Gagasan Perwakilan Masyarakat Hukum Adat dalam Dewan Perwakilan Daerah: Keseimbangan antara Kepentingan Individualitas dan Kolektivitas dalam Pelaksanaan Demokrasi

  • Iwan Erar Joesoef Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta
Keywords: Masyarakat Hukum Adat, Tanah Ulayat, Dewan Perwakilan, Demokrasi

Abstract

Masyarakat Hukum Adat (MHA) sebagai bagian dari Sistem Hukum Adat diakui keberadaannya maupun pelaksanaanya dalam Hukum Tanah Nasional (HTN). Dalam Penjelasan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) disebutkan bahwa fungsi Hukum Adat sebagai sumber utama dalam pembangunan HTN, walaupun pengakuan tersebut disertai dengan syarat sepanjang menurut kenyataannya masih ada dan sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara. Pengakuan, penghormatan dan perlindungan hak-hak MHA telah diadopsi baik dari dimensi global seperti konvensi-konvensi internasional maupun dari dimensi nasional seperti dalam UUD 1945 dan hukum positif nasional Indonesia. Meskipun telah ada pengakuan, penghormatan dan perlindungan MHA baik berdimensi global maupun nasional, masih terjadi konflik pertanahan yaitu persoalan yang timbul dari pelepasan “Tanah Ulayat” kepada pemerintah maupun swasta dan perorangan individu yang merugikan MHA. Masalah utamanya adalah ketidaksamaan persepsi antara lembaga-lembaga Eksekutif, Judikatif dan Legislatif didalam konsistensi pemberian ganti kerugian yang mengakibatkan re-claim Tanah Ulayat (Adat), tidak ada landasan pendekatan multi dimensi (antropologi, sosiologi dan lainnya disamping pendakatan yuridis). Artinya pendekatan yuridis formal semata tidak mencapai hasil yang efektif. Pertanyaannya adalah apakah MHA secara konstitusi dapat memiliki perwakilan dalam Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan bagaimana bentuk Demokrasi yang sesuai serta dapat menyalurkan aspirasi MHA. Artikel konseptual ini akan menjelaskan bagaimana membentuk perwakilan MHA dalam (DPD) dengan mengkombinasikan nilai kepentingan individu dan kolektif yang seimbang dalam satu harmoni demokrasi kedaulatan rakyat sebagaimana Hegel (1770-1831) berpendapat bahwa dualisme antara kepentingan individu dan masyarakat (kolektif) dalam kedaulatan rakyat harus dihilangkan dengan merumuskan konsep mengenai Negara. Dengan keseimbangan ini akan didapat hasil yang optimal dalam pelaksanaan demokrasi.

 

“Indigenous Peoples” (Masyarakat Hukum Adat – MHA) as a part of Adat Law System recognized by National Land Law (Hukum Tanah Nasional – HTN) both its existence and its implementation. As stated in general explanation of Law No. 5 Year of 1960 concerning to Basic Regulations o Agrarian Principles (UUPA), that Adat Law function as prime source for development of HTN in spite of the recognition need pre-requirement that as long as exist in fact and appropriate with National and State interest. Recognition, admiration and protection of Indigenous Peoples Rights has been adopted both under global dimension such as international convention and national dimension such as Indonesian Constitution and Indonesian National Positive Law. Notwithstanding that Recognition, admiration and protection of Indigenous Peoples Rights has been adopted both under global and national dimension, there are still many legal conflict upon land rights that is some legal problem arise from transferring of “Tanah Ulayat” (Ancestral Lands) to Government, Private Sector or Individual of which give the disadvantage to MHA. The main problem is difference perception among institutions (Executive, Judicative and Legislative) in their consistency upon giving the compensation concerning to transferring “Tanah Ulayat” (Ancestral Lands) of which causing re-claim upon such “Tanah Ulayat” (Ancestral Lands), there are no basis of multi dimension approach (anthropology, sociology and others discipline including legal discipline). It means that the legal formal approach only cannot give the effective result. The legal questions are, could MHA constitutionally have a representative inside the Province Parliament and how about the type of Democracy which appropriate and able to submit their aspiration. This conceptual article will elaborate how to make a representative of MHA inside the Province Parliament by combining the value of individual and collective interest in equilibrium in one harmony of democracy as Hegel (1770-1831) opinion that dualism between individual and collective interest under democracy should be omitted by formulating the conception of State. Under this equilibrium the performance of democracy will be optimized.

