Indonesian Journal of Chemical Science https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs <p style="text-align: justify;"><strong>Indonesian Version</strong></p> <p style="text-align: justify;"><em>Indonesian Journal of Chemical Scienc</em>e menerbitkan artikel penelitian dasar dan konsep-konsep tentang kimia. Terbit tiga kali setahun, 10 artikel tiap terbit. Untuk memperingati peristiwa atau agenda penting lembaga, dapat diterbitkan edisi khusus yang akan memuat 10 artikel pada setiap penerbitan.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>English Version</strong></p> <p style="text-align: justify;">Indonesian Journal of Chemical Science publishes basic research articles and conceptual of Chemistry, issued three (3) times a year, overall 10 articles per issued. To commemorate important events and agenda, may be issued a special edition that will include 10 articles in each issue.</p> <p style="text-align: justify;"><a href="https://scholar.google.co.id/citations?user=OHVhsu4AAAAJ&amp;hl=id&amp;authuser=6" target="_blank" rel="noopener"><img alt="http://journal.unnes.ac.id/sju/public/site/images/widiyanto/images_2_-_copy1_160" src="/sju/public/site/images/widiyanto/images_2_-_copy1_160.jpg"></a> <a href="https://doaj.org/toc/2252-6951" target="_blank" rel="noopener"><img alt="http://journal.unnes.ac.id/nju/public/site/images/widiyanto/doaj" src="/nju/public/site/images/widiyanto/doaj.png"></a> <a href="http://atoz.ebsco.com/Titles/SearchResults/8623?SearchType=Contains&amp;Find=2252-6951&amp;GetResourcesBy=QuickSearch&amp;resourceTypeName=allTitles&amp;resourceType=&amp;radioButtonChanged=" target="_blank" rel="noopener"><img alt="images?q=tbn:ANd9GcTehZDE_vQycHUuT24pwC1BCr7ZmBo" src="http://s9.postimg.org/vnkuguetn/images_q_tbn_ANd9_Gc_Teh_ZDE_v_Qyc_HUu_T24pw_C1_BCr7_Zm_Bo.png?noCache=1429016732"></a></p> en-US agungchem@mail.unnes.ac.id (Jurusan Kimia UNNES) widiefree@gmail.com (widiyanto) Tue, 05 May 2020 01:37:11 +0000 OJS 3.1.1.2 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Sintesis Komposit Geopolimer Berbasis Abu Layang-CuO serta aplikasinya sebagai Mortar Antibakteri https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/33766 <p>Abu layang sebagai limbah batu bara dapat dimanfaatkan menjadi material fungsional diantaranya geopolimer. Geopolimer sebagai bahan bangunan dapat rusak oleh adanya bakteri. Salah satu cara untuk membuat geopolimer tahan terhadap bakteri adalah dengan menambahkan CuO sebagai agen antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan CuO terhadap kualitas geopolimer. Sintesis geopolimer dilakukan dengan menambahkan CuO (0;0,25;0,5;1;1,5% b/b abu layang) ke dalam larutan pengaktif (NaOH, H<sub>2</sub>O dan natrium silikat) pada rasio <em>solid</em>/<em>liquid </em>(S/L) 1,5 dan dilanjutkan dengan penambahkan abu layang. Komposit geopolimer yang&nbsp; dihasilkan dianalisis kuat tekan dan diuji aktivitas antibakterinya menggunakan metode sumuran. Analisis kualitatif juga dilakukan pada geopolimer terbaik yaitu analisis fasa mineral dengan XRD, gugus fungsi dengan FTIR, dan morfologi permukaan dengan SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan CuO memberikan peningkatan kuat tekan dan efektivitas antibakteri. Kuat tekan tertinggi diperoleh dari komposit geopolimer-CuO 1% sebesar 37,02 MPa. Efektivitas antibakteri terbaik untuk bakteri <em>Bacillus subtillis </em>(Gram positif) pada penambahan CuO 1% dengan zona hambat 11,75 mm dan untuk bakteri <em>Escherichia coli </em>(Gram negatif) pada penambahan CuO 1,5% dengan zona hambat 8,25 mm. Sedangkan hasil menunjukkan bentuk geopolimer pada fasa amorf dan puncak CuO terlihat dengan intensitas sangat kecil. Hasil analisis gugus fungsi dan morfologi pada komposit geopolimer-CuO tidak menunjukkan perubahan secara signifikan.