Life Science <p>Life Science [<a href=";1333544467&amp;1&amp;&amp;">P-ISSN&nbsp;2252-6277</a> | <a href=";1469763565&amp;1&amp;&amp;">E-ISSN&nbsp;2528-5009</a>&nbsp;| <a href="">StatCounter</a>&nbsp;| <a href="">Dimensions </a>|&nbsp;<a href="">DOI 10.15294/lifesci</a> | ] published original and significant articles on all aspects of Life Sciences (Biology, Genetics, Biological Anthropology, Botany, Medical Sciences, Veterinary Sciences, Biochemical Genetics, Biometry, Clinical Genetics, Cytogenetics, Genetic Epidemiology, Genetic Testing, Evolution and Population Genetics, Immunogenetics and Molecular Genetics). The journal also covers ethical issues. It aims to serve as a forum for life scientists and health professionals.</p> <p>&nbsp;</p> <p><a href=";hl=en"><img src="" alt=""> </a>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;&nbsp;<a href=""> <strong><img src="" alt=""></strong></a></p> Universitas Negeri Semarang en-US Life Science 2252-6277 <a rel="license" href="" target="_new"><img src="" alt="Creative Commons License" /> </a><br /><span>This work is licensed under a </span><a rel="license" href="" target="_new">Creative Commons Attribution 3.0 License</a><span>.</span> Pola Distribusi Aboveground Biomass Kawasan Hutan Mangrove Peniti Kalimantan Barat <p><span style="margin: 0px; font-family: 'Calisto MT',serif; font-size: 11pt;"><em>This study aims to analyze the distribution pattern of aboveground biomass (AGB) in the mangrove ecosystem of West Kalimantan Safety. In addition, it also analyzes the differences in biomass and carbon stocks in the condition of mangrove forests. The study of the distribution pattern of AGB of mangrove forests was carried out between August and September 2018. Determination of the location of the study was based on a conceptual approach in the dimensions of spatial temporal that is using the Porposive Random Sampling method. Vegetation analysis was carried out by a single plot measuring 50 m x 50 m at each selected location. Based on vegetation analysis data it was found that the density of mangrove stands on the Peniti coast ranged from 38 to 185 ind /ha, with an average of 88.25 ± 66.15 ind./ Ha. The AGB of pinch mangrove forests ranged from 8.85 to 84.82 Mg / ha with the largest total AGB distributed in the stand diameter class of more than 80 cm</em></span>.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola distribusi <em>aboveground biomass</em> (AGB) pada ekosistem mangrove Peniti Kalimantan Barat. Selain itu juga untuk menganalisis perbedaan biomassa, dan cadangan karbon pada kondisi hutan mangrove. Kajian pola distribusi AGB hutan mangrove Peniti dilakukan antara bulan Agustus dan September 2018. Penentuan lokasi penelitian didasarkan pada pendekatan konseptual dalam dimensi spasio temporal yaitu menggunakan metode <em>Porposive Random Sampling</em>. Analisis vegetasi dilakukan dengan metode petak tunggal berukuran 50 m x 50 m pada setiap lokasi terpilih. Berdasarkan data analisis vegetasi didapatkan bahwa kerapatan tegakan mangrove di pesisir Peniti berkisar antara 38 sampai 185 ind/ha, dengan rata-rata 88,25±66,15 ind./ha. AGB tegakan hutan mangrove Peniti berkisar antara 8,85 sampai 84,82 Mg/ha dengan total AGB terbesar terdistribusi pada kelas diameter tegakan lebih dari 80 cm.</p> Rafdinal Rafdinal Rizalinda Rizalinda Sukal Minsas ##submission.copyrightStatement## 2019-04-25 2019-04-25 8 1 1 9 10.15294/lifesci.v8i1.29984 Keanekaragaman Jenis Lichen di Kota Semarang <p><em><span style="margin: 0px; font-family: 'Calisto MT',serif; font-size: 11pt;">Lichen is often used as a bioindicator of air pollution in an area because it is sensitive to pollution. The morphological structure of lichen that does not have a cuticle, stomata, and absorptive organ, forces lichens to survive under the stress of pollutants found in the air. The sensitivity of lichen to air pollution can be seen through changes in diversity. The purpose of this study was to examine the diversity of species of lichens, to assess the environmental conditions and shade trees as habitat for lichens in the city of Semarang. The research was conducted from October to November 2017 using the purposive random sampling method. Sampling was conducted at three research stations, namely: Mangkang Terminal, Simpang Lima Area, and Undalang Tembalang Campus. Based on the results of research at the three observation stations, 18 lichen species were obtained, 13 species were identified and 5 species were not identified. Lichen obtained as many as 8 families, namely Arthoniaceae, Caloplacaceae, Physciaceae, Graphidaceae, Lecanoraceae, Lecidellaceae, Leprariaceae and Parmeliaceae. These types of lichen belong to the talus group foliose and crustose. The shade tree that is most overgrown with lichens is mahogany (Swietenia mahagoni). The Shannon-Wiener diversity index values </span> <span style="margin: 0px; font-family: 'Calisto MT',serif; font-size: 11pt;">in the three research stations were: Terminal Mangkang (1.88), Simpang Lima Region (2.95), and Undip Tembalang Campus (3.71). The highest number of species and number of individuals is at the Undip Tembalang Campus, with a total of 17 species and 295 individuals lichen. Dirinaria spp. is the most found species in all three research stations</span></em>.