Journal of Social and Industrial Psychology https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/sip en-US Journal of Social and Industrial Psychology 252-6838 RESISTANCE TO CHANGE (STUDI DESKRIPTIF PADA PERUBAHAN PERATURAN DI PT. MITRA SENTOSA PLASTIK INDUSTRI SEMARANG) https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/sip/article/view/3700 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tingkat resistance to change pada perubahan peraturan di PT. Mitra Sentosa Plastik Industri Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan mengambil populasi karyawan PT. Mitra Sentosa Plastik Industri. Sampel berjumlah 84 karyawan. Resistance to change diukur dengan skala resistance to change. Rentang koefisien validitas item valid 0,293 sampai dengan 0,653. Koefisien reliabilitasnya sebesar 0,736. Hasil penelitian menggambarkan bahwa tingkat resistance to change tergolong dalam kategori rendah.</p><p> </p><p>The purpose of this study is to know determine how the level of resistance to change on the regulatory changes in PT. Mitra Sentosa Plastics Industry Semarang. This study is a quantitative descriptive research by taking a population of employees of PT. Mitra Sentosa Plastics Industry. Samples representing 84 employees. Resistance to change is measured with a scale of resistance to change. Item validity coefficients range 0.293 to 0.653 valid. Reliability coefficient of 0.736. Results illustrate that the level of resistance to change falls into the category of low.</p> Abdul Rasyid Hendarto Rahmawati Prihastuty ##submission.copyrightStatement## 2014-10-15 2014-10-15 3 1 PERCEIVED QUALITY KONSUMEN TERHADAP LOCAL COSMETIC BRAND DAN GLOBAL COSMETIC BRAND (STUDI PADA MARTHA TILAAR DAN THE BODY SHOP) https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/sip/article/view/3705 <p>Produk yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya adalah produk kosmetik. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui tingkat perceived quality konsumen terhadap local cosmetic brand (Martha Tilaar) maupun global cosmetic brand (The Body Shop). Perceived Quality diukur melalui enam dimensi yaitu kinerja, fitur, keandalan, daya tahan, pelayanan serta gaya dan desain. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif komparasi. Variabel penelitian ini yaitu perceived quality. Sampel penelitian ini adalah konsumen pengguna Martha Tilaar dan The Body Shop yang berada di Kota Semarang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan incidental sampling sebanyak 100 responden. Instumen yang digunakan adalah Skala Likert yang dimodifikasi. Analisis data yang digunakan adalah Paired Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan taraf signifikansi dari uji hipotesis adalah 0,481, artinya tidak terdapat perbedaan perceived quality konsumen terhadap local cosmetic brand dan global cosmetic brand. Sementara itu pada hasil penelitian per dimensi menunjukkan adanya perbedaan perceived quality pada kedua cosmetic brand tersebut dimana local cosmetic brand unggul pada dimensi kinerja dan daya tahan, sedangkan global cosmetic brand unggul pada keandalan, pelayanan serta gaya dan desain.</p><p> </p><p>Products continues to increase every year is a cosmetic product. This study aimed to determine the level of perceived quality of the local consumers of cosmetic brands (Martha Tilaar) and global cosmetic brand (The Body Shop). Perceived Quality is measured through six dimensions of performance, features, reliability, durability, and style and design services. The method used in this study was a quantitative comparison. This research variables, namely perceived quality. The sample was Martha Tilaar consumers and users of The Body Shop is located in the city of Semarang with a sampling technique using incidental sampling of 100 respondents. Instrument used was a modified Likert Scale. Analysis of the data used is Paired Sample T-Test. The results showed a significance level of a hypothesis test is 0.481, meaning that there is no difference in the perceived quality of the local consumers of cosmetic brand and a global cosmetic brand.