Penyusunan Instrumen Asesmen Diagnostik untuk Persiapan Kurikulum Merdeka

  • Supriyadi Supriyadi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
  • Roudloh Muna Lia Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
  • Ani Rusilowati Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
  • Wiwi Isnaeni Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
  • Endang Susilaningsih Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
  • Suraji Suraji SD N Kuwarasan 01 Kecamatan Jambu, Semarang, Indonesia
Keywords: pengabdian, assesmen, diagnostik, service program, assesment, diagnostic

Abstract

Abstrak

Program pengabdian masyarakat PEP Unnes berupa bimtek pendampingan penyusunan instrument asesmen diagnostik bagi Guru SD di kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang merupakan upaya konkret dalam membantu peningkatan kualitas pendidikan, yaitu untuk memberikan pemahaman tentang assesmen diagnostik, khususnya kepada peserta kegiatan yaitu guru - guru di kecamatan Banyubiru kabupaten Semarang. Tujuan artikel ini adalah untuk menganalisis pelaksanaan kegiatan pengabdian. Pelaksanaan pengabdian ini menggunakan metode dengan teori teori Seven-Stage Model of Program Planning and Development yang dikembangkan oleh Welsh, sedangkan analisis pengabdian ini menggunakan analisis kuantitatif & kualitatif. Peserta Bimtek berasal dari guru SD sewilayah Korwilcam Bidang Pendidikan kecamatan Banyubiru berjumlah 30 orang. Instrument pendukung pengabdian ini adalah lembar pretest, kuesioner evaluasi program dan instrumen tes hasil karya guru-guru yang mengikuti  bimtek. Materi bimtek terdiri atas 4 poin, yaitu tentang implementasi kurikulum merdeka, pengenalan asesmen diagnostik, penyusunan instrumen penilaian diagnostik dan terakhir tentang analisis butir. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa diantara 4 materi bimtek yang disampaikan, peserta paling menguasai tentang implementasi kurikulum merdeka, yaitu sebanyak 74%, yang benar-benar menguasai tentang asesmen diagnostik sebanyak 70% peserta. Adapun tentang penyusunan dan analisis butir, peserta yang benar-benar menguasai hanya sejumlah 36% dan ada 1 peserta yang menyatakan belum begitu menguasai (semua materi) secara detail. Manfaat yang didapatkan peserta setelah mengikuti bimtek ini adalah dapat menambah pengetahuan tentang asesmen diagnostik yang dilakukan dalam pembelajaran di kelas; Menerima secara teknis tentang penilaian assesmen diagnostik sehingga dapat diterapkan dalam keseharian pembelajaran, paling tidak acuan cukup jelas; dapat memahami perubahan kurikulum saat ini, dan mendapatkan trik mengajar sesuai kurikulum yang berlaku.

 

Abstract

The PEP Unnes community service program in the form of technical guidance and assistance in the preparation of diagnostic assessment instruments for elementary school teachers in the Banyubiru sub-district, Semarang Regency, is a concrete effort to help improve the quality of education to provide an understanding of diagnostic assessments, especially to activity participants, namely teachers in the Banyubiru sub-district, Semarang district. The implementation of this service uses a method with the theory of the Seven-Stage Model of Program Planning and Development developed by Welsh. This analysis uses qualitative descriptive. This article aims to analyze the implementation of community service program activity. The participants of the Bimtek came from elementary school teachers in the Education Sector Korwilcam, Banyubiru sub-district totaling 30 people. The supporting instruments for this service are pretest sheets, program evaluation questionnaires and test instruments created by teachers who follow the technical guidance. The material for technical guidance consists of 4 points, namely the implementation of an independent curriculum, introduction to diagnostic assessments, preparation of diagnostic assessment instruments and finally item analysis. The results of the service showed that among the 4 technical guidance materials presented, the participants most mastered the implementation of the independent curriculum, as many as 74%, who really mastered the diagnostic assessment as many as 70% of the participants. As for the preparation and analysis of items, only 36% of participants actually mastered it and there was 1 participant who stated that they had not mastered (all the material) in detail. The benefits that participants get after participating in this technical guidance are that they can increase their knowledge of diagnostic assessments carried out in classroom learning; Accept technically about the Diagnostic assessment so that it can be applied in daily learning, at least the reference is clear enough; can understand the current curriculum changes, and get teaching tricks according to the applicable curriculum.

References

Donnelly, R., & Patrinos, H. (2021). Learning loss during COVID-19: An early systematic review.Covid Economics. 2021;77(3):145–153. https://doi.org/10.1007/s11125-021-09582-6.
Hati, S.M. (2021). Efektivitas Penggunaan Aplikasi Quizizz dalam Melakukan Asesmen Diagnostik Non Kognitif Siswa Kelas 12 IPS Lintas Minat di SMA YPHB Kota Bogor. Arus Jurnal Pendidikan, 1(3),70.
Hastuti, S. (2010). Analisis kualitatif dan kuantitatif formaldehid pada ikan asin di Madura. Agrointek: Jurnal Teknologi Industri Pertanian, 4(2), 132-137.
Indrastoeti, J & Poerwanti, S. (2021). Pelatihan dan Pendampingan Merancang Instrumen Assesment for Learning berbasis Portofolio pada guru-guru sekolah. Jurnal Widya Laksana,10(1):44. http://dx.doi.org/10.23887/jwl.v10i1.28423.
Lee, Y. W., & Sawaki, Y. (2009). Cognitive diagnosis approaches to language assessment: an overview. Language Assessment Quarterly, 6(3):172–189. https://doi.org/10.1080/15434300902985108.
Mutmainna, SD, Mania, S & Sriyanti, A. (2019). Pengembangan Instrumen Tes Diagnostik Pilihan Ganda Dua Tingkat Untuk Mengidentifikasi Pemahaman Konsep Matematika. Jurnal Matematika dan Pembelajaran, 6(1):56-69. DOI: https://doi.org/10.24252/mapan.2018v6n1a6.
Rosnaeni. (2022). Model-Model Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 4(1):467-473.
Sufyadi, S. (2021). Panduan Pembelajaran dan Asesmen Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah (SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA), Pusat Asesmen dan Pembelajaran Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 1.
Sun, Y & Suzuki, M. (2013). Diagnostic Assessment for Improving Teaching Practice, International Journal of Information and Education Technology, 3(6);604.
Welsh, W.N. (2006). The Need for a Comprehensive Approach to Program Planning, Development, and Evaluation, Research Gate, 5(3);603-614.http://dx.doi.org/10.1111/j.1745-9133.2006.00395.
Yamtinah, S & Budiyono (2015). Pengembangan Instrumen Diagnosis Kesulitan Belajar Pada
Pembelajaran Kimia di SMA. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, 19(1): 6981.https://doi.org/10.21831/pep.v19i1.4557.
Published
2022-08-31