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Lichen sering dipakai sebagai bioindikator pencemaran udara di suatu daerah karena sifatnya yang sensitif terhadap polusi. Struktur morfologi lichen yang tidak memiliki lapisan kutikula, stomata, dan organ absorptif, memaksa lichen untuk bertahan hidup di bawah cekaman polutan yang terdapat di udara. Sensitivitas lichen terhadap pencemaran udara dapat dilihat melalui perubahan keanekaragamannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji keanekaragaman jenis lichen, mengkaji kondisi lingkungan dan pohon peneduh sebagai habitat lichen di Kota Semarang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober hingga November 2017 menggunakan metode <em>purposive random sampling</em>. Sampling dilakukan di tiga stasiun penelitian, yakni: Terminal Mangkang, Kawasan Simpang Lima, dan Kampus Undip Tembalang. Berdasarkan hasil penelitian di ketiga stasiun pengamatan, diperoleh 18 spesies lichen, 13 spesies berhasil diidentifikasi dan 5 spesies belum teridentifikasi. Lichen yang diperoleh sebanyak 8 famili yakni <em>Arthoniaceae</em>, <em>Caloplacaceae</em>, <em>Physciaceae</em>, <em>Graphidaceae</em>, <em>Lecanoraceae</em>, <em>Lecidellaceae</em>, <em>Leprariaceae</em> dan <em>Parmeliaceae</em>. Jenis lichen tersebut termasuk dalam kelompok talus <em>foliose</em> dan <em>crustose</em>. Pohon peneduh yang paling banyak ditumbuhi lichen adalah mahoni (<em>Swietenia mahagoni</em>). Nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener di ketiga stasiun penelitian yaitu: Terminal Mangkang (1,88), Kawasan Simpang Lima (2,95), dan Kampus Undip Tembalang (3,71). Jumlah jenis dan jumlah individu tertinggi terdapat di Kampus Undip Tembalang, dengan total 17 spesies dan 295 individu lichen. <em>Dirinaria spp</em>. merupakan spesies yang paling banyak ditemukan di ketiga stasiun penelitian.</p> Husna Mafaza Murningsih Murningsih Jumari Jumari ##submission.copyrightStatement## 2019-04-25 2019-04-25 8 1 10 16 10.15294/lifesci.v8i1.29985 Pertumbuhan Kalus Rejasa (Elaeocarpus grandiflorus) dari Eksplan Tangkai Daun pada Kondisi Gelap <p><span style="margin: 0px; font-family: 'Calisto MT',serif; font-size: 11pt;"><em>Rejasa (Elaeocarpus grandiflorus) is a Salatiga identity plant which is now rarely found. Rejasa produces secondary metabolites that have the potential as drugs. This study tested the growth of rejasa callus in the medium with the addition of various types and concentrations of growth regulators. The independent variables used were the type and concentration of growth regulators (2,4-dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) with concentrations of 1.5; 2.5 and 3.5 ppm and Picloram with a concentration of 3.5; 5; and 7.5 ppm). The dependent variable in this study was the growth of callus regeneration (percentage of callus growth, time of callus formation and morphology of callus) observed for five months in dark conditions. Explants used were young petiolus and the medium used in this study was medium Murashige and Skoog (MS). The results showed the lowest percentage of callus induction was found in explants with the addition of Picloram growth regulators with a concentration of 7.5 ppm (14%). Explants maintained in the medium with the addition of Picloram with a concentration of 5 ppm resulted in the highest percentage of callus induction. The time of callus induction is in the range of 10-22 days. The explants with the addition of Picloram growth regulator substances with a concentration of 5 ppm had the best callus induction time, which was 12 days. Most of the callus formed was friable and yellowish. Based on the results of this research, the best medium for callus induction of rejasa in dark conditions was medium with the addition of 5 ppm Picloram</em></span>.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Rejasa (<em>Elaeocarpus grandiflorus</em>) adalah tanaman identitas Salatiga yang mulai jarang ditemukan. Pertumbuhan populasinya memiliki perkembangan yang lambat. Perkembangan generatif melalui perkecambahan biji terjadi dalam tingkat yang sangat rendah. Dalam kelangkaannya, rejasa memiliki khasiat sebagai tanaman obat melalui metabolit sekunder yang dihasilkan. Penelitian ini menguji pertumbuhan kalus rejasa dalam variasi jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh. Variabel bebas yang digunakan adalah jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh (<em>2,4-dichlorophenoxyacetic acid</em> (2,4-D) dengan konsentrasi 1,5; 2,5; dan 3,5 ppm serta pikloram dengan konsentrasi 3,5; 5; dan 7,5 ppm). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pertumbuhan kalus rejasa (persentase tumbuh kalus, waktu berkalus, dan morfologi kalus) dalam medium yang diamati selama 5 bulan. Eksplan yang digunakan adalah tangkai muda yang ditanam dalam medium agar Murashige &amp; Skoog dengan penambahan zat pengatur tumbuh 2,4-D dan pikloram dalam berbagai konsentrasi dan dipelihara dalam kondisi gelap. Hasil penelitian menunjukkan persentase induksi kalus paling rendah terdapat pada eksplan dengan penambahan zat pengatur tumbuh pikloram dengan konsentrasi 7,5 ppm (14%). Eksplan yang dipelihara pada medium dengan penambahan pikloram konsentrasi 5 ppm memghasilkan persentasi induksi kalus tertinggi. Waktu induksi kalus berada dalam rentang 10-22 hari. Eksplan dengan penambahan zat pengatur tumbuh pikloram konsentrasi 5 ppm memiliki rerata waktu induksi kalus paling baik yaitu 12 hari. Kalus yang terbentuk dominan berwarna kekuningan dengan jenis meremah. Berdasarkan hasil penelitiaan, medium yang paling baik untuk induksi kalus dalam kondisi gelap adalah medium MS dengan penambahan zat pengatur tumbuh pikloram konsentrasi 5 ppm.</p> Nur Wijawati Noor Aini Habibah Fajar Musafa Khoirul Mukhtar Y. Ulung Anggraito Talitha Widiatningrum ##submission.copyrightStatement## 2019-04-25 2019-04-25 8 1 17 24 10.15294/lifesci.v8i1.29986 Analisis Perkembangan Titer Antibodi Hasil Vaksinasi Infectious Bronchitis pada Ayam Petelur Strain Hisex Brown <p><span style="margin: 0px; font-family: 'Calisto MT',serif; font-size: 11pt;"><em>Infectious bronchitis (IB) is a disease that attacks the chicken's respiratory system caused by an infectious bronchitis virus. IB transmission can occur directly and indirectly. IB disease transmission can be done by vaccination. Vaccination can fail so that to determine the success of the vaccination program an antibody titer monitor is performed using serological tests. ELISA is one of the serological tests that can be used to measure antigens/antibodies. The main principle of the ELISA technique is the use of enzyme indicators for immunological reactions. This study aims to analyze the differences in chicken antibody titers at certain periods after vaccination. The sample in this study used 18 female layer hens of Hisex Brown Strain aged 20 weeks that were vaccinated by IB. This study was an experimental study with treatment of antibody titer measurements at 7, 14, and 21 days after vaccination. Data analysis is descriptive quantitative using the Normality test and t test. The mean results of antibody titers at each consecutive time period at 7, 14, and 21 days after vaccination were 1695, 4207, and 5978. The results of the t test showed that at each sampling period 7 dpi, 14 dpi and 21 dpi had differences significant. The number of titers of IgG antibodies to the IBV virus increases from a distance after vaccination. Conclusions were obtained that antibodies increased in each period of time taken after vaccination.</em></span></p> <p>&nbsp;</p> <p><span style="margin: 0px; font-family: 'Calisto MT',serif; font-size: 11pt;">Penyakit <em>Infectious bronchitis</em> (IB) adalah penyakit yang menyerang sistem pernafasan ayam yang disebabkan oleh <em>Infectious bronchitis</em> virus. Penularan IB dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung. Penularan penyakit IB dapat dilakukan dengan cara vaksinasi. Vaksinasi dapat mengalami kegagalan sehingga untuk mengetahui keberhasilan program vaksinasi dilakukan monitor titer antibodi menggunakan uji serologis. ELISA adalah salah satu uji serologis yang dapat digunakan untuk mengukur antigen/antibodi. Prinsip utama teknik ELISA adalah penggunaan indikator enzim untuk reaksi imunologi. Penelitian ini bertujuan menganalisis adanya perbedaan titer antibodi ayam pada periode tertentu setelah vaksinasi. Sampel pada penelitian ini menggunakan 18 ekor ayam petelur betina <em>Strain Hisex Brown</em> umur 20 minggu yang divaksin IB. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan perlakuan pengukuran titer antibodi pada 7, 14, dan 21 hari setelah vaksinasi. Analisis data secara deskriptif kuantitatif menggunakan uji Normalitas dan uji t. Rerata hasil titer antibodi pada setiap periode waktu berturut-turut pada 7, 14, dan 21 hari setelah vaksinasi yaitu 1695, 4207, dan 5978. Hasil uji t menunjukkan pada setiap periode pengambilan sampel yaitu 7 dpi, 14 dpi, dan 21 dpi mempunyai perbedaan yang signifikan. Jumlah titer antibodi IgG terhadap virus IBV semakin meningkat dari jarak setelah vaksinasi. Kesimpulan yang diperoleh bahwa antibodi mengalami peningkatan pada setiap periode waktu pengambilan setelah vaksinasi.