</p> Ervina Witriana Putri Rahmawati Prihastuty ##submission.copyrightStatement## 2014-10-15 2014-10-15 3 1 INFLUENCE OF THE COMPENSATION BY THE COMPANY GIVING SATISFACTION TO EMPLOYEE MORALE IN TPKS (PENGARUH KEPUASAN PEMBERIAN KOMPENSASI OLEH PERUSAHAAN TERHADAP SEMANGAT KERJA KARYAWAN DI TPKS) https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/sip/article/view/3708 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepuasan pemberian kompensasi oleh perusahaan terhadap semangat kerja karyawan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional, dengan mengambil populasi karyawan divisi terminal dan operasi lapangan yang berjumlah 42 karyawan. Kepuasan pemberian kompensasi diukur dengan skala kepuasan pemberian kompensasi. Item yang valid memiliki p&lt;0,05 yaitu pada rentang signifikansi 0,000-0,010. Koefisien reliabilitasnya sebesar 0,891. Hasil penelitian menunjukkan kepuasan pemberian kompensasi tergolong dalam kriteria rendah dengan persentase 47,6 %, Kepuasan pemberian kompensasi ditinjau dari tiap aspek kepuasan pemberian kompensasi yang tertinggi hingga rendah yaitu pekerjaan itu sendiri, imbalan tidak langsung, lingkungan pekerjaan dan imbalan langsung. Semangat kerja karyawan sebagian besar karyawan berada pada kriteria sedang, yaitu 45,3 %. Hasil penelitian menunjukkan nilai koefisien r = 0,611 dengan signifikansi atau p = 0,000. Hasil penelitian tersebut menunjukkan pengaruh kepuasan pemberian kompensasi terhadap semangat kerja dengan R Square sebesar 37,3%.</p><p> </p><p>This research aims to know the influence of the satisfaction of giving compensation by the company to employee morale. This research is quantitative correlational with took population amount to 42 employees. Awarding compensation satisfaction is measured by the satisfaction of giving compensation scale. The valid items has p&lt;0,05 at the significance range are from 0,000 to 0,010. This scale have reliability coefficient of 0,891. The results showed that variable compensation satisfaction belonging to the low criteria with the percentage of 47,6 %. Compensation satisfaction reviewed from each aspects, from the highest until lowest are the work itself, indirect remuneration, work environment and direct remuneration. The criteria of employe morale is average that is 45,3%. The results show r coefficient = 0,611 with significance or p = 0,000. This research results show the influence of the satisfaction of giving compensation to the spirit of the work with the R square of 37,3%.</p> Dinar Emilia Safitri Sugeng Hariyadi Rahmawati Prihastuty ##submission.copyrightStatement## 2014-10-15 2014-10-15 3 1 KONFORMITAS MAHASISWA PADA KOS BARU (Studi Komparasi Mahasiswa Baru dan Mahasiswa Lama di Lingkungan UNNES) https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/sip/article/view/3711 <p>Kos merupakan tempat tinggal sementara untuk para mahasiswa yang sedang menempuh pendidkan di UNNES. Mahasiswa baru dan mahasiswa lama yang menempati kos baru nantinya akan bertemu dengan penghuni kos sebelumnya dimana di dalam kos sudah ada norma dan peraturan yang berlaku agar dapat diterima oleh penghuni kos sebelumnya dengan cara konformitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan konformitas mahasiswa baru dan mahasiswa lama yang menempati kos baru. Hasil penelitiian menggunakan uji t-test menunjukan uji hipotesis sebesar 0,574 (p&lt;0,05), yang artinya ada perbedaan konformitas antara mahasiswa baru dan mahasiswa lama yang menempati kos baru. Mahasiswa baru memiliki konformitas yang tinggi dibandingkan mahasiswa lama.</p><p> </p><p>House boarding is temporary residence for the students who are taking the education in UNNES. New students and old students occupy the new house boarding will meet the previous occupants where have been the existing norms in effect to be accept with conformity. The conformity requires them behave the same thing in accordance with applicable regulations. This study aimed to determine differences of the conformity between new and old students who live in a new house boarding. Research purpose is knowing differences of the conformity between new and old students who live in a new house boarding. Results of studies using t-test show that the hypothesis of 0,574 (p&lt;0,05) means the conformity differences between the new and old students who live in a new house boarding where the conformity of new students is higer than old students.</p> Imawati Fauziyah Sugiyarta Stanislaus Moh. Iqbal Mabruri ##submission.copyrightStatement## 2014-10-15 2014-10-15 3 1 PENGARUH PENILAIAN KONSULTAN TERHADAP PENENTUAN GAJI KARYAWAN (STUDI EKSPERIMEN) https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/sip/article/view/3729 <p>Untuk keperluan penentuan gaji perusahaan dapat membentuk panitia penggajian untuk melakukan rapat membahas nominal gaji. Konsultan dapat dilibatkan sebagai ahli penggajian. Dinamika interaksi antara panitia penggajian dengan konsultan dilihat dengan menggunakan prinsip konformitas terhadap ahli. Rekomendasi konsultan sangat potensial mempengaruhi keputusan panitia penggajian, terutama untuk nominal gaji jabatan manajerial