejarah nasional secara keseluruhan, sehingga keberadaannya dalam pembelajaran sejarah menjadi faktor yang me-lekat. Akan tetapi, pembelajaran sejarah maritim akan mengalami kendala ketika disampaikan pada wilayah-wilayah yang tidak bersinggungan langsung dengan aspek kemaritiman. Oleh karena itu, perlu ada strategi kontekstualisasi dalam pembelajaran sejarah maritim. Upaya pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan strategi linking dan bridging dalam pembelajaran sejarah. Dengan demikian, diharapkan penguatan visi maritim dapat dilakukan di manapun dan kontekstual dalam lingkungan budaya yang beraneka ragam.

Keywords

sejarah maritim, pembelajaran sejarah, wilayah pedalaman

Full Text:

PDF

References

Ahmad, Tsabit Azinar. 2013. Pembelajaran Sejarah berwawasan Lingkungan. Indonesian Journal of Conservation, 2(1): 74-83.

Asnan, Gusti. 2007. Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Braudel, Fernand. 1972. The Mediterranean and the Mediterranean World in the Age of Philip II. Volume I. Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Sian Reynolds. New York: Harper & Row.

Grant, S.G.. 2003. History Lessons: Teaching, Learning, and Testing in U.S. High School Classrooms. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.

Hamid. Abd Rahman 2015. Sejarah Maritim Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Haryanto, Nur Achmad. 2010. Kesadaran Masyarakat dan Siswa Sekolah Dasar terhadap Sejarah Maritim di Kabupaten Rembang. Skripsi. Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Semarang.

Hasan, Said Hamid. 2016. Pendidikan Sejarah Maritim. Makalah. Disampaikan pada Konferensi Nasional Sejarah (KNS) X di Jakarta 7-10 November 2016.

Kartodirdjo, Sartono. 2014. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 dari Emporium sampai Imperium. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Hlm. 10-12, 145.

Lapian, A.B. 1992. Sejarah Nusantara Sejarah Bahari. Pidato Pengukuhan. Diucapkan pada upacara penerimaan jabatan guru besar luar biasa Fakultas Sastra Univesitas Indonesia pada tanggal 4 Maret 1992.

Lapian, A.B. 2008. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara abad ke-16 dan 17. Depok: Komunitas Bambu.

Paine, Lincoln. 2013. The Sea and Civilization: A Maritime History of the World. New York: Alfred. A. Knopf.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah

Presiden Jokowi Deklarasikan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia. 2014. Diakses 1 Oktober 2016 dalam http://www.kemlu.go.id/id/berita/siaran-pers/Pages/Presiden-Jokowi-Deklarasikan-Indonesia-Sebagai-Poros-Maritim-Dunia.aspx.

Raharjo, Supratikno. 2002. Peradaban Jawa Dinamika Pranata Politik, Agama, dan Ekonomi Jawa Kuno. Depok: Komunitas Bambu. Hlm. 259.

Statistik Indonesia 2016. Jakarta: Diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik

Sulistiyono, Singgih Tri. 2009. Historiografi Maritim Indonesia: Prospek dan Tantangan. Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional Musyawarah Wilayah II DIY Jateng yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, 8 Mei 2009.

Sulistiyono, Singgih Tri. dkk. 2005. Model Sosialisasi dan Enkulturasi Nilai-Nilai Kebaharian untuk Memperkuat Integrasi Indonesia sebagai Negara Maritim melalui Pengajaran Sejarah dan Budaya Maritim Nusantara di Sekolah Dasar. Laporan Penelitian. Fakultas Sastra Universitas Diponegoro.

Supangat, Agus (Ed). 2003. Sejarah Maritim Indonesia: Menelusuri Jiwa Bahari Bangsa Indonesia dalam Proses Integrasi Bangsa. Jakarta: Diterbitkan Pusat Kajian Sejarah dan Budaya Maritim Asia Tenggara, Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro Semarang dan Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non Hayati Departemen Kelautan dan Perikanan.

Thohir, Mudjahirin. 1999. Wacana Masyarakat dan Kebudayaan Jawa Pesisiran. Semarang: Penerbit Bendera.

Utomo, Bambang Budi. 2014. Awal Perjalanan Sejarah menuju Negara Kepulauan. Dalam Dorothea Rosa Herliany, dkk (ed). Arus Balik Memori Rempah dan Bahari Nusantara Kolonial dan Poskolonial. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Hlm. 1-43

Wasino. 2005. Tanah, Desa, dan Penguasa: Sejarah Pemilikan dan Penguasaan Tanah di Pedesaan Jawa. Semarang: Unnes Press.

Zuhdi, Susanto. 2006. Laut, Sungai dan Perkembangan Peradaban: Dunia Maritim Asia Tenggara, Indonesia dan Metodologi Strukturis. Makalah. Disampaikan dalam Konferensi Nasional Sejarah VIII, Jakarta 14-16 November 2006.

Informan

Arifin Suryo Nugroho, M.Pd. Ketua Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto, kores-pondensi elektronik pada 9 September 2016.

Azizah Ariani, S.Pd.Gr., Guru IPS di SMK Mandiraja, Banjarnegara, korespondensi elektronik pada 9 September 2016.

Heni Purwono, M.Pd., Guru Sejarah SMA N 1 Sigaluh Banjarnegara sekaligus Ketua MGMP Sejarah Kabupaten Banjarnegara, korespondensi elektronik pada 9 September 2016.

Sri Utari, S.Pd, Guru Sejarah di SMA N 1 Banjarnegara, korespondensi elektronik pada 9 September 2016.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.