</span></p> Yenni Tyas Wulandari K. E R. Susanti Siti Harnina Bintari ##submission.copyrightStatement## 2019-04-25 2019-04-25 8 1 25 33 10.15294/lifesci.v8i1.29987 Konservasi Buaya Muara di Taman Margasatwa Semarang <p><span style="margin: 0px; font-family: 'Calisto MT',serif; font-size: 11pt;"><em>Stuary crocodile (Crocodylus porosus) is one of the fauna that is protected by Indonesian law because of its high economic value. Publications regarding the success of estuarine crocodile conservation are still small. Efforts can be made to prevent the extinction of estuarine crocodiles through conservation. Semarang Wildlife Park is an ex-situ conservation institution that has succeeded in breeding estuarine crocodiles. This study aims to examine the methods of estuarine crocodile conservation, factors in conservation methods, and the success rate of estuarine crocodile conservation in Semarang Wildlife Park. The research methods used were observation, interviews, and documentation. The research data were analyzed by quantitative descriptive analysis. The results showed that the method of estuarine crocodile conservation in Semarang Wildlife Park took the form of breeding activities consisting of management of housing, feed, health, and breeding. The factors that influence conservation success are cage, feed, and weather. The level of success of estuarine crocodile conservation in Semarang Wildlife Park seen from the aspect of DTT 55.4% and MR 29% with criteria quite successful. Suggestions that can be conveyed are Need to do further research on measuring the temperature and humidity of the soil used as nest of estuarine crocodile eggs in the aspect of egg hatching that affect the success of conservation and more intensive management of estuarine crocodile breeding activities in Semarang Wildlife Park for successful conservation.</em></span></p> <p>&nbsp;</p> <p><span style="margin: 0px; font-family: 'Calisto MT',serif; font-size: 11pt;">Buaya muara (<em>Crocodylus porosus</em>) merupakan salah satu fauna yang dilindungi perundang-undangan Indonesia karena bernilai ekonomi tinggi. Publikasi mengenai keberhasilan konservasi buaya muara masih sedikit. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kepunahan buaya muara adalah melalui konservasi. Taman Margasatwa Semarang merupakan lembaga konservasi secara <em>ex-situ</em> yang telah berhasil mengembangbiakkan buaya muara. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji metode konservasi buaya muara, faktor-faktor dalam metode konservasi, serta tingkat keberhasilan konservasi buaya muara di Taman Margasatwa Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data hasil penelitian dianalisis secara analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode konservasi buaya muara di Taman Margasatwa Semarang berupa kegiatan penangkaran yang terdiri dari pengelolaan perkandangan, pakan, kesehatan, dan perkembangbiakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan konservasi adalah kandang, pakan, dan cuaca. Tingkat keberhasilan konservasi buaya muara di Taman Margasatwa Semarang dilihat dari aspek DTT 55,4% dan MR 29% dengan kriteria cukup berhasil. Saran yang dapat disampaikan adalah Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengukuran suhu dan kelembapan tanah yang digunakan sebagai sarang telur buaya muara dalam aspek penetasan telur yang mempengaruhi keberhasilan konservasi dan Perlu dilakukan pengelolaan lebih intensif mengenai kegiatan penangkaran buaya muara di Taman Margasatwa Semarang agar keberhasilan konservasinya meningkat.</span></p> Evi Setyowati Sri Ngabekti Bambang Priyono ##submission.copyrightStatement## 2019-04-25 2019-04-25 8 1 34 40 10.15294/lifesci.v8i1.29988 Keanekaragaman Spesies Mangrove dan Zonasi di Wilayah Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Tugu Kota Semarang <p><span style="margin: 0px; font-family: 'Calisto MT',serif; font-size: 11pt;"><em>Tugu sub-district has a mangrove ecosystem that is better than the other three sub-districts in Semarang City. The improvement of the mangrove ecosystem in Mangunharjo Village became the main of priority for mangrove rehabilitation This study aimed to determine the level of diversity of mangrove species found in the mangrove ecosystem of Mangunharjo Sub-District, Tugu District, Semarang City based on the zonation. The study was conducted in February-March 2018. Sampling using a combination method, that are systematic sampling with vegetation analysis techniques using quadrat sampling technique. There are three data collection stations determined based on the distance from the coastline to the mainland. Data were analyzed using quantitative descriptive statistics. The results showed that the diversity of mangrove species found in Mangunharjo Village had a low to moderate diversity level (0.72-1.32). The mangrove ecosystem in Mangunharjo is actually artificial ecosystem, with the type and number of mangroves dominated by Rhizophora mucronata and Avicennia marina. There are seven mangrove species found in the open zone, four species in the middle zone and four species in the land zone.