yang amat relatif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penilaian konsultan terhadap penentuan gaji karyawan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Desain eksperimen one group pretest-posttest. Subyek penelitian adalah karyawan divisi human resource atau personalia, pendidikan terakhir Sarjana Psikologi berjumlah tujuh orang. Subyek dimasukkan pada situasi penentuan gaji jabatan manajer yang nominalnya amat relatif sehingga panitia penggajian berada di situasi yang ambigu. Konsultan didatangkan untuk menilai nominal yang ditentukan panitia dan mengusulkan nominal yang lebih tinggi. Konsultan berpengaruh apabila panitia penggajian mengubah nominal menjadi lebih tinggi mengikuti konsultan secara sukarela sesuai prinsip konformitas. Teknik analisis data yang digunakan Paired Samples T-Test untuk menguji perbedaan skor pretest dan posttest. Diperoleh nilai p 0.044 &lt; 0.05 signifikan.. Kesimpulan ada pengaruh penilaian konsultan terhadap penentuan gaji karyawan.</p><p> </p><p>For this requirement, the company arrange a compensation committee for discussing compensation nominal. A consultant can be involved to this process as an expert. Interaction between consultant and compensation committee are viewed as conformity to expert mechanism. Consultant recommendation are very potential influence compensation committee decision especially compensation for managerial level that very relative. This study are purpose to examine the effect of consultant judgement to compensation determination. This is an experimental study with one group pretest-posttest design. Seven subjects, employees of human resource department at least Psychology bachelor degrees, are created in a compensation process situation to determine compensation for managerial level. Nominal compensation for managerial level are very relative making subjects in ambiguous situation. A consultant are involved to judge nominal determined by compensation comitte and suggest a higher nominal. When compensation comitte voluntary change the nominal higher closed by consultant nominal means that consultant has an effect on compensation determination process, match with conformity mechanism. Scor of pretest-posttest analyzed with Paired Sample T-Test. The result is p 0.044 &lt; 0.05 significant. The conclusion is consultant judgement effect compensation determination.</p> Muflikha Sabilla Amri Hana Muhammad ##submission.copyrightStatement## 2014-10-15 2014-10-15 3 1 EFEKTIVITAS PERSONAL SELLING DAN SALES PROMOTION DENGAN SAMPEL PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/sip/article/view/3732 <p>Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektivitas metode promosi personal selling dan sales promotion berupa sampel produk terhadap keputusan pembelian konsumen. Penelitian ini melibatkan 80 orang responden mahasiswa Universitas Negeri Semarang yang didapatkan melalui teknik purposive sampling. Desain penelitian ini merupakan desain kuasi eksperimen. Pengambilan data dilakukan dengan metode angket dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Berdasarkan analisis data, didapatkan hasil bahwa sebanyak 19 (47,5%) responden memutuskan untuk membeli melalui personal selling, sedangkan sebanyak 27 (67,5%) responden memutuskan untuk membeli melalui pemberian sampel produk. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini pemberian sampel produk lebih efektif dalam mendorong terjadinya keputusan pembelian responden.</p><p> </p><p>This research’s aim is to know the differences effectivity of promotion method between personal selling and sales promotion of product sample for consumen purchase decisions. This research engage 80 people of Semarang State University’s student respondent that gather with purposive sampling technique. Reseachh design is quasi experiment design. Data making is done with questionnaire method and analized with descriptive analysis. Based on data analiysis, there are 19 (47,5 %) of respondent took a decision to buy by personal selling, and 27 ( 67,5%) of respondent took a decision to buy by product sample distribution. Based on that result, it inferential that in this research, product sample distribution is more effective on encourage of respondent buying decision.