Politik Hukum Kebebasan Beragama di Indonesia

Hasyim Asy’ari(1),


(1) Jl. Prof. Sudarto, SH. Tembalang, Semarang, Indonesia, 50275

Abstract

Tulisan ini merupakan kajian tentang politik hukum kebebasan beragama di Indonesia. Sebagai bangsa yang multi-etnik tentu saja kajian seputar politik hukum kebebasan beragama di Indonesia menjadi penting. Kajian dengan menggunakan metode perbandingan dan sejarah hukum ini menggambarkan dan menganalisis sikap dasar negara terhadap kebebasan beragama, perkembangan politik hukum hak asasi manusia, dan substansi pengakuan kebebasan beragama dalam konstitusi Indonesia. Perkembangan politik hukum kebebasan beragama di Indonesia berjalan tidak linear, namun penuh dinamika sebagaimana pengalaman historis relasi antara negara dan agama yang terjadi selama ini. Relasi antara negara dengan Nahdlatul Ulama (NU) dijadikan model kajian bagaimana dinamika relasi antara negara dan agama terjadi di Indonesia. Kajian ini menemukan bahwa perkembangan politik hukum kebebasan beragama di Indonesia tidak terlepas dari pandangan (persepsi/pemahaman) negara dan masyarakat, dan antar warga masyarakat. Oleh karena itu, kajian ini merekomendasikan bahwa untuk meredam konflik yang potensial melanggar kebebasan beragama di Indonesia, strategi yang tidak dapat dielakkan adalah membangun kesepahaman antara para pihak dalam negara dan masyarakat.

This article is a study on legal-policy of religious freedom in Indonesia. As a multi-ethnic nation of course becomes important to the study surrounding the legal-policy of religious freedom in Indonesia. The study using comparative and history of law methods is to describe and analyze the state’s attitude toward religious freedom, the legal-policy development of human rights, and the substance of the constitutional recognition of religious freedom in Indonesia. Legal-policy development on religious freedom in Indonesia is running not linear, but dynamics as the historical experiences of relations between state and religion that occurred during this time. Relation between the state and Nahdlatul Ulama (NU) used as a model of study how the dynamics relations between state and religion in Indonesia. This study finds that the legal-policy development of religious freedom in Indonesia is inseparable from view (perception/understanding) between the state and society, and between citizens. Therefore, this study recommends that in order to reduce potential conflicts violate religious freedom in Indonesia, the inevitable strategy is to build understanding between the parties in the state and society.

Keywords

Legal-Policy; Freedom of Religion.

Full Text:

PDF

References

Abbas, S. 1982. I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah. Pustaka Tarbiyah, Jakarta

Al-Barsany, N. I. 1992. Politik Islam di Indonesia. Fiqh Permusyawaratan/Perwakilan Rakyat. P3M-RMI, Jakarta

Asy’ari, H. 2008. Budaya Politik di Pentas Novel: Kajian Tentang PKI dan DI/TII dalam Novel Ahmad Tohari. Sabda Jurnal Kajian Kebudayaan 3 (1)

Falaakh, M. F. 1994. Jam’iyah Nahdlatul Ulama: Kini, Lampau dan Datang. Gus Dur, NU dan Masyarakat Sipil. LKiS, Yogyakarta

Falaakh, M.F. 1994. Sketsa Komparatif Hukum Islam di Turki dan Saudi Arabia. Pelaksanaan Hukum Islam di Timur Tengah. Fisipol UGM Yogyakarta, 8 September 1994

Falaakh, M.F. 1995. NU dalam Dua Resolusi Jihat. Kompas. Jakarta. 8 Desember. hlm 16

Feith, H. dan Castles, L. (eds.). 1988. Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965. LP3ES, Jakarta

Haidar, M.A. 1994. Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia: Pendekatan Fikih Dalam Politik. Gramedia. Jakarta

Haidar, M.A. Perkembangan Teori Negara: Sebuah Tinjauan. Jurnal Konstitusi Volume I Nomor 1, November 2009

Ibrahim, A.I. 2004. al-Muwaafaqat fi ‘Ushul al Syariah. Dar al Ma’rifah. Beirut

Irsyam, M. 1984. Ulama dan Politik: Upaya Mengatasi Krisis. Yayasan Perkhidmatan, Jakarta

Ismail, F. 1999. Ideologi, Hegemoni dan Otoritas Agama: Wacana Ketegangan Kreatif Islam dan Pancasila. Tiara Wacana, Yogyakarta

Keputusan Bahsul Masail Diniyah Qanuniyah, Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Ke-32, Makasar, 22-27 Maret 2010

Keputusan Munas Alim Ulama NU No. II/MAUNU/1404/1983 tentang Pemulihan Khittah NU 1926

Mahfud, MD. 1998. Politik Hukum dalam Perda Berbasis Syari’ah. Jurnal Hukum No. 1 Vol. 14 Januari 2007

Musthofa, B. 1966. Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Menara Kudus, Kudus

Nasution, A.B. 1995. Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia: Studi Sosio-Legal Atas Konstituante 1956-1959. Grafiti, Jakarta

Saefur, R. 2011. Pandangan Abdurrahman Wahid tentang Relasi Islam dan Negara: Pendekatan Sosio-Kultural. Jurnal Millah 10(2), Februari 2011

Salim, H. 1995. 50 Tahun Resolusi Jihad NU. Kompas. 10 Nopember. hlm. 16

Siddiq, A. 1980. Khittah Nahdliyyah. Balai Buku. Surabaya

Siradj, S.A. 1996. Ahlussunnah wal Jama’ah. Bahtsul Masail. Bahtsul Masail PBNU. 15 September 1996

Sitompul, E.M. 1996. NU dan Pancasila. Sinar Harapan, Jakarta

Sonhadji, M. 1988. Nahdlah al-Ulama Gerakan Sosial Keagamaan 1926-1952: Suatu Tinjauan Historis Kultural. Tesis. Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Sulistyo, H. 1995. Historiografi tentang Resolusi Jihad NU. Kompas. Jakarta. 24 Nopember. hlm 10

Tobroni, F. Keberhasilan Hukum Islam Menerjang Belenggu Kolonial dan Menjaga Keutuhan Nasional. Jurnal UNISIA, Vol XXXII No. 72 Desember 2009

Tohari, A. 1995. Lingkar Tanah Lingkar Air. Harta Prima, Purwokerto

Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (TAP MPR) No. XVII/MPR/I998 tentang Hak Asasi Manusia

Keputusan Presiden No. 50 Tahun 1993 tentang Pembentukan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945

Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia

Undang-Undang No. 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil dan Politik)

Refbacks

  • There are currently no refbacks.