</em></span></p> <p>&nbsp;</p> <p><span style="margin: 0px; font-family: 'Calisto MT',serif; font-size: 11pt;">Kecamatan Tugu memiliki ekosistem mangrove yang masih baik dibandingkan dengan tiga kecamatan lainnya yang berada di Kota Semarang. Perbaikan ekosistem mangrove di Kelurahan Mangunharjo menjadi prioritas utama rehabilitasi mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat keanekaragaman spesies mangrove yang terdapat di ekosistem mangrove Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Tugu Kota Semarang berdasarkan zonasinya. Penelitian dilakukan pada bulan Februari–Maret 2018. Pengambilan sampel menggunakan metode kombinasi, yaitu antara <em>systematic sampling</em> dengan teknik analisis vegetasi menggunakan <em>quadrat sampling technique</em>. Terdapat tiga stasiun pengambilan data yang ditentukan berdasarkan jarak dari garis pantai hingga daratan. Data dianalisis secara statistik deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa keanekaragaman spesies mangrove yang terdapat di Kelurahan Mangunharjo mempunyai tingkat keanekaragaman rendah hingga sedang (0.72-1.32). Hal ini dikarenakan ekosistem mangrove wilayah Mangunharjo merupakan ekosistem buatan, dengan jenis dan jumlah mangrove yang dominasi oleh <em>Rhizophora mucronata</em> dan <em>Avicennia marina</em>.&nbsp; Terdapat tujuh spesies mangrove yang ditemukan pada zona terbuka, empat spesies pada zona tengah dan empat spesies pada zona daratan.</span></p> Rahmadyan Tefarani Nana Kariada Tri Martuti Sri Ngabekti ##submission.copyrightStatement## 2019-04-25 2019-04-25 8 1 41 53 10.15294/lifesci.v8i1.29989 Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) pada Ikan di Sungai Lamat Kabupaten Magelang <p><em>Lead (Pb) is a heavy metal that is toxic to humans found in nature, including in the waters of the Lamat River. Fish is one bioindicator of the level of heavy metal pollution that occurs in the waters. This study aims (1) to determine the concentration of Pb in water in the Lamat River and (2) to determine the accumulation of Pb heavy metals in fish on the Lamat River in Magelang Regency. This study is an observational analytic study with a qualitative approach. The sampling technique is purposive sampling. The environmental parameters measured are temperature, pH, DO, BOD, COD, and current. The lead content (Pb) in water and fish was measured using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). The results showed that temperature, pH, DO, BOD, COD, and currents were still within the proper range for fish life. The level of heavy metal lead (Pb) contained in the water at the three stations was not detected. While the Pb content in fish on the River between 0.3807-0.7268 µg/g. Conclusion; water in Sungai Lamat does not exceed the SNI quality standard of 0, 01 mg/L, while the Pb concentration in fish in Sungai Lamat has exceeded the SNI quality standard, which is 0.3 µg/g. That way, it is not recommended to consume fish that are on the Lamat River.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p>Timbal (Pb) merupakan logam berat yang bersifat toksik bagi manusia yang terdapat di alam, termasuk di perairan Sungai Lamat. Ikan merupakan satu satu bioindikator tingkat pencemaran logam berat yang terjadi di dalam perairan. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui konsentrasi Pb pada air di Sungai Lamat dan (2) mengetahui akumulasi logam berat Pb pada ikan di Sungai Lamat Kabupaten Magelang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengambilan sampel dengan <em>purposive sampling</em>. Parameter lingkungan yang diukur adalah suhu, pH, DO, BOD, COD dan arus. Kandungan timbal (Pb) pada air dan ikan diukur menggunakan <em>Atomyc Absorption Spectrophotometry</em> (AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu, pH, DO, BOD, COD dan arus masih berada dalam kisaran yang layak bagi kehidupan ikan. Kadar logam berat timbal (Pb) yang terkandung dalam air pada ketiga stasiun tidak terdeteksi alat. Sedangkan kandungan Pb pada ikan di Sungai antara 0,3807-0,7268 µg/g. Kesimpulan; air di Sungai Lamat tidak melebihi baku mutu SNI yang sebesar 0, 01 mg/L, sedangkan konsentrasi Pb pada ikan di Sungai Lamat telah melebihi baku mutu SNI yaitu 0,3 µg/g. Dengan begitu, tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi ikan yang berada di Sungai Lamat.