</p> Nilam Dwi Setiani Siti Nuzulia ##submission.copyrightStatement## 2014-10-15 2014-10-15 3 1 NILAI KONSUMSI PADA MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/sip/article/view/3735 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana nilai konsumsi pada mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, dengan mengambil populasi mahasiswa Psikologi. Sampel berjumlah 200 mahasiswa. Nilai konsumsi diukur dengan skala nilai konsumsi. Rentang koefisien validitas item valid dari 0,298 sampai dengan 0,692. Koefisien reliabilitasnya sebesar 0,903. Hasil penelitian menggambarkan bahwa nilai konsumsi mahasiswa berdasarkan aspek fungsional tergolong tinggi dengan presentase 65,00%, aspek sosial tergolong sedang dengan presentase 58,50%, aspek emosional tergolong sedang dengan presentase 53,00%, aspek epistemik tergolong tinggi dengan presentase 66,50%, dan aspek kondisional tergolong sedang dengan presentase 53,00%.</p><p> </p><p>The purpose of this study is to know how are consumption values of students at Psychology Department, State University of Semarang. This study was used a descriptive-quantitative methodological approach, which is population are students at Psychology Department, State University of Semarang. Samples are 200 students and data has been collected in consumption values psychological scale. As a validity, items are in 0,298 to 0,692 of coefisien validity and it shows 0,903 of reliability score. The result illustrate that the consumption values based on the functional aspects of students were high in 65,00%, social aspect were moderate in 58,50%, emotional aspect were moderate in 53,00%, epistemic aspect were high in 66,50%, and last is conditional aspect of students were moderate in 53,00%.</p> Noviana Puspita Sari Siti Nuzulia ##submission.copyrightStatement## 2014-10-15 2014-10-15 3 1 INTEGRITAS PROFESI HAKIM DI KOTA SEMARANG https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/sip/article/view/3740 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan integritas hakim di kota Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini menggunakan metode wawancara (interview) dan observasi.Subjek penelitian ini yaitu tiga hakim di Pengadilan Negeri Semarang dan Pengadilan Negeri Ungaran. Penelitian ini penting karena memberikan informasi dan kepahaman mengenai integritas profesi hakim ditinjau dari aspek psikologis manusia.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga subjek penelitian pernah mendapatkan tawaran gratifikasi terhadap kasus yang ditangani. Subjek A pernah mendapatkan intimidasi ketika menolak tawaran gratifikasi yang diberikan oleh pihak yang berperkara. Subjek B mengungkapkan bahwa gratifikasi yang ada berupa uang, barang dan wanita. Subjek C mengungkapkan banyaknya godaan dalam menjalankan tugas dan wewenang hakim tidak membuat C menyerah untuk berusaha menjalankan sebaik mungkin profesi tersebut.</p><p> </p><p>This study aimed to describe the integrity of judge profession at Semarang city. This research is a qualitative research with descriptive approach. This research used interview and observation method. Subject of this research is three judge from Semarang State Court and Ungaran State Court. This research is very important because give an information and comprehension about integrity of judge profession from the view of human psychological aspect. The result of this research showed that three subject of research have been accepted gratiffication offer from the case that they’ve handle. The subject A ever got intimidation when ignored the gratiffication offer which gaven by people who’s cased. The subject B told that the exsist gratiffication was money, things, woman. The subject C told that the amount of temptation in judge performing duty and authority doesn’t made C’s gave up to try perform his best for those profession.</p> Nugrah Asriningtyas Sugeng Hariyadi ##submission.copyrightStatement## 2014-10-15 2014-10-15 3 1 KECENDERUNGAN PERILAKU KONSUMTIF REMAJA DI TINJAU DARI PENDAPATAN ORANG TUA PADA SISWA-SISWI SMA KESATRIAN 2 SEMARANG https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/sip/article/view/3744 <p>Penelitian ini bertujuan mengetahui ada tidaknya perbedaan perilaku konsumtif remaja yang berasal dari pendapatan orang tua atas, menengah dan bawah. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif deskriptif dan komparatif. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Kesatrian 2 Semarang. Hasil penelitian berdasarkan dari analisis diskriptif menunjukkan bahwa secara umum perilaku konsumtif dari keseluruhan kelompok subjek berada pada kategori sedang. Sementara dari pengujian hipotesis melalui uji anava diperoleh hasil yang signifikansi 0,000 dimana 0,000 &lt; 0,005 sehingga Ha diterima dan Ho ditolak, ini berarti ada perbedaan perilaku konsumtif remaja ditinjau dari pendapatan orang tua. Sementara dari hasil komparasi melalui menunjukkan ada perbedaan perilaku konsumtif remaja antara pendapatan orang tua atas dan pendapatan orang tua bawah dengan diperoleh Mean Difference sebesar 22,18302 dengan nilai signifikansi 0,000 (&lt; 0,05; signifikan). Ada perbedaan perilaku konsumtif antara pendapatan orang tua menengah dan pendapatan orang tua bawah dengan diperoleh Mean Difference sebesar -17,24236 dengan nilai signifikansi 0,002 (&lt; 0,05; signifikan). Tidak ada perbedaan perilaku konsumtif remaja antara pendapatan orang tua atas dan pendapatan orang tua menengah dengan diperoleh Mean Difference SSE sebesar -4,94066 dengan nilai signifikansi 0,601 (&lt; 0,05; tidak signifikan).