Analisis Kondisi Hidrologi terhadap Perkembangan Wilayah Perkotaan Studi Kasus DAS Kali Belik Yogyakarta

Slamet Suprayogi, Hendy Fatchurohman, M Widyastuti

Abstract

Perkembangan yang pesat di daerah Kota Yogyakarta memberikan berbagai konsekuensi dari sisi hidrologi. Perubahan lahan terbangun untuk memenuhi kebutuhan fasilitas fisik kota sangat cepat, seperti bangunan, jalan, dan tempat parkir. Kondisi ini akan merubah fungsi lahan sebagai satu kesatuan proses hidrologi, yakni lahan-lahan yang awalnya menyerap air  menjadi kedap air. Alih fungsi lahan yang diikuti oleh peningkatan aliran permukaan akan berpengaruh terhadap sumberdaya air baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Hasil dari penelitian adalah terjadi perubahan penggunaan lahan di DAS Belik, yaitu berupa pengurangan lahan bervegetasi dan peningkatan lahan terbangun. Perubahan penggunaan lahan ini menyebabkan peningkatan koefisien aliran dan Curve Number (CN) di DAS Belik. Selain menyebabkan peningkatan koefisien aliran dan CN, peningkatan lahan terbagun juga menjadi sumber pencemar airtanah. Besarnya limbah domestik (detergen) dan sumber pencemar organik yang disebabkan konstruksi septictank yang terlalu dekat dengan sumur menyebabkan nilai phospat, nitrat, dan coliform jauh melebihi baku mutu air kelas 1. Kemudian arah aliran airtanah di DAS Belik bergerak dari hulu menuju ke arah hilir/selatan dengan potensi debit mencapai 104 liter/detik. Jika airtanah tercemar, maka konsentrasi pencemaran terbesar akan terjadi di bagian hilir DAS Belik.




The consequence of rapid urbanization in the city of Yogyakarta lead to hydrological system change. Population and economic growth are the main reason for the increase in living place demand in the city of Yogyakarta. Landuse change is the impact of urban sprawl, which lead to the diminishing of groundwater resources and the increasing of overland flow. The extension of the built area that reaches the peri-urbans area and countryside will absolutely affect the quality and quantity of water resources.  The results show that landuse conversion occurred in several landuses in the sub-watershed of Belik. The main landuse change that detected from 2003-2012 is the diminishing of vegetated land and the increasing number of built area. Land conversion increased the run-off coefficient and Curve Number, that lead into the contamination of groundwater. The concentration of phosphate and coliform in almost all points exceeds the minimum standard of potable water. These results indicate that domestic wastewater and septic tank misconstructions play important role toward groundwater contamination. From the flownets construction, it shows that the groundwater flow from the northern part into southern part of  Belik sub-watershed with potential discharge up to 104 liter/second. There is also possibility for groundwater contamination to extent and reach the downstream area. the water resources.

Keywords

perubahan penggunaan lahan; debit puncak; kualitas air landuse change; maximum discharge; runoff; water quality

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.