</p> Nisa Arkianti Nur Kusuma Dewi Nana Kariada Tri Martuti ##submission.copyrightStatement## 2019-04-25 2019-04-25 8 1 54 63 10.15294/lifesci.v8i1.29998 Keanekaragaman dan Asas Manfaat Keluarga Zingiberaceae di Dusun Jambean Kabupaten Grobogan <p style="margin: 4px -3.8px 0px -6.8px; line-height: normal;"><em><span style="margin: 0px; font-family: 'Calisto MT',serif;"><span style="font-size: small;">The diversity of Zingiberaceae plants has many functions for the community, especially for those who live in rural areas. The observations in Jambean showed that not all Zingiberaceae families found there were used optimally for spices, health, and ornamental plants. The objectives of this study were: 1) to determine what Zingiberaceae species found in Jambean, 2) determine the diversity index of the Zingiberaceae family in Jambean, and (3) explain the principle of Zingiberaceae family benefits according to local knowledge of Jambean society. This research was field research. Species and benefit principles data were obtained by observation and interviews and analyzed qualitatively. Diversity index was analyzed by the Shannon-Wiener index. The results were obtained: 1) species of the Zingiberaceae family found in Jambean were temu ireng, kunir, lempuyang, temu putih, laos, and temu mangga; 2) the diversity index of the Zingiberaceae family in Jambean in the medium category (1.40) and 3) the principle of benefit of each of the Zingiberaceae plants by the people of Jambean was used only as medicinal herbs and cooking spices.</span></span></em></p> <p style="margin: 4px -3.8px 0px -6.8px; line-height: normal;"><em><span style="margin: 0px; font-family: 'Calisto MT',serif;"><span style="font-size: small;">&nbsp;</span></span></em></p> <p style="margin: 4px -3.8px 0px -6.8px; line-height: normal;"><em><span style="margin: 0px; font-family: 'Calisto MT',serif;"><span style="font-size: small;">&nbsp;</span></span></em></p> <p style="margin: 4px -3.8px 0px -6.8px; line-height: normal;"><span style="margin: 0px; font-family: 'Calisto MT',serif;"><span style="font-size: small;">Keanekaragaman jenis tumbuhan <em>Zingiberaceae</em> memiliki banyak fungsi bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah pedesaan. Hasil observasi di dusun Jambean menunjukkan tidak semua keluarga <em>Zingiberaceae</em> yang ditemukan di sana dimanfaatkan secara optimal baik untuk rempah-rempah, kesehatan, dan tanaman hias. Tujuan penelitian ini adalah: 1) menentukan spesies <em>Zingiberaceae</em> apa saja yang ditemukan di dusun Jambean, 2) menentukan indeks diversitas keluarga <em>Zingiberaceae</em> di dusun Jambean, dan menjelaskan asas manfaat keluarga <em>Zingiberaceae</em> menurut pengetahuan lokal warga Jambean. Penelitian ini adalah penelitian lapangan. Data spesies dan asas manfaat diperoleh dengan observasi dan wawancara dan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Indeks diversitas dianalisis dengan indeks Shannon-Wienner. Hasil penelitian didapatkan: 1) spesies dari keluarga <em>Zingiberaceae</em> yang ditemukan di dusun Jambean adalah temu ireng, kunir, lempuyang, temu putih, laos, dan temu mangga; 2) indeks diversitas keluarga <em>Zingiberace</em> di dusun Jambean dalam kategori sedang (1,40); dan 3) asas manfaat masing-masing tanaman <em>Zingiberaceae</em> oleh masyarakat dusun Jambean dimanfaatkan baru sebatas sebagai tanaman obat dan bumbu masak</span></span></p> Muhamad Jalil ##submission.copyrightStatement## 2019-04-25 2019-04-25 8 1 64 74 10.15294/lifesci.v8i1.29999 DETEKSI FENOTIPIK Escherichia coli PENGHASIL EXTENDED SPECTRUM BETA-LACTAMASES (ESBLS) PADA SAMPEL MAKANAN DI KRIAN SIDOARJO <p><em>Escherichia coli is a group of Enterobacteriaceae bacteria that often contaminate food so that it can cause diarrhea. These bacteria are very difficult to treat if they are able to produce the Extended-Spectrum Beta-Lactamases (ESBLs) enzyme. The purpose of this study was to identify ESBLs-producing E. coli in food samples in Krian Sidoarjo. Food samples (fried foods, cilok tempura and chili sauce) were collected from ten different places. The sample was then grown on Eosin Methylene Blue (EMB) medium and purified by the 16 streak method, as well as biochemical character tests. The ESBLs phenotypic E. coli method was carried out by screening test and confirmation test using a Double Disk Synergy Test (DDST). Thirty colonies were able to grow on EMB media, but after microscopic identification and biochemistry testing only four samples were E. coli positive and were able to produce ESBLs from the phenotypic test that had been carried out. ESBLs-producing E. coli testing is important not only for nosocomial infections but also for the community so it needs attention to the spread of ESBLs resistance among microorganism species</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><em>Escherichia coli</em> termasuk kelompok bakteri <em>Enterobacteriaceae</em> yang sering mengkontaminasi makanan sehingga dapat menyebabkan diare. Bakteri ini sangat sulit diobati apabila mampu memproduksi enzim <em>Extended Spectrum Beta-Lactamases</em> (ESBLs). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengindetifikasi <em>E. coli</em> penghasil ESBLs pada sampel makanan di Krian Sidoarjo. Sampel makanan (gorengan, cilok, tempura, dan saus sambal) dikumpulkan dari sepuluh tempat berbeda. Sampel kemudian ditumbuhkan pada medium <em>Eosin Metilen Blue</em> (EMB) dan dimurnikan dengan metode streak 16, serta dilakukan karakteristik uji biokimia. Metode fenotipik <em>E. coli</em> penghasil ESBLs dilakukan dengan uji skrining dan uji konfirmasi menggunakan <em>double disk synergy test</em> (DDST). Sebanyak tiga puluh koloni mampu tumbuh pada media EMB, namun setelah diidentifikasi mikroskopis dan uji biokiomia hanya empat sampel positif <em>E. coli</em> dan mampu menghasilkan ESBLs dari uji fenotipik yang telah dilakukan. Pengujian <em>E. coli</em> penghasil ESBLs penting dilakukan bukan hanya pada infeksi nosokomial, tetapi juga pada komunitas sehingga perlu mendapat perhatian terhadap penyebaran resistensi ESBLs diantara spesies mikroorganisme</p> <p>&nbsp;</p> <p><em>Keywords: </em><em>Escherichia coli, Extended Spectrum Beta Lactamases, Fenotopik, Makanan, Sidoarjo, </em><em>Phenotypic</em><em>, </em><em>Food</em></p> Yulianto Ade Prasetya Ike Yuyun Winarsih Kharisma Aprilia Pratiwi Merinsa Chorry Hartono Dita Nur Rochimah ##submission.copyrightStatement## 2019-04-25 2019-04-25 8 1 75 85 10.15294/lifesci.v8i1.30000 AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KADAR KLOROFIL KULTIVAR SINGKONG DI DAERAH WONOSOBO <p style="margin: 4px -3.8px 0px -6.8px; line-height: normal;"><em><span style="margin: 0px; font-family: 'Calisto MT',serif;"><span style="font-size: small;">Cassava leaves are the main barrier for oxidation reactions. This happens because of the chlorophyll content, but chlorophyll levels will increase with age until the leaves develop fully and then chlorophyll levels decrease when the leaves get older. When the leaves are old it is indicated that there are other compounds that act as the main barrier for oxidation reactions, namely flavonoids. Flavonoid is seen from the antioxidant activity of the leaves. The purpose of this study was to determine the levels of chlorophyll, antioxidant activity and the relationship between chlorophyll levels and antioxidant activity. This study uses seven cassava cultivars in Wonosobo. The leaves were extracted using the maceration method then the antioxidant activity was measured using DPPH method besides chlorophyll content was measured using a spectrophotometer using the ARNON method, then from the results of measurements of chlorophyll content and antioxidant activity in the Pearson Correlation method correlation test. Cassava results from Wonosobo cultivars Marsinah had the highest antioxidant activity of 71.13%. Furthermore Martapura (46.27%), Green Handle Vegetables (46.27%), Palengka (46.13%), Rubber (39.64%), Red Handle Vegetables (39.36%) and the lowest one is Kastepe cultivars that is 36.87%. While the highest chlorophyll content of Marsinah cultivars is 32.19 mg / l. Next Rubber (29.44 mg / l), Green Vegetable Handle (28.04 mg / l), Kastepe (27.66 mg / l), Martapura (27.30 mg / l), Palengka (22.82 mg / ll) and the lowest is the Red Handle Vegetable cultivar which is 22.01 mg / l. From these results, it can be concluded that ducks There is no correlation between chlorophyll levels and antioxidant activity of cassava cultivars in Wonosobo district.</span></span></em></p> <p style="margin: 4px -3.8px 0px -6.8px; line-height: normal;"><em><span style="margin: 0px; font-family: 'Calisto MT',serif;"><span style="font-size: small;">&nbsp;</span></span></em></p> <p style="margin: 4px -3.8px 0px -6.8px; line-height: normal;"><span style="margin: 0px; font-family: 'Calisto MT',serif;"><span style="font-size: small;">Daun singkong merupakan barrier utama untuk reaksi oksidasi. Hal ini terjadi karena adanya kandungan klorofil, akan tetapi kadar klorofil akan meningkat seiring bertambahnya umur sampai daun berkembang penuh dan kemudian kadar klorofil menurun ketika daun semakin tua. Pada saat daun sudah tua diindikasikan bahwa ada senyawa lain yang berperan sebagai barrier utama untuk reaksi oksidasi yaitu flavonoid. Falvonoid dilihat dari aktivitas antioksidan daun. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kadar aklorofil, aktivitas antioksidan dan hubungan anatara kadar klorofil dengan aktivitas antioksidan. Penelitian ini menggunakan tujuh kultivar singkong yang ada di wonosobo. Daun diekstraksi menggunakan metode maserasi kemudian diukur aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH selain itu kadar klorofil diukur menggunakan spektrofotometer menggunakan metode ARNON, kemudian dari hasil pengukuran kadar klorofil dan aktivitas antioksidan di uji korelasi metode Pearson Correlation. Hasil menunjukkan Singkong dari Wonosobo kultivar Marsinah memiliki aktivitas antioksidan yang paling tinggi yaitu 71,13%. Selanjutnya Martapura (46,27%), Sayur Gagang Hijau (46,27%), Palengka (46,13%), Karet (39,64%), Sayur Gagang Merah (39,36%) dan yang terendah adalah kultivar Kastepe yaitu 36,87%. Sedangkan kadar klorofil yang paling tinggi kultivar Marsinah yaitu 32,19 mg/l. Selanjutnya Karet (29,44 mg/l), Sayur Gagang Hijau (28,04 mg/l), Kastepe (27,66 mg/l), Martapura (27,30 mg/l), Palengka (22,82 mg/l) dan yang terendah adalah kultivar Sayur Gagang Merah yaitu 22,01 mg/l. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kadar klorofil dengan aktivitas antioksidan kultivar singkong di kabupaten wonosobo</span></span></p> <p style="margin: 4px 0px 0px -5.26px; line-height: 115%;"><em><span lang="EN-GB" style="margin: 0px; line-height: 115%; font-size: 8pt;">&nbsp;</span></em></p> <p style="margin: 4px 0px 0px -5.26px; line-height: 115%;"><em><span lang="EN-GB" style="margin: 0px; line-height: 115%; font-size: 8pt;">Keywords: </span></em><em><span style="margin: 0px; line-height: 115%; font-size: 8pt;">Aktivitas Antioksidan, Kadar Klorofil, Kultivar Singkong</span></em></p> Restanti Solikhah Eling Purwantoyo Ely Rudyatmi ##submission.copyrightStatement## 2019-04-25 2019-04-25 8 1 86 95 10.15294/lifesci.v8i1.30001 Pengaruh Berbagai Konsentrasi dan Lama Cekaman Aluminium terhadap Pertumbuhan Akar Kemampuan Root re-growth Stek Batang Hydrangea macrophylla pada Kultur Cair <p><em>Hydrangea macrophyllais a hyperaccumulator plant. It can collect more than 3000 mg kg-1 Al of dry weight in the leaves. The purpose of this study was to determine the effect of various Al concentrations, the period of Al stress, and the interaction between these two factors on liquid culture on root growth and the ability of root re-growth of H. macrophylla stem cuttings. The study was conducted in November 2016 until April 2017, using a Completely Randomized Design (RAL) of two factors. They are the Al concentration (0; 200; 400 µM) and the duration of Al stress (1; 2; 4 days). The results of the observations were analyzed by two-way ANOVA at the 5% level, and the treatment that showed a real effect, it followed by Duncan test. The Anova results indicate that the stress combination with stress duration of Al does not affect the parameters of the number of the root, but the interaction of both influences the increase of root length. The RRG test showed that most treatments were tolerant except A2P2(Al concentration 400 µM, the duration of stress is 4 days) and A1P1(Al concentration 200 µM, the duration of stress is 2 days) is sensitive. The qualitative observations on color and root texture parameters showed that the results of each treatment combination were better than the controls. The concentration and duration of Al stress and the interaction of both did not affect the root re-growth ability and the number of root increase of H. macrophylla stem cuttings</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><em>Hydrangea macrophylla</em> merupakan tanaman hiperakumulator. Tanaman ini dapat mengumpulkan lebih dari 3000 mg kg-1 Al berat kering dalam daunnya. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh berbagai konsentrasi Al, periode cekaman Al, dan interaksi antara kedua faktor tersebut pada kultur cair terhadap pertumbuhan akar dan kemampuan <em>root re-growth stek</em> batang tanaman <em>H. macrophylla</em>. Penelitian dilakukan pada bulan November 2016-April 2017, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor yaitu konsentrasi Al (0; 200; 400 µM) dan lama cekaman Al (1; 2; 4 hari). Hasil pengamatan dianalisis dengan ANAVA dua jalan pada taraf nyata 5% dan perlakuan yang menunjukkan pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil Anava menunjukkan bahwa kombinasi cekaman dengan lama cekaman Al tidak berpengaruh terhadap parameter jumlah akar, namun interaksi keduanya berpengaruh terhadap pertambahan panjang akar. Pada uji RRG menunjukkan hasil bahwa semua perlakuan bersifat toleran kecuali A2P2(konsentrasi Al 400 µM, lama cekaman 4 hari) dan A<sub>1</sub>P<sub>1</sub>(konsentrasi Al 200 µM, lama cekaman 2 hari) bersifat sensitif. Hasil pengamatan secara kualitatif pada parameter warna dan tekstur akar menunjukkan hasil pada masing-masing kombinasi perlakuan lebih baik daripada kontrol. Konsentrasi dan lama cekaman Al dan interaksi keduanya tidak mempengaruhi kemampuan <em>root re-growth</em> dan pertambahan jumlah akar stek batang tanaman <em>H. macrophylla</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><em>Keywords: </em><em>H. macrophylla, liquid culture, root growth, root re-growth</em><em>.</em></p> Laily Milatuzzahroh Saiful Ridlo Yustinus Ulung Anggraito ##submission.copyrightStatement## 2019-04-25 2019-04-25 8 1 96 105 10.15294/lifesci.v8i1.30002