IBM BAGI KELOMPOK TANI BIOFARMAKA SUMBER REJEKI I DAN NGUDI MAKMUR I DI DESA SAMBIREJO KABUPATEN KARANGANYAR

Fakhrina Fahma, Rahmaniyah Dwi Astuti, Ilham Priyaditama

Abstract


Kelompok Tani Biofarmaka Sumber Rejeki I dan Ngudi Makmur Imemiliki hasil utama berupa kunyit. Untuk meningkatkan nilai tambah produknya,kedua kelompok tani ini mengolah rimpang kunyit menjadi simplisia. Karena harga jual simplisia jauh lebih baik daripada menjual dalam bentuk rimpang.Simplisia adalah rimpang yang dipotong tipis dengan ketebalan 38 mm dandikeringkan sampai kadar air mencapai kurang dari 10%. Sampai saat ini petanimasih terkendala dalam memasarkan produk simplisianya. Penyebab utamanyaadalah kualitas produknya masih dibawah standar yang ditetapkan pabrikan karenaproses pengolahannya yang masih bersifat konvensional, baik dari sisi metodologimaupun teknologi. Selain produktivitasnya yang rendah, cara ini mengakibatkanvariasi ketebalan dan kecelakaan kerja. Pengeringan masih dilakukan dengancara menjemur secara langsung dibawah sinar matahari dengan menggunakanwidik. Dengan cara seperti ini pengeringan membutuhkan waktu yang lama yaitumencapai 20 hari. Selain itu juga terdapat resiko kontaminasi dan menguapnyaminyak atsiri yang terkandung dalam simplisia kunyit. Melalui program IbM inidirancang Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa alat pemotong rimpang dan alatpengering simplisia yang dilengkapi dengan SOP pengolahan simplisia kunyit danpenggunaan peralatan. Kegiatan ini dilakukan dengan pendekatan ParticipatoryRural Appraisal (PRA), dalam artian mitra akan dilibatkan hampir di seluruhtahap kegiatan mulai dari perancangan alat, pembuatan alat, evaluasi kinerja alat,penyempurnaan alat, perancangan SOP, sosialisasi SOP dan implementasi SOP.Hasil pengujian kinerja kerja alat pemotong menghasilkan potongan membujurdengan rata-rata 4,58mm sedangkan kinerja alat pengering solar drayer dapatmencapai suhu rata-rata 53.5C, laju aliran udara rata rata sebesar 1,02m/s padalubang inlet dan 0.43m/s pada lubang exhaust. Dengan kinerja seperti ini makapengeringan simplisia akan berjalan lebih cepat, yaitu kurang lebih lima hari.
Kata kunci : Biofarmaka, Alat Pemotong Kunyit, Solar dryer


References


Bennamoun, Lyes. 2012. An Overview on Application of Exergy and Energy for Determination of Solar Drying Efficiency. International Journal of Energy Engineering,2(5): 184-194.

Chinenye, Ndukwu Macmanus. 2009. Effect of Drying Temperature and Drying Air Velocity on Drying Rate and Drying Constant of Cocoa Bean. Agricultural Engineering International: the CIGR Ejournal. Manuscript 1091. Vol XI.

Handayani, N. A. , dan Ariyanti, D. 2012. Potency of Solar Energy Applications in Indonesia. Int. Journal of Renewable Energy Development 1 (2) hal. 33-38.

Herawati, STP. , MSi, Dian, Nuraida, Prof.Dr. Lilis, dan Sumarto, STP. , MP. 2012.Cara Produksi Simplisia yang Baik.Seafast Center.

Hernani dan Nurdjanah, Rahmawati. 2009. Aspek Pengeringan dalam Memeprtahankan Metabolit Sekunder pada Tanaman Obat.Perkembangan Teknologi TRO 21 (2) Desember 2009 Hal. 33-39.

Ismandari, Titik, dkk. 2008. Pengeringan KacangTanah Arachis Hypogae,L) Menggunakan Solar Dryer.Yogyakarta: Prosiding Seminar Nasional Teknik Pertanian 2008.

Latifah, dkk. 2008. Prosedur Opersional Standar (POS) Budidaya Jahe.Departemen Pertanian.

Manalu, Ir. Lamhot P. , M. Si. 2010. Aplikasi Teknologi Pengeringan Untuk Produksi Simplisia Temulawak dan Sambiloto. Laporan Akhir: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Montgomery, Douglas C. 2001. Design and Analysis of Experiments-Fifth Edition. New York: John Wiley & Sons, Inc.

Pangavhane, D. R. , Sawhney, R. L. , dan Sarsavadia, P. N. 2002. Design, Development And Performance Testing Of A New Natural Convection Solar Dryer, Energi, Vol 27, 579-590.

Rukmi, Isworo. 2009. Keanekaragaman Aspergilluspada Berbagai Simplisia Jamu Trdisional. Jurnal Sains& Matematika (JSM) Volume 17 Nomor 2 April 2009.


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.