Framing Analysis of Islamic Marriage Sermon in Perspective of Gender Equality

Diyah Utami, Ali Imron, Refti Handini

Abstract

Knowledge of gender in the context of marriage sermon is closely related to the interpretation of religious doctrines concerning the relationship of men and women. This study aims to understand the perspective of gender equality on Islamic marriage sermon through framing analysis. This study used framing analysis to reveals the frame of a text by using framing devices that are directly related to the central idea of the text and reasoning. The devices are associated with the cohesion and coherence of the text that refer to a particular idea of marriage. Islamic sermons such as text still tend to show discriminatory for example, this can be felt in the reproduction of a sentences like this: such as sentence the ideal family is where the husband and wife make a living for their household, especially by giving love and education to children. The word ideal or good is a framing device. And the phrase, if the wife works outside the home, the family will lose orientation. The word disoriented indicates that family whose wife works outside of the house is a failed family. In this case, the wife is used as a scapegoat for the failure of a family as a wife who works outside.

Pengetahuan tentang gender dalam konteks pernikahan khotbah berkaitan erat dengan penafsiran doktrin agama tentang hubungan pria dan wanita. Penelitian ini bertujuan untuk memahami perspektif kesetaraan gender dalam khotbah perkawinan Islam dalam analisis perspektif framing. Penelitian ini menggunakan analisis yang mengungkapkan bingkai teks dengan menggunakan perangkat framing yang langsung berhubungan dengan gagasan utama dari teks dan penalaran framing. Perangkat yang terkait dengan kohesi dan koherensi teks yang merujuk pada ide tertentu pernikahan khotbah Islam Teks masih cenderung menunjukkan tindakan diskriminatif, seperti kalimat keluarga yang ideal adalah di mana suami dan istri mencari nafkah untuk keluarga mereka, terutama dengan memberikan cinta dan pendidikan untuk anak-anak. Kata ideal atau baik adalah perangkat framing. Dan kalimat, jika istri bekerja di luar rumah, keluarga akan kehilangan orientasi. Kata bingung menunjukkan bahwa keluarga yang istrinya bekerja di luar rumah adalah keluarga yang gagal. Dalam hal ini, istri digunakan sebagai kambing hitam atas kegagalan keluarga sebagai istri yang bekerja di luar.

Keywords

framing analysis; gender equality; islam; marriage sermon

Full Text:

PDF

References

Budiman, A. 1996. Menggugat Partriarkhi. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Dewi, S.R. 2006. Gender Mainstreaming: Feminisme, Gender, dan Transformasi Institusi. Jur- nal Perempuan. 50: 1-16.

Eriyanto. 2007. Analisis Framing: Konstruksi Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LKis.

Fakih, M. 2004. Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.

Kingori, O. and Oboka. 2014. Gender Difference in Traumatic Experiences and Level of Post Traumatic Stress Disorder among Children Survivors in Areas Affected by the Post-Election of 2007/2008 in Nakura County, Kenya. Research on Humanities and Social Sciences Journal. 4 (15): 14-20.

Luthfi, A. 2010. Akses dan Kontrol Perempuan Petani Penggarap Pada Lahan Pertanian PTPN IX Kebun Merbuh. Jurnal Komunitas; Research & Learning in Sociology and Anthropology. 2(2): 74-83.

Mufidah. 2004. Paradigma Gender. Malang: Bayumedia Publising.

Simon, R. 1999. Gagasan-Gagasan Politik Antonio Gramsci. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suyanto, B. & M. Khusna A. (eds.). 2010. Anatomi dan Perkembangan Teori Sosial. Malang: Aditya Media Publishing.

Yunindyawati, dkk. 2014. Kontestasi Diskursus Ketahanan Pangan dan Pembentukan Kuasa Penge- tahuan Perempuan Pada Keluarga Petani Sawah di Sumatera Selatan. Jurnal Komunitas: Research & Learning in Sociology and Anthropology. 6 (1): 170-179.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.