References

- B. Ter Haar Bzn. (2017). Asas-asas dan Susunan Hukum Adat, Terjemahan: K. Ng. Soebakti Pesponoto. Balai Pustaka, cetakan ke-14: Jakarta.
- Boedi Harsono. (1997). Hukum Agraria Indonesia, SejarahPembenukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi Dan Pelaksanaannya, Jilid 1 Hukum Tanah Nasional. Penerbit Djambatan (Edisi Revisi 1997): Jakarta.
- Hans Kelsen. (2007). Teori Umum Hukum dan Negara, Dasar-dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Deskriptif-Empirik, Alih Ba.hasa oleh Domardi. Bee Media Indonesia: Jakarta.
- Herlien Budiono. (2015). Asas Keseimbangan Bagi Hukum Perjanjian Indonesia-Hukum Perjanjian Indonesia. Penerbit PT Citra Aditya Bakti: Bandung.
- Jimly Asshiddiqie. (1994). Gagasan Kedaulatan Rakyat Dalam Konstitusi Dan Pelaksanaannya Di Indonesia. PT. Ichtiar Baru Van Hoeve: Jakarta.
- Maria S.W. Sumardjono. (2009). Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial Dan Budaya. PT. Kompas Media Nusantara: Jakarta.
- Maria SW Sumardjono. (2018). Pluraisme Hukum, Sumber Daya Alam dan Keadilan dalam Pemanfaatan Tanah Ulayat. Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta: Yogyakarta.
- M.D.A. Freeman. (2001). Lloyd’s Introduction to Jurisprudence, Seventh Edition, Sweet & Maxwell LTD.: London.
- Mochtar Mas’oed dan Colin Mac Andrews. (1982). Perbandingan Sistem Politik. Gadjah Mada University Press.: Yogyakarta.
- Morten Hviid. (2000). Chapter 4200 A.2-3, dalam Bouckaert, Boudewijn and De Geest, Gerrit (eds.), Encyclopedia of Law and Economics, Volume III. The Regulation of Contracts, Cheltenham, Edward Elgar.
- Montesquieu. (2007). The Spirit of Laws, Dasar-dasar Ilmu Hukum dan Ilmu Politik, Penterjemah: M. Khoiril Anam. Nusa Media: Bandung.
- Robert Cooter dan Thomas Ulen. (2000). Law and Economics, Third Edition. Addison Wesley Longman, Inc.: USA.
- Safri Nugraha, dkk. (2005). Hukum Administrasi Negara. Badan Penerbit FHUI: Jakarta.
- Soerojo Wignjodipoero. (2014). Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat. PT Toko Gunung Agung, Cetakan ke-17: Jakarta.
- Soetandya Wignjosoebroto. (2202). Hukum, Paradigma, Metod dan Dinamika Masalahnya. ELSAM dan HUMA: Jakarta.

Peraturan Perundang-undangan:
- UUD 1945 Perubahan Kedua (Tahun 2000).
- TAP MPR No.IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam.
- Undang-undang No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan dasar Pokok-Pokok Agraria.
- Undang-undang No. 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua.
- Undang-undang No. 17 Tahun 2014 Tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyar Daerah.
- Permen Agraria/ Ka BPN No. 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat.
Published
2018-11-11
How to Cite
Joesoef, I. E. (2018). Gagasan Perwakilan Masyarakat Hukum Adat dalam Dewan Perwakilan Daerah: Keseimbangan antara Kepentingan Individualitas dan Kolektivitas dalam Pelaksanaan Demokrasi. Seminar Nasional Hukum Universitas Negeri Semarang, 4(03), 523-546. https://doi.org/10.15294/snh.v4i03.27067