</p> Ghozali Akhmad Mustaqim, Ella Kusumastuti ##submission.copyrightStatement## https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/33766 Wed, 08 Apr 2020 00:00:00 +0000 Enkapsulasi Minyak Kemangi (Ocimum basilicum) pada Maltodekstrin dan β-siklodekstrin https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/33011 <p>Minyak atsiri merupakan material yang mudah mengalami degradasi akibat adanya oksigen, cahaya, dan temperatur tinggi. Untuk mengatasi hal tesebut perlu dilakukan enkapsulasi. Maltodekstrin dan <em>β</em>-siklodekstrin merupakan jenis penyalut yang baik dalam enkapsulasi minyak atsiri. Pada penelitian ini dilakukan enkapsulasi minyak kemangi menggunakan maltodekstrin dan <em>β</em>-siklodekstrin sebagai penyalut, dengan perbandingan 1:1, 2:1 dan 1:2 yang dilarutkan dengan etanol 70%. Minyak kemangi yang digunakan diperoleh dari destilasi uap air daun kemangi, kemudian dianalisis dengan GC-MS. Proses enkapsulasi menggunakan metode pengeringan beku. Produk mikrokapsul dikarakterisasi menggunakan SEM. Analisis GC-MS menunjukkan bahwa minyak kemangi mengandung senyawa <em>E</em>-sitral (32,93%), <em>Z</em>-sitral (23,96%), linalool, isokariofillen, <em>α</em>-humulen, dan kariofilen oksida. Hasil penelitian menunjukkan mikrokapsul yang memiliki <em>controlled release</em> paling baik adalah sampel C (Maltodekstrin:<em>β</em>-siklodekstrin = 1:2). Mikrokapsul minyak kemangi berupa serbuk putih kekuningan, tidak menggumpal, dan memiliki bau khas kemangi. Hasil SEM menunjukkan ukuran rata-rata mikrokapsul yang dihasilkan sebesar &lt; 2μm.</p> Tri Budi Yuliyati, Edy Cahyono, Nanik Wijayati ##submission.copyrightStatement## https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/33011 Wed, 08 Apr 2020 09:55:22 +0000 Preparasi Arang Aktif Trembesi Magnetit untuk Adsorpsi Senyawa Tannin dalam Limbah Cair https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/28228 <p>Abstrak</p> <p>Tanaman trembesi merupakan tanaman cepat tumbuh yang digunakan sebagai tanaman hias dan peneduh yang mampu dijadikan menjadi arang. Modifikasi penelitian ini yaitu penmbahan senyawa magnetit pada arang aktif trembesi sehingga mempermudah untuk pemisahan dengan larutan senyawa tannin setelah proses adsorpsi dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh waktu kontak, konsentrasi awal dan pH adsorspi senyawa tannin dalam larutan oleh arang aktif trembesi magnetit. Selain itu, penelitian ini juga mempelajari kinetika dan isoterm adsorpsinya. Pembuatan arang aktif trembesi magnetit dilakukan secara kopresipitasi dengan menambahkan NaOH 5 M dan arang aktif trembesi ke dalam larutan Fe<sub>3</sub>O<sub>4 </sub>yang terdiri dari FeCl<sub>3</sub>.6H<sub>2</sub>O dan FeSO<sub>4</sub>.7H<sub>2</sub>O. Preparasi Adsorben arang aktif trembesi magnetit dikarakterisasi dengan menggunakan XRD, FT-IR dan BET. Optimasi waktu kontak diperoleh pada waktu 50 menit, konsentrasi optimum 6,95 mg/L dan pada pH optimum 6 sebanyak 20,3412 mg/g. Model kinetika adsorpsi senyawa tannin dalam larutan oleh arang aktif trembesi mengikuti model kinetika orde dua semu (Ho) dengan harga koefisien relasinya (R<sup>2</sup>) 0,9989, k<sub>2</sub> 0,0330 g mg<sup>-1</sup> menit, dan q<sub>e </sub>0,0754 mg g<sup>-1</sup>. Model isoterm pada penelitian ini mengikuti model Freundlich dengan harga (R<sup>2</sup>) 0,8095, K<sub>F</sub> sebesar 1,8724 L mg<sup>-1</sup> dan n<sub>F </sub>sebesar 1,955. Komposit arang aktif trembesi magnetit merupakan material yang baik untuk mengadsorpsi senyawa tannin karena dapat menyerap senyawa tannin dalam larutan dengan presentase penyerapan sebesar 81,56%. Pada limbah industri rokok, adsorben arang aktif trembesi magnetit mampu mengadsorpsi senyawa tannin dengan presentase penyerapan sebesar 56,47%.</p> <p><em>Abstract</em></p> <p><em>Trembesi plants are fast-growing plants that are used as ornamental plants and shade that can be used as charcoal. The modification of this study is the use of magnetite compounds on trembesi activated charcoal, making it easier for separation with a solution of tannin compounds after the adsorption process has been carried out. The purpose of this study was to study the effect of contact time, initial concentration and pH of adsorption of tannin compounds in the solution by activated charcoal magnetite. In addition, this study also studied the adsorption kinetics and isotherms. Making activated magnetite trembesi charcoal is done by coprecipitation by adding 5 M NaOH and activated charcoal trembesi into Fe<sub>3</sub>O<sub>4</sub> solution consisting of FeCl<sub>3</sub>.6H<sub>2</sub>O and FeSO<sub>4</sub>.7H<sub>2</sub>O. Adsorbent preparation of magnetite activated charcoal is characterized by using XRD, FT-IR and BET. Optimization of contact time was obtained at 50 minutes, optimum concentration of 6.95 mg/L and at optimum pH 6 of 20.3412 mg/g. The kinetic model of adsorption of tannin compounds in solutions by trembesi activated charcoal follows pseudo second order kinetics (Ho) with the price of the correlation coefficient (R<sup>2</sup>) 0.9989, k<sub>2</sub> 0.0330 g mg<sup>-1</sup> minute, and qe 0.0754 mg g<sup>-1</sup>. The isotherm model in this study follows the Freundlich model with price (R<sup>2</sup>) 0.8095, KF of 1.8724 L mg<sup>-1</sup> and nF of 1.955. Trembesi magnetite activated charcoal composite is a good material for adsorbing tannin compounds because it can absorb tannin compounds in solutions with an absorption percentage of 81.56%. In cigarette industry waste, the magnetite trembesi activated charcoal adsorbent is able to adsorb tannin compounds with absorption percentage of 56.47%.</em></p> shofa Istiana, Jumaeri Jumaeri, Agung Tri Prasetya ##submission.copyrightStatement## https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/28228 Wed, 08 Apr 2020 09:58:26 +0000 Sintesis dan Karakterisasi Nanopartikel Co2+ doped ZnO dengan Menggunakan Metode Sol-Gel https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/37135 <p>Penelitian tentang sintesis dan karakterisasi Co<sup>2+</sup> <em>doped</em> ZnO telah dilakukan dengan menggunakan metode sol-gel. Zink klorida dan kobal klorida heksahidrat digunakan sebagai prekursor. Metanol digunakan sebagai pelarut dan monoetanolamin (MEA) digunakan sebagai penstabil sol. Konsentrasi dopan yang digunakan yakni 3%, 5% dan 7% dengan suhu kalsinasi 400 <sup>o</sup>C. Sampel Co<sup>2+</sup> <em>doped</em> ZnO dianalisis dengan menggunakan FTIR, UVDRS dan XRD. Analisis FTIR menunjukkan regangan pada bilangan gelombang 566 cm<sup>-1</sup> untuk Zn-O dan Co<sup>2+</sup> doped ZnO menunjukkan Zn-O-Co 660 cm<sup>‑</sup> . Nilai band gap diukur dengan UV-DRS untuk sampel Co<sup>2+</sup> doped ZnO pada suhu 400 <sup>o</sup>C untuk 3, 5, 7% sebesar 2,4 eV, 2,3 eV dan 2,4 eV berturut-turut. Struktur kristal ZnO doped Co<sup>2+</sup> yang dihasilkan adalah struktur wurtzite (Heksagonal) dengan rentangan ukuran kristalit berkisar antara 35-86 nm.