Abstract

Ada tiga macam bentuk teori pasar efisien, salah satunya adalah pasar efisien bentuk lemah dimana investor tidak dapat menggunakan informasi masa lalu untuk memprediksi nilai di masa sekarang. Sementara itu, anomali pasar efisien merupakan hal yang bertentangan dengan teori pasar efisien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terjadi fenomena Monday Effect, Weekend Effect, dan Month of The Year Effect pada Bursa Efek Indonesia dan Bursa Efek Singapura. Populasi penelitian ini merupakan data harga penutupan harian IHSG dan STI periode 12 Februari 2014 – 12 Februari 2016. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh untuk pengujian Monday Effect & Month of The Year Effect sedangkan purposive sampling untuk pengujian Weekend Effect. Metode analisisnya menggunakan model ANOVA dan analisis regresi linear. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada uji hipotesis pertama dan kedua terjadi kesamaan hasil pengujian, yaitu ditemukan fenomena Monday Effect pada Bursa Efek Indonesia dan Bursa Efek Singapura. Uji hipotesis ketiga dan keempat juga terdapat kesamaan hasil, yaitu tidak ditemukan fenomena Weekend Effect pada kedua bursa. Uji hipotesis kelima dan keenam ditemukan perbedaan hasil pengujian fenomena Month of The Year Effect, dalam hal ini Bursa Efek Indonesia terjadi pada bulan Februari sedangkan di Bursa Efek Singapura pada bulan Januari & Agustus. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyarankan agar peneliti selanjutnya dapat menggunakan teknik analisis yang berbeda dan investor dapat memperhatikan hari maupun bulan perdagangan sebelum mengambil keputusan investasi.