KUALITAS HIDUP PENDERITA KANKER

  • Tita Febri Pratiwi Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Keywords: Kualitas Hidup, Kanker

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi subyek penderita kanker mengalami perubahan fisik dan psikis karena harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang baru dalam hidupnya. Kanker adalah penyakit pada sel jaringan tubuh yang menjadi ganas. Pengobatan yang berlangsung lama memiliki efek kesakitan tinggi, membawa dalam kondisi lemah bahkan depresi. Penderitaan tersebut mendorong penderita untuk menentukan sikap yang menggambarkan kualitas hidup. Kualitas hidup adalah persepsi individu mengenai keadaan dirinya pada aspek-aspek kehidupan untuk mencapai kepuasan hidup. Keterbatasan yang dialami justru disikapi positif oleh subyek, antara lain: tidak mengeluh, tidak mengasihani diri sendiri, penampilan fisik yang sehat dan keefektifan kinerja dalam hidupnya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana kualitas hidup penderita kanker.  Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain penelitian studi kasus dan kualitas hidup penderita kanker sebagai unit analisis. Responden berjumlah tiga orang, delapan orang informan pendukung dan empat orang ahli. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan pengintepretasian tes grafis yang meliputi House Tree Person, Tree Test, dan Draw A Person Test oleh psikolog. Keabsahan data diuji dengan ketekunan pengamatan di lapangan dan triangulasi.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyakit kanker memberikan perubahan signifikan secara fisik maupun psikis individu, antara lain: kesedihan, kekhawatiran dan ketakutan akan masa depan dan kematian. Kualitas hidup penderita kanker dipengaruhi pemahaman individu terhadap penyakitnya sehingga seseorang tahu cara menjaga kesehatan, serta faktor ekonomi dimana hal ini menjadi kekhawatiran khusus terhadap biaya pengobatan. Aspek dominan pembentukan kualitas hidup penderita kanker adalah aspek psikologis, meliputi spiritualitas, dukungan sosial dan kesejahteraan. Faktanya, aspek psikologis sangat menentukan kualitas hidup, penderita mendapatkan kekuatan dan merasa lebih sehat tanpa obat, hal ini disebabkan karena sugesti dalam diri individu tersebut untuk tetap sehat. Kecerdasan spiritualitas menuntun penderita memiliki penerimaan diri terhadap penyakitnya. Penderita mengalami peningkatan spiritual dibanding sebelum menderita kanker. Penderita merasa lebih dekat dengan Tuhan dan tidak menyalahkan Tuhan, melainkan menganggap sebagai sebuah anugerah Tuhan. Rasa cinta dan nyaman dari dukungan sosial memberi motivasi untuk sembuh dan kuat menjalani hidup. Akhirnya memberikan kesejahteraan yang menentukan kualitas hidup penderita. Saran bagi pemerintah adalah memberikan perhatian dan bantuan khususnya bagi penderita kanker kurang mampu. Bagi keluarga, agar memberi dukungan sehingga dapat menjadi partner yang baik untuk mencapai kesembuhan dan pemulihan secara fisik maupun psikis penderita kanker.

References

Akechi, T., Okamura,H., Yamasaki,S.,Uchitomi,Y. 1998. Predictor of Patientes’ Mental Adjustment to Cancer: Patient Characteristics And Social Support. British Journal of Cancer.16/12:2381-2385.

Bowling, A. 2005. Measuring Health : A Review of Quality of Life Measurement Scales. New York : Bell & Bain Ltd.

Cella, D.1998. Factor Influence Quality of Life in Cancer Patients: Anemia and Fatigue. Annals of Oncology. 25/6:1

______,D., Dobrez.D., Glaspy,J.. 2003. Control of Cancer-Related Anemia With Erythropoietic Agents: A Review of Evidance for Improved Quality of Life And Clinical Outcomes. Annals of Oncology. 15/1:511-519.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. 2010. Profil Kesehatan 2009. Semarang

Ensiklopedi Nasional Indonesia. 1990. 1th ed., VIII. Jakarta: PT Rineka Cipta. Pp. 122

Ferris, A.L. 2010. Approaches to Improving the Quality of Life. Online.

Available at http://library.nu/search?q=Quality%20of%20life&page=2[accessed 7/10/11]

Kiple, K.F. (ed). 2003. The Cambridge Dictionary of Disease. New York: Cambridge University Press.

Larasati. 2009. Kualitas Hidup Pada Wanita yang Sudah Memasuki Masa Menopouse. Skripsi Universitas Gunadarma.

Moleong, L.J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. (Revised Ed.).Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Preedy ,V.R., and Watson,R.R. 2010. Handbook of Desease Burdens and Quality of Life Measure.Online. Available at www.

Saba, Hussain. I. (n.d) Anemia of Cancer: Direct Effects of the Neoplasm. Online

http://www.moffitt.org/moffittapps/ccj/v5ns/article1.html [accessed 06/11/11]

Salim, A. 2001. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Sarafino, E.P. 1990. Health Psychology: Biopsychosocial Interactions. United State of America: John Wiley & Sons, Inc.

Saxton,J. and Daley,A. 2010. Exercise and Cancer Survivorship: Impact

on Health Outcomes and Quality of Life.Online. Available at http://library.nu/search?q=Quality%20of%20life&page=2 [accessed 7/10/11]

Widiyanto, S.P. 2007. Strategi Peningkatan Kualitas Hidup Manusia di Indonesia.

Online at http://perpustakaan.uns.ac.id/jurnal [accessed 15/09/11] 25/7:1-13.

World Health Organization. (1997). WHOQOL: Measuring Quality of Life. Online.

Available athttp://www.who.int/mental_health/media/68.pdf [accessed 06/11/11]

Zohar ,D., dan Marshall,I. 2000. SQ : Memanfaatkan Kecerdasan Spiritusl dalam Berpikir Integralistik dan Holistik Untuk Memaknai Kehidupan. Bandung: PT Mizan Pustaka.