Rice Cultivation, Colonial Agricultural Policy, and Peasant Adaptation in the Priangan Residency, Nineteenth Century

Authors

DOI:

https://doi.org/10.15294/paramita.v36i2.33869

Keywords:

rice cultivation, rice production, Priangan Residency, Dutch colonialism, agrarian history, nineteenth century

Abstract

Abstract: This article examines the development of rice cultivation in the Priangan Residency of West Java during the nineteenth century, focusing on the expansion of paddy cultivation, changes in rice production and prices, and the conditions of rice-growing communities under Dutch colonial rule. Drawing on historical sources and employing the four stages of the historical method heuristics, source criticism, interpretation, and historiography the study reconstructs the changing role of rice cultivation within the colonial agrarian economy. The findings indicate that rice cultivation expanded substantially across the Priangan Residency during the nineteenth century and became an increasingly important component of local subsistence and agrarian life. This development occurred alongside the expansion of export-oriented plantation agriculture, particularly coffee cultivation, which increasingly shaped the region's agricultural landscape and economic structure. Rather than eliminating food-crop production, however, colonial agricultural policies accommodated and, at certain points, encouraged rice cultivation to maintain local food supplies and social stability. The study argues that the history of rice cultivation in Priangan cannot be understood solely in terms of subsistence production; it must also be examined in relation to the broader colonial reorganization of land, labor, agricultural production, and regional markets.

Abstrak:  Artikel ini mengkaji perkembangan budidaya padi di Karesidenan Priangan, Jawa Barat, pada abad ke-19, dengan fokus pada perluasan penanaman padi, perubahan produksi dan harga beras, serta kondisi masyarakat petani padi di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Berdasarkan sumber-sumber sejarah dan dengan menggunakan empat tahap metode sejarah, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, penelitian ini merekonstruksi perubahan peran budidaya padi dalam ekonomi agraria kolonial. Temuan menunjukkan bahwa budidaya padi berkembang secara substansial di seluruh Karesidenan Priangan selama abad ke-19 dan menjadi komponen yang semakin penting bagi subsistensi dan kehidupan agraris setempat. Perkembangan ini berlangsung bersamaan dengan perluasan pertanian perkebunan berorientasi ekspor, khususnya budidaya kopi, yang kian membentuk lanskap pertanian dan struktur ekonomi kawasan tersebut. Namun, alih-alih meniadakan produksi tanaman pangan, kebijakan pertanian kolonial menoleransi dan, pada saat-saat tertentu, mendorong budidaya padi untuk menjaga pasokan pangan lokal dan stabilitas sosial. Penelitian ini berargumen bahwa sejarah budidaya padi di Priangan tidak dapat dipahami semata-mata sebagai produksi subsistensi, tetapi juga harus ditelaah dalam kaitannya dengan penataan kolonial yang lebih luas atas tanah, tenaga kerja, produksi pertanian, dan pasar regional.

Author Biography

  • Mumuh Muhsin Zakaria, Universitas Padjadjaran

    Department of History and Philology, Faculty of Cultural Science, Universitas Padjadjaran, Bandung

Downloads

Published

2026-10-24

Article ID

33869