</p><p> </p><p>This research aims to know the differences in consumptive behaviour of adolescent who come from of parents income at the middle-up, middle, and lower-middle. This research uses descriptive quantiative and comapartive research. This research was carried out in 2 Senior High School Kesatrian Semarang. The result based on descriptive analysis shows that generally consumptive behaviour from all of the subjects are on the middle category. While from testing the hypotheses through anava obtained the significance result 0.000 where 0.000&lt; 0.005 so that Ho is rejected and Ha is accepted, this means that there are differences in adolescent consumptive behaviour among of parents income of the upper and lower income of parents. While the results through comparison show there is a difference in adolescent consumptive behaviour among of parents income of upper and lower income with Mean Difference is obtained by 22.18302 with a significance value of 0.000 (&lt;0.05, significant). There is a difference between consumptive behavior of parents income of the middle and lower of parents income with Mean Differencve is obtained by 17.24236 with a significance value of 0.002 (&lt;0.05, significant). There is no difference in consumptive behavior adolescents between middle-up of parents income and middle of parents income gained Mean SSE Difference of -4.94066 with a significance value of 0.601 (&lt;0.05, not significant).</p> Puspitana Nilawati Sipunga Amri Hana Muhammad ##submission.copyrightStatement## 2014-10-15 2014-10-15 3 1 ORIENTASI POLITIK PEMILIH PADA PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2014 https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/sip/article/view/3747 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah orientasi politik pemilih dalam pemilihan umum legislatif tahun 2014. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif prosentase, dengan sampel penelitian berjumlah 400 orang pemilih yang diambil secara acak dari delapan kecamatan di Kabupaten Kebumen.Hasil penelitian menunjukkan bahwa orientasi yang paling banyak digunakan dalam memilih calon legislatif adalah berdasarkan identifikasi terhadap partai (27,5%) dan pendapat evaluatif (25,2%). Faktor lain seperti peristiwa personal, citra sosial, faktor emosional, munculnya kandidat baru, dan paternalistik tokoh agama secara mayoritas merupakan orientasi dalam kategori sedang. Sedangkan pada faktor yang berhubungan dengan visi misi dan program kerja ternyata mayoritas tergolong rendah. Orientasi politik pemilih pada Pemilu Legislatif 2014 di Kabupaten Kebumen secara keseluruhan sudah mengarah kepada orientasi positif (59,2%). Orientasi positif bermakna bahwa orientasi-orientasi politik yang terdiri dari tiga dimensi utama yaitu dimensi kognitif, afektif, dan evaluatif memiliki tingkat orientasi yang tinggi, dengan frekuensi kesadaran yang tinggi, perasaan dan evaluasi positif terhadap objek politik.</p><p> </p><p>This research aimed to determine what’s political orientation of voters in legislative’s election year 2014. This research is a descriptive quantitative procentase, which took sample amount to 400 voters. The result showing that the most used orientation in chosing a legislative candidates are partai identification (27,5%) and an evaluative oppinion (25,2%). Majority, on the othe factors like personal event, social image, emotional factor, new candidate, and the paternalistic of religious leaders are classified in medium class. While in vision mission factor also the work programs are classified in low class. Overall, political orientation of voters in Legislative’s Election Year 2014 in Kebumen Regency aimed to possitive orientation (59,2%). Possitive orientation have meaning that all of political orientation which is kognitive, affective, an evaluative orientation are high, with high awareness frequency, high feeling, and possitive evaluation to political object.</p> Ratih Puspita Yunita Sugiyarta Stanislaus ##submission.copyrightStatement## 2014-10-15 2014-10-15 3 1