From Sacred Sites to Mining Sites: Revitalization of Myth and Local History of The Sawai People, Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.15294/paramita.v36i2.33267Keywords:
local history, mining sites, myth, revitalization, sacred sites, transformationAbstract
Abstract: The presence of the mining industry in rural areas has significantly transformed local communities. In Central Halmahera, Indonesia, a nickel mining company has encroached upon sacred lands belonging to indigenous communities, altering not only the physical landscape but also the existence of myths and local histories. This study, conducted through participant observation and in-depth interviews with traditional leaders, religious figures, and local communities, seeks to illustrate how the Sawai people, as an indigenous community, have reaffirmed the myth of their origin following the conversion of their sacred site into a mining operation. The research emphasizes the critical role of local initiatives in preserving cultural identity and history amid social, cultural, and environmental changes by revitalizing their myth of origin. This revitalization process involves maintaining the sacredness of Tanjung Ulie, incorporating sacred elements into everyday activities, and retransmitting the Myth of Tete Cekel within family, school, and social spheres. These efforts are essential for ensuring the survival of the community's social charter, collective memory, and local history, serving as a foundation for the sustainability of their lives and culture.
Abstrak: Kehadiran industri pertambangan di kawasan pedesaan menyebabkan terjadinya transformasi pada masyarakat lokal. Di Halmahera Tengah Indonesia, perusahaan tambang nikel telah menguasai lahan sakral masyarakat pribumi yang tidak hanya mengubah landscape fisik, tetapi juga mempengaruhi eksistensi mitos dan sejarah lokal. Melalui hasil observasi partisipasi dan wawancara mendalam dengan tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat lokal, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana orang Sawai, sebagai masyarakat pribumi, menguatkan kembali mitos asal usul mereka setelah situs sakral mereka dijadikan lahan operasi tambang oleh perusahaan. Kajian ini mengemukakan arti penting dari upaya masyarakat lokal dalam mempertahankan identitas budaya dan sejarah lokal mereka di tengah perubahan sosial, budaya, dan lingkungan dengan merevitalisasi fungsi mitos asal usul mereka. Proses revitalisasi ini dilakukan dengan cara mempertahankan sakralitas Tanjung Ulie, menghadirkan unsur sakral dalam aktivitas profan, dan mentransmisikan Mitos Tete Cekel pada ranah keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial. Upaya ini dilakukan agar social charter, memori kolektif, dan sejarah lokal masyarakat dapat terjaga sebagai landasan atas keberlanjutan kehidupan dan kebudayaan mereka.
