MAKNA SIMBOLIS KOMPOSISI BEDAYA LEMAH PUTIH (BEDAYA LEMAH PUTIH COMPOSITION SYMBOLIC MEANING)

Moh. Hasan Bisri

Abstract


Keberadaan tari Bedaya di lingkungan kraton memiliki beberapa fungsi penting   yang terkait dengan upacara kebesaran raja, upacara penobatan raja, dan upacara resmi kerajaan. Tari Bedaya menjadi simbol-simbol status bagi raja dan  merupakan pelengkap jabatan raja, dengan demikian wajar bila tari Bedaya mendapat dukungan sepenuhnya dari raja. Bedaya adalah suatu bentuk tari kelompok, yang dilakukan oleh sembilan penari putri dengan tatarias dan busana yang sama. Masing-masing penari membawakan peran dan nama yang berbeda, yaitu: Batak, Gulu, Dhadha, Endhel Weton, Endhel Ajeg, Apit Meneng, Apit Wingking, Apit Ngajeng, dan Boncit. Tari Bedaya mempunyai konvensi tertentu, dalam hal isi maupun wujud tarinya, yang meliputi susunan tari, pola gerak, pola ruang, pola lantai, iringan, dan tatarias busana. Di sisi lain tari Bedaya mengalami perkembangan hingga keluar kraton, dan juga tentunya konvensi-konvensi pada    tari Bedoyo mengalami perubahan pula antara Bedaya di luar kraton dengan Bedaya kraton. Hingga banyak bermunculan karya-karya baru tari Bedaya bahkan lepas dengan konvensi Bedaya Kraton.

 

Kata Kunci: Simbol, Bedaya, Lemah Putih, Semiotik


Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.15294/harmonia.v6i2.832

Refbacks

  • There are currently no refbacks.