Correlated Factors on Performance of Tuberculosis Program Officers at Community Health Clinic in Increasing the Finding of New AFB Smear-Positive Cases

  • Meliana Latifah Universitas Negeri Semarang
  • Sri Ratna Rahayu Universitas Negeri Semarang
  • Fitri Indrawati Universitas Negeri Semarang
Keywords: Kinerja, Case Detection Rate (CDR), Tuberkulosis, Performance, Tuberculosis, BTA Positif, AFB smear-positive

Abstract

ABSTRACT

Semarang regency had CDR issues under the national target. The activity of new cases finding determine the success of the tuberculosis eradication programs, so the process of find new AFB smear-positive cases by officers is crucial. The purpose of this study was to determine factors related to the performance of tuberculosis officers at the community health clinic in increasing the findingof AFB smear-positive new cases (case study in Semarang regency).

This type of research is observational analytic, with the cross-sectional design involving 45 saturated samples. Data analysis used was chi-square test. 

The results showed that factors related to the performance of tuberculosis programs officers were knowledge (p = 0.022), training (p = 0.001), double duty (p = 0.014), screening for active TB suspect (p = 0.038), motivation (0.040) and attitude (p = 0.011). While there was no correlation between years of service (p = 0.152), facilities (p = 0.154), and incentive (p = 0.121).

 

 

ABSTRAK

Kabupaten Semarang memiliki permasalahan CDR di bawah target nasional. Kegiatan penemuan kasus baru menentukan keberhasilan program pemberantasan tuberkulosis, sehingga proses penemuan kasus baru BTA positif oleh petugas sangat menentukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja petugas tuberkulosis puskesmas dalam meningkatkan penemuan kasus baru BTA positif (studi kasus di Kabupaten Semarang).

Jenis penelitian ini adalah analitik observasional, dengan desain cross sectional yang melibatkan 45 sampel jenuh. Analisis data menggunakan uji chi square.

Hasil penelitian menunjukkan faktor yang berhubungan dengan kinerja petugas program tuberkulosis puskesmas adalah pengetahuan (p = 0,022), pelatihan (p = 0,001), tugas rangkap (p = 0,014), penjaringan suspek TB aktif (p = 0,038), motivasi (0,040), dan sikap (p = 0,011). Sementara tidak ada hubungan antara faktor masa kerja (p = 0,152), sarana (p = 0,154), dan insentif (p = 0,121).

 

References

Akhmadi, A., et al. 2012. Kinerja Petugas TB dalam Pencapaian Angka Kesembuhan TB Paru di Puskesmas Kabupaten Sidrap Tahun 2012. Skripsi. Makassar: Universitas Hasanuddin.

Aditama, W. & Zulfikar. 2009. Evaluasi Program Penanggulangan Tuberkulosis Paru di Kabupaten Boyolali. Journal Kesehatan Masyarakat, 7 (6): 243–250.

Arnadottir, T. 2009. Tuberculosis and Public Health, Policy