MONOGAYENG (Permainan Monopoli Berwawasan Cagar Budaya Jawa Tengah): Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Bagi Siswa Sekolah Menengah Kejuruan

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Muzakki Bashori

Abstract

Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terkenal akan keragaman cagar budayanya. Hal ini terbukti dengan banyak ditemukannya peninggalan-peninggalan bangunan kuno zaman penjajahan, relief hewan-hewan purba, serta terdapat beberapa tempat yang bahkan diakui secara internasional sebagai warisan dunia. Lebih lanjut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga berpartisipasi aktif dalam upaya melestarikan berbagai cagar budaya yang ada, sehingga eksistensi atau keberadaan cagar budaya tersebut masih dapat disaksikan dan dinikmati sampai sekarang. Namun, besarnya potensi cagar budaya yang dimiliki oleh Provinsi Jawa Tengah ini ternyata tidak diimbangi dengan besarnya minat atau keinginan para pelajar untuk mempelajari dan ikut serta melestarikan cagar budaya yang ada. Adapun salah satu bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian cagar budaya yang masih minim adalah melalui pendidikan formal. Saat ini kegiatan pembelajaran mengenai cagar budaya, khususnya yang berada di Provinsi Jawa Tengah, di sekolah-sekolah belum banyak menyentuh tataran praktis (research-based), masih cenderung textbook-oriented (media pembelajaran yang monoton), hanya menekankan pada kemampuan menghafal siswa, teacher-centered, dan membosankan. Konsekuensi dari kondisi di atas adalah para pelajar, khususnya di Jawa Tengah, menjadi apatis dan jenuh, sehingga akhirnya mereka akan semakin awam dan tidak mengetahui besarnya potensi cagar budaya yang dimiliki oleh provinsi tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan yang optimal dari sektor pendidikan formal agar nantinya para pelajar di provinsi Jawa Tengah dapat memperoleh informasi yang memadai tentang cagar budaya, khususnya yang ada di Jawa Tengah, dan melakukan praktik atau riset sederhana dengan bimbingan dari guru pendamping. Salah satu bentuk solusi yang ditawarkan oleh Penulis adalah dengan mengusulkan MONOGAYENG atau Permainan Monopoli Berwawasan Cagar Budaya Jawa Tengah sebagai inovasi media pembelajaran berbasis kearifan lokal bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), khususnya di Provinsi Jawa Tengah. MONOGAYENG dapat dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu tahap pra pembelajaran, tahap pelaksanaan dan tahap pasca pembelajaran. Kendala internal yang berupa tingkat pemahaman siswa yang berbeda, banyaknya instruksi dalam permainan dan beban penilaian oleh guru dapat diatasi dengan mengoptimalkan tahap pra pembelajaran untuk menjelaskan tata cara permainan kepada siswa, mendorong siswa untuk saling membantu menjelaskan konsep permainan dan mengatur ritme penilaian guru agar tidak overload. Kendala eksternal dapat diatasi dengan menyesuaikan materi permainan dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang sejalan dengan silabus mata pelajaran serta me-laminating atau memberikan bingkai plastik pada properti permainan agar tahan lama. Adanya inovasi media pembelajaran ini diharapkan dapat merangsang kesadaran siswa akan pentingnya mengetahui potensi cagar budaya daerah, khususnya Provinsi Jawa Tengah, dan kemudian melakukan praktik terbimbing untuk menerapkan pengetahuan cagar budaya yang telah didapat agar dapat dimanfaatkan sebagai wawasan dalam kehidupan sehari-hari demi menjaga keberlangsungan cagar budaya yang ada di Jawa Tengah.


Kata Kunci: monopoli, cagar budaya, jawa tengah, media pembelajaran


The Central Java Province is renowned in Indonesia for its diverse cultural heritage. This is evidenced by the numerous relics of ancient colonial-era buildings, prehistoric animal reliefs, and internationally recognized heritage sites found within the region. Furthermore, the Central Java Provincial Government actively participates in preserving various cultural heritage sites, ensuring their continued existence and enjoyment to this day. However, the substantial cultural potential of Central Java is not matched by a corresponding interest or desire among students to learn about and contribute to the preservation of these cultural treasures. One form of support that remains underutilized in the conservation efforts is through formal education. Currently, educational activities concerning cultural heritage, particularly those within Central Java, lack practical (research-based) components in schools. The predominant approach is still textbook-oriented, monotonous in terms of learning media, emphasizing rote memorization, teacher-centered, and often dull. The consequence of this situation is that students, particularly in Central Java, become apathetic and disinterested, ultimately leading to their ignorance of the immense cultural potential within the province. Therefore, optimal support from the formal education sector is crucial to providing students in Central Java with adequate information about cultural heritage, especially within the province. This includes engaging them in practical activities or simple research under the guidance of supervising teachers. One proposed solution to address this issue is the introduction of "MONOGAYENG" or the Cultural Heritage Monopoly Game of Central Java as an innovative, locally grounded educational media for Vocational High School (SMK) students, specifically in Central Java. MONOGAYENG can be implemented in three stages: pre-learning, implementation, and post-learning. Internal challenges, such as varying levels of student understanding, numerous game instructions, and the assessment burden on teachers, can be addressed by optimizing the pre-learning stage to explain the game rules, encouraging students to help each other understand the concepts, and regulating the teacher's assessment pace to prevent overload. External challenges can be mitigated by aligning the game content with Competence Standards and Basic Competencies in line with the curriculum and laminating or providing plastic frames for game properties to ensure durability. The introduction of this educational media innovation is expected to stimulate students' awareness of the importance of understanding the cultural potential of their region, specifically in Central Java. Furthermore, it aims to encourage guided practical application of acquired cultural knowledge for everyday life, contributing to the preservation of cultural heritage in Central Java.


Keywords: monopoly, cultural heritage, Central Java, educational media

##plugins.themes.academic_pro.article.details##