</p> Sherly Kasuma Warda Ningsih, Bahrizal Bahrizal, Edi Nasra, Yanna Rahayu ##submission.copyrightStatement## https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/37135 Wed, 08 Apr 2020 10:03:16 +0000 Penggunaan Zeolit A Termodifikasi HDTMA sebagai Slow Release Urea Fertilizer https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/28675 <p>Abstrak</p> <p>Penggunaan zeolit A-HDTMA sebagai agen pupuk lepas lambat terhadap ketersediaan nitrogen tanah telah dipelajari. Penelitian diawali dengan sintesis zeolit A menggunakan bahan kaolin dengan metode hidrotermal. Zeolit A hasil sintesis dimodifikasi dengan surfaktan HDTMA dengan konsentrasi 2x KTK. Analisis nitrogen dengan menggunakan metode Kjeldahl. Karakterisasi zeolit A dan zeolit A termodifikasi surfaktan ditentukan menggunakan FT-IR, dan XRD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil karakteristik XRD dan FT-IR dari zeolit hasil sintesis sesuai dengan karakteristik zeolit A. Zeolit A termodifikasi menunjukkan karakteristik yang berbeda pada analisis FT-IR pada serapan bilangan gelombang 2852 dan 2920 cm<sup>-1</sup>,sedangkan hasil karakteristik XRD pada zeolit hasil sintesis menunjukkan fase kristal dengan puncak tertinggi pada 2θ = 7,20°, 10,18°, dan 23,99°. Kandungan nitrogen tertinggi pada pot yang berisi tanaman jagung dan SRUF sebesar 1,04%, sedangkan pada pot yang berisi tanaman jagung dan urea 0,99 %, dan pot tanpa penambahan pupuk sebesar 0,49%.</p> <p>Abstract</p> <p>Research has been studied on the effect of zeolite A-HDTMA as a slow release fertilizer agent on availability of soil nitrogen. The study began with synthesis of zeolite using kaolin by hydrothermal method. Synthesis of zeolite A is modified by HDTMA surfactant with concentration of 2x CEC. Nitrogen analysis using the Kjeldahl method. Characterization of zeolite A and modified zeolite A using FT-IR, and XRD. The results showed that the characteristics XRD and FT-IR of the synthetic zeolite according to the characteristics of zeolite A. Zeolite A modification showed different characteristics in FT-IR analysis of wave number absorption 2852 and 2920 cm-1, while result of XRD of synthesis zeolite shows the crystal phase with highest peak at 2θ = 7.20°, 1018°, dan 23.99°. The higest nitrogen content in a pot containing corn plant and slow release fertilizer is 1.04%, where in pot containing corn plant and urea 0.99%, and pot without additions fertilizer is 0.49%.</p> Ervan Bagus Haditya, Jumaeri Jumaeri, Triastuti Sulistyaningsih ##submission.copyrightStatement## https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/28675 Wed, 08 Apr 2020 10:05:43 +0000 Sintesis Nanopartikel Perak Termodifikasi Kitosan dengan Bioreduktor Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum basilicum L.) dan Uji Aktivitasnya sebagai Antibakteri https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/29927 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Infeksi bakteri terhadap kesehatan manusia merupakan masalah yang sering dijumpai saat ini. Bakteri <em>E.coli</em> dan <em>S.aureus</em> merupakan salah satu bakteri penyebab penyakit kulit, radang paru-paru, diare, dan kegagalan ginjal (Fardias, 1992). Sintesis nanopartikel perak dan uji aktivitasnya terhadap bakteri telah dipelajari untuk mengetahui potensi nanopartikel perak sebagai antibakterial. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh volume AgNO<sub>3</sub> terhadap karakteristik nanopartikel perak yang meliputi ukuran dan distribusi ukuran partikel serta pengaruh waktu kontak terhadap kestabilan nanopartikel dan aktivitas antibakteri. Nanopartikel perak disintesis dengan metode <em>green synthesis</em>, dengan cara mereduksi AgNO<sub>3</sub> dengan bioreduktor daun kemangi dan ditambahkan kitosan 1% sebagai stabilisator. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun kemangi yang dipreparasi dengan metode sokletasi mengandung senyawa fenolik yang berperan dalam proses reduksi perak. Koloid nanopartikel perak yang disintesis selanjutnya dikarakterisasi menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan <em>Particle Size Analyzer</em> (PSA). Analisis terhadap spektra UV-Vis menunjukkan bahwa kondisi optimal sintesis nanopartikel perak diperoleh pada AgNPs II-kit (45:10:15 mL v/v) dengan waktu pembentukan pada hari ke-0. Identifikasi ukuran partikel menggunakan PSA menunjukkan bahwa nanopartikel perak yang disintesis mempunyai ukuran rata-rata terkecil 366 nm yaitu pada koloid AgNPs II-kit dengan distribusi melebar karena terkompositkan dengan kitosan. Analisis zeta potensial menunjukkan nanopartikel perak yang disintesis memiliki ukuran yang beragam dan kurang stabil. Nanopartikel perak hasil sintesis menunjukkan adanya aktivitas antibakteri terhadap bakteri <em>E.coli</em> lebih kuat dibandingkan dengan <em>S.aureus</em>.</p> <p>Abstract</p> <p>Bacterial infections against human health are a common problem today. <em>E.coli</em> and <em>S.aureus</em> is one of the bacteria that causes skin disease, pneumonia, diarrhea, and kidney failure (Fardias, 1992). The synthesis of silver nanoparticles and their activity on bacteria has been studied to determine the potential of silver nanoparticles as antibacterial. The purpose of this study was to determine the effect of the volume of AgNO<sub>3</sub> on the characteristics of silver nanoparticles which included the size and distribution of particle size and the effect of contact time on nanoparticle stability and antibacterial activity. Silver nanoparticles were synthesized by the green synthesis method, by reducing AgNO<sub>3</sub> with basil leaf extract and 1% chitosan added as a stabilizer. The results showed that basil leaf extract prepared by the socletation method contained phenolic compounds which played a role in the process of silver reduction. The synthesized silver nanoparticles colloid were then characterized using Spectrophotometers UV-Vis and Particle Size Analyzer (PSA). Analysis of UV-Vis spectra showed that the optimal conditions for synthesis of silver nanoparticles were obtained at AgNPs II-kit (45:10:15 mL v/v) with the formation time on day 0. Particle size identification using PSA showed that the synthesized silver nanoparticles had the smallest average size of 366 nm, namely AgNPs II-kit with a widening distribution because it was composited with chitosan. Potential zeta analysis shows that the synthesized silver nanoparticles have diverse and less stable size. The synthesized silver nanoparticles showed antibacterial activity against <em>E. coli</em> tends to be stronger than <em>S. aureus</em> bacteria.