Corruption, Corruptors, Indonesia, and Pancasila: Various Current Views

Safa Agrita Hilsania(1),


(1) Universitas Negeri Semarang

Abstract

Corruption is one of the problems that is very difficult to overcome in Indonesia. Since the reign of President Sukarno, who was the first president of Indonesia, corruption has been happening so much that corruption in Indonesia is no longer a secret. When there is someone who is found to do corruption, many television stations and news preach everything about corruption that is happening. Because corruption in Indonesia is very common, this results in most people assuming that corruption is no longer a violation of the law, but as a habit. In addition, it also causes the corruptors, or someone who commits corruption, is not ashamed to commit a corruption act. In fact, they know that corruption is a criminal offence that violates the law and has the values of Pancasila. Because the law has not been able to prevent the corruptors not to commit acts of corruption, the enforcement of the values of Pancasila that has been ruled out needs to be reestablished, because besides being the basis of the country, Pancasila is also a state of ideology that has a source of anti-corruption values that will make people shy to commit corruption.

Keywords

Corruption; Pancasila; Current View

Full Text:

PDF

References

Nurdiaman, Aa. (2007). Pendidikan Kewarganegaraan: Kecakapan Berbangsa dan

Bernegara. Bandung: Penerbit Pribumi Mekar.

Kaelan. (2010). Pendidikan Pancasila. Yogyakarta : Paradigma.

Semma, Mansyur (2008). Negara dan Korupsi: Pemikiran Mochtar Lubis Atas Negara,

Manusia Indonesia, dan Perilaku Politik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Nasution, Adnan Buyung, Ahmad Syafii Maarif, Arif Aryman, Darlis Darwis, Edy Suandi

Hamid, Fathurrahman Djamil, Mar’ie Muhammad, Mohtar Mas’oed, M. Dawam Rahardjo, Romli Atmasasmita, Sjafri Sairin, Taufik Abdullah, dan Th. Sumartana. (1999). Menyingkap Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme di Indonesia. Yogyakarta: Aditya Media.

Surachmin dan Suhandi Cahaya. (2011). Strategi dan Teknik Korupsi. Jakarta: Sinar

Grafika.

Rianto, Bibit S., dan Nurlis E. Meuko. Koruptor Go to Hell!: Mengupas Anatomo Korupsi di

Indonesia. Jakarta Selatan: Penerbit Hikmah (PT Nizan Publika).

Taufik, Abdullah. (2015). Refleksi atas Revitalisasi Nilai Pancasila sebagai Ideologi dalam

Mengeleminasi Kejahatan Korupsi. Vol. 9 No. 1 Januari 2015, 49-55.

Waluyo, Bambang. (2014). Optimalisasi Pemberantasan Korupsi di Indonesia. Jurnal Yuridis,

(2),169-182.

Sanusi, M. Arsyad. (2009). Relasi antara Korupsi dan Kekuasaan. Jurnal Konstitusi, 6(2).

Kristiono, Natal, dan Indri Astuti. (2018). Politik Hukum Pemberantasan Korupsi. Seminar

Nasional Hukum Universitas Negeri Semarang, 4(3), 967-984.

Brata, Ida Bagus, dan Ida Bagus Nyoman Wartha. (2017). Lahirnya Pancasila sebagai

Pemersatu Bangsa Indonesia. Jurnal Santiaji Pendidikan, 7(1), 128-129.

Sulaiman. (2017). Membangun Moralitas Antikorupsi Pengemban Hukum Teoritis di Indonesia.

Tadulako Law Review, 2(1),43-57.

Suraji. (2008). Sejarah Panjang Korupsi di Indonesia dan Upaya Pemberantasannya. Jurnal

Kebijakan dan Administrasi Publik, 12(2).

Rahayu, Derita Prapti. (2015). Aktualisasi Pancasila Sebagai Landasan Politik Hukum

Indonesia. Jurnal Yustisia, 4(1), hal 199.

Yudistira. Aktualisasi dan Implementasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Menumbuh Kembangkan

Karakter Bangsa. Seminar Nasional Hukum, 2(1), 421-436.

BBCNews. (2017). Imbas Patrialis Akbar ditangkap KPK, MK bentuk Majelis Kehormatan.

BBC Indonesia. Diakses pada tanggal 11 Mei 2019 (https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38755390#orb-banner)

Fahriza, Riza. (2014). Tersangka Korupsi Komisi Yudisial Ditahan. Antaranews. Diakses pada

tanggal 11 Mei 2019 (https://www.antaranews.com/berita/427369/tersangka-korupsi-komisi-yudisial-ditahan)

Sihombing, Rolando Fransiscus. (2019). ICW: 22 Anggota DPR Tersangka Korupsi Sepanjang

-2019. Detiknews. Diakses pada tanggal 11 Mei 2019

(https://news.detik.com/berita/d-4500126/icw-22-anggota-dpr-tersangka-korupsi-sepanjang-2014-2019)

Galih, Bayu. (2017). Patrialis Akbar, Mantan Politisi Kedua yang Terjerat Korupsi di MK.

Kompas.com. Diakses pada tanggal 11 Mei 2019 (https://nasional.kompas.com/read/2017/01/27/05050041/patrialis.akbar.mantan.politisi.kedua.yang.terjerat.korupsi.di.mk)

Arifandi, Muhammad Nur Ikhsan. (2016). Dampak-dampak Korupsi. Kompasiana. Diakses

pada tanggal 11 Mei 2019 (https://www.kompasiana.com/muhammadnurikhsanarifandi/58213625d99373230cff92ea/dampak-dampak-korupsi)

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Safa Agrita Hilsania

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

Creative Commons License
The journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License