Remembering Raymond Westerling: Family Memories, History, and the Controversial Cinematic Depiction in The East (De Oost, 2021)
DOI:
https://doi.org/10.15294/paramita.v36i2.14560Keywords:
Raymond Westerling, contested memory, familial memory, cinematic memory, colonial violence, The EastAbstract
Abstract: Raymond Paul Westerling has become a symbol of Dutch colonial violence in South Sulawesi following Indonesia’s independence in 1945. The release of The East (De Oost) in 2021 reignited public controversy, with Westerling’s daughter, Palmyra Westerling, and Dutch organizations, including FIN and Maluku4Maluku, protesting the film’s portrayal of him. Meanwhile, the filmmakers defended their historical approach by citing primary sources. This study examines competing representations of Westerling through family accounts, historical records, veterans’ testimonies, and cinematic narratives. Using an interpretive qualitative approach informed by phenomenology and memory studies, it compares the film’s narrative and visual representations with family statements, veterans’ responses, historical documentation, and the filmmakers’ explanations. The findings reveal contrasting constructions of Westerling’s identity. Palmyra’s account emphasizes familial memories of him as a loving father and respectable individual. In contrast, the film portrays him as a charismatic military commander associated with colonial violence, drawing on historical documentation, veterans’ testimonies, and cinematic dramatization. These differences reflect distinct positions of remembrance rather than merely divergent opinions about an individual. Family memory prioritizes domestic intimacy, whereas historical and cinematic memories situate Westerling within the broader context of Dutch military violence in Indonesia. The controversy thus highlights tensions between personal memory, collective identity, historical accountability, and the ethical representation of colonial violence.
Abstrak: Raymond Paul Westerling menjadi simbol kekerasan kolonial Belanda di Sulawesi Selatan setelah kemerdekaan Indonesia pada 1945. Penayangan film The East (De Oost) pada 2021 memicu kontroversi, termasuk protes dari putrinya, Palmyra Westerling, serta organisasi Belanda, FIN dan Maluku4Maluku, yang menilai penggambaran tersebut tidak sesuai dengan pemahaman mereka. Sementara itu, pembuat film mempertahankan pendekatan historisnya dengan merujuk pada sumber primer. Penelitian ini mengkaji representasi Westerling yang saling bertentangan melalui ingatan keluarga, catatan sejarah, kesaksian veteran, dan narasi sinematik. Dengan pendekatan kualitatif interpretatif yang berlandaskan fenomenologi dan studi ingatan, penelitian ini membandingkan representasi naratif dan visual dalam film dengan pernyataan keluarga, tanggapan veteran, dokumentasi sejarah, serta penjelasan pembuat film. Temuan menunjukkan perbedaan konstruksi identitas Westerling. Palmyra menekankan ingatan keluarga yang menggambarkannya sebagai ayah penyayang dan pribadi terhormat. Sebaliknya, film menampilkan Westerling sebagai komandan militer karismatik yang terkait dengan kekerasan kolonial melalui dokumentasi sejarah, kesaksian veteran, dan dramatisasi sinematik. Perbedaan tersebut mencerminkan posisi ingatan yang berlainan. Ingatan keluarga berpusat pada keintiman domestik, sedangkan ingatan historis dan sinematik menempatkannya dalam konteks kekerasan militer Belanda di Indonesia. Kontroversi ini memperlihatkan ketegangan antara ingatan pribadi, identitas kolektif, pertanggungjawaban sejarah, dan tanggung jawab etis dalam merepresentasikan kekerasan kolonial.