</p> Tiwi Prasetyaningtyas, Agung Tri Prasetya, Nuni Widiarti ##submission.copyrightStatement## https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/29927 Wed, 08 Apr 2020 10:09:05 +0000 Sifat Magnetik Material La0,6Ba0,4MnO3 dari LaMnO3 dan BaMnO3 Menggunakan Metode Kombinasi Sol-Gel dan Solid State https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/33816 <p><em>Perovskite manganite</em> is a manganese oxide-based magnetic material with the basic structure of <em>A</em>MnO<sub>3</sub>. Interactions between structures and electron transport of materials are studied of the substitution at position <em>A</em>. Perovskite material has interesting physical properties, such as magnetoresistance and magnetocaloric. The goal of research is to study the magnetic properties La<sub>0,6</sub>Ba<sub>0,4</sub>MnO<sub>3</sub> from <em>single-phase</em> LaMnO<sub>3</sub> and BaMnO<sub>3</sub> compounds by combination sol-gel and <em>solid state</em> methods. Synthesis of LaMnO<sub>3</sub> and BaMnO<sub>3</sub> compounds using gel sol methods. The synthesis of La<sub>0,6</sub>Ba<sub>0,4</sub>MnO<sub>3</sub> using <em>solid state</em> method, that is by mixing LaMnO<sub>3</sub> and BaMnO<sub>3</sub> powder mechanically and sintering at 1000º C for 24 hours. The characterization magnetic properties of La<sub>0,6</sub>Ba<sub>0,4</sub>MnO<sub>3</sub> using<em> Vibrating Sample Magnetometer</em> indicate that the material is paramagnetic classified as <em>soft-magnetic</em>.</p> Nelis Saadah, Jumaeri Jumaeri, Witha Berlian Putri, Dicky Munazat, Budhy Kurniawan ##submission.copyrightStatement## https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/33816 Wed, 08 Apr 2020 10:18:27 +0000 Preparasi Komposit Kitosan-Alumina Beads sebagai Adsorben Ion Logam Kadmium(II) dan Nikel(II) dalam Larutan https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/36782 <p>It has been done preparation of composite <em>beads</em> from chitosan and alumina for adsorption Cd(II) and Ni(II). Research includes the preparation of adsorbents (chitosan <em>beads</em>, alumina, and composite <em>beads</em>) and adsorption optimization including pH, contact time, concentration and selectivity. FT-IR characterization showed the presence of a typical group of composite <em>beads</em>. The SAA characterization showed chitosan <em>beads</em> including micropores, alumina and composite <em>beads</em> including mesopores. The optimization results of Cd(II) adsorption showed the optimum concentration at 0.55 mmol/L, while the optimization of pH and contact time of chitosan <em>beads</em> were obtained at pH 6 for 90 minutes, optimum alumina at pH 5 for 60 minutes, and optimum composite <em>beads</em> at pH 6 for 60 minutes . The optimization results of Ni(II) adsorption showed the optimum contact time at 60 minutes, while the optimization of pH and the concentration of chitosan <em>beads</em> occurred at pH 6 with a concentration of 0.65 mmol/L, optimum alumina at pH 7 with a concentration of 0.65 mmol/L, and the optimum composite <em>beads</em> at pH 6 with a concentration of 0.55 mmol/L. The amount of adsorbed Ni(II) 3,797x10<sup>-2</sup> mmol/g and Cd(II) 1,7997x10<sup>-2</sup> mmol/g, so that composite <em>beads</em> are more selectively adsorbing Ni(II) compared to Cd(II).</p> Melly Noviana, F Widhi Mahatmanti ##submission.copyrightStatement## https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/36782 Wed, 08 Apr 2020 10:20:30 +0000 Ekstraksi dan Analisis Zat Warna Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garciana mangostana L.) serta Aplikasinya sebagai Indikator Asam-Basa https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/37377 <p>Zat warna merah yang dimiliki oleh kulit buah manggis bersumber dari antosianin. Pada kondisi keasaaman yang berbeda, zat ini dapat berubah warna. Pada suasana asam, ntosianin akan berwarna merah dan akan berwarna hijau biru pada suasana basa. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh jenis pelarut dan waku ekstraksi pada kulit buah manggis terhadap serapan yang dimiliki oleh zat warna pada kulit buah manggis. Untuk uji kualitatif, dilakukan uji warna dan analisis gugus fungsi untuk mengidentifikasi keberadaan antosianin. Uji kinerja kulit buah manggis dilakukan dalam bentuk kertas pH dan sebagai indikator titrasi asam basa. Hasil penelitian menunjukkan, pelarut yang dapat mengekstrak kulit buah manggis secara optimum adalah etanol-HCl, dengan waktu maserasi 1 hari. Pada uji warna, ekstrak akan berwarna merah pada keadaan asam dan berwarna hijau kebiruan pada keadaan basa. Pada analisis gugus fungsi, beberapa puncak serapan IR menunjukkan adanya senyawa antosianin. Penyimpanan terbaik untuk ekstrak kulit manggis adalah pada botol gelap dengan suhu penyimpanan yang rendah. Semakin lama waktu penyimpanan ekstrak, maka nilai serapan semakin menurun. Penurunan serapan ini juga sebanding dengan penambahan asam askorbat. Ke dalam ekstrak kulit buah manggis ini memiliki trayek 5,83-10,47. Pada titrasi asam basa, indikator ekstrak kulit buah manggis didapatkan persen kesalahan yaitu +0,0022% pada titrasi HCl-NaOH dan -0,0358% untuk titrasi CH<sub>3</sub>COOH - NaOH.</p> Amallia Kurniawati, Mohammad Alauhdin ##submission.copyrightStatement## https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/37377 Wed, 08 Apr 2020 10:23:39 +0000 Pengaruh Rasio Mol M2O/SiO2 dan M2O/Al2O3 (M: Na dan K) terhadap Karakteristik Geopolimer Abu Layang Batubara https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/29354 <p>Abu layang kelas C telah diteliti mampu menggantikan semen portland karena memiliki kandungan alumino dan silika yang tinggi, sebagai bahan dasar pada beton berbasis geopolimer. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi reaksi geopolimerisasi adalah jenis aktivator yang digunakan yang berperan dalam proses pelarutan alumino dan silika. Semakin banyak kation penyeimbang muatan anion yang terbebaskan, akan meningkatkan kompleksitas geopolimerisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh rasio mol M<sub>2</sub>O/SiO<sub>2</sub> dan M<sub>2</sub>O/Al<sub>2</sub>O<sub>3</sub> (M : Na dan K) terhadap kualitas geopolimer yang dihasilkan serta mengetahui pengaruh dua jenis aktivator KOH dan NaOH terhadap kualitas geopolimer berdasarkan uji kuat tekan, analisis fasa mineral XRD dan analisis gugus fungsi FTIR. Sintesis geopolimer dilakukan dengan memvariasi mol aktivator KOH dan NaOH dari variasi massa KOH dan NaOH sebesar (3,5; 4; 4,5; 5 dan 5,5 gram). Hasil penelitian menunjukan bahwa kuat tekan optimum diperoleh pada geopolimer dengan rasio mol K<sub>2</sub>O/SiO<sub>2</sub> sebesar 0,17 dan rasio K<sub>2</sub>O/Al<sub>2</sub>O<sub>3</sub> sebesar 0,91 pada <em>curing</em> 60 ℃ sebesar 34,14 MPa dan&nbsp; rasio mol Na<sub>2</sub>O/SiO<sub>2</sub> 0,27 dan rasio Na<sub>2</sub>O/Al<sub>2</sub>O<sub>3 </sub>1,43 memiliki kuat tekan sebesar 31,85 MPa. Hasil suhu <em>curing</em> optimum pada penelitian ini sebesar 60 ℃ dimana terjadi penurunan nilai kuat tekan pada perlakuan <em>curing </em>sebesar 75 ℃ dan 90 ℃. Karakteristik geopolimer dengan rasio mol M<sub>2</sub>O/SiO<sub>2</sub> dan M<sub>2</sub>O/Al<sub>2</sub>O<sub>3</sub> (M : K dan Na) terhadap analisis XRD mengakibatkan terbentuknya puncak KAlSiO<sub>4</sub> (Ka) dan NaAlSi<sub>3</sub>O<sub>8</sub> (Al) dengan nilai derajat kristalinitas total aktivator K<sup>+ </sup>52,14% lebih amorf dari aktivator Na<sup>+</sup> 55,32% dan lebih amorf dari prekursor abu layang 58,05%. Analisis gugus fungsi geopolimer dengan FTIR menunjukkan telah terbentuk geopolimer ditandai dengan adanya pita serapan pada 996,01 cm<sup>-1</sup>dan 987,53 cm<sup>-1 </sup>mengindikasikan vibrasi ulur asimetri Si-O-Si atau Si-O-Al.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Class C fly ash has been studied capable of replacing portland cement because it has a high content of alumino and silica, as a base for geopolymer-based concrete. One of the factors that can influence the geopolymerization reaction is the type of activator used which plays a role in the dissolution process of alumino and silica. The more anion load balancing cations released, will increase the complexity of geopolymerization. The purpose of this study was to determine the effect of mmole ratios M<sub>2</sub>O/SiO<sub>2</sub> and M<sub>2</sub>O/Al<sub>2</sub>O<sub>3</sub> on the geopolymer quality produced and determine the effect of two types of KOH and NaOH activators on geopolymer quality based on the test compressive strength, XRD mineral phase analysis and FTIR functional group analysis. The geopolymer synthesis was carried out by varying the moles of KOH and NaOH activators from the mass variations of KOH and NaOH for (3.5; 4; 4.5; 5 and 5.5 grams). The results showed that optimum compressive strength was obtained in geopolymers with a mol ratio of K<sub>2</sub>O/SiO<sub>2</sub> of 0.17 and a ratio of K<sub>2</sub>O/Al<sub>2</sub>O<sub>3</sub> of 0.91 at <em>curing</em> 60 ℃ of 34.14 MPa and mol ratio of Na<sub>2</sub>O/SiO<sub>2</sub> 0.27 and the ratio of Na<sub>2</sub>O/Al<sub>2</sub>O<sub>3 </sub>1.43 has a compressive strength of 31.85 MPa. The temperature results <em>curing</em> optimumin this study were 60 ℃ where the compressive strength decreased in the treatment <em>curing </em>by 75 ℃ and 90 ℃. Geopolymer characteristics with mmole ratios M<sub>2</sub>O/SiO<sub>2</sub> and M<sub>2</sub>O/Al<sub>2</sub>O<sub>3</sub> (M: K and Na) to XRD analysis resulted in the formation of peak KAlSiO<sub>4</sub> (Ka) and NaAlSi<sub>3</sub>O<sub>8</sub> (Al) with the degree of crystallinity total K<sup>+ </sup>52.14% activator is more amorphous than Na<sup>+</sup> activator<sup>+</sup> 55.32% and more amorphous than fly ash precursor 58.05%. Analysis of the geopolymer functional group with FTIR showed that geopolymers were formed characterized by the presence of absorption bands at 996.01 cm<sup>-1 </sup>and 987.53 cm<sup>-1 </sup>indicating stretching vibrations of Si-O-Si or Si-O-Al asymmetry.</p> Ridho Aditya Rahman, Ella Kusumastuti, Nuni Widiarti ##submission.copyrightStatement## https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs/article/view/29354 Wed, 08 Apr 2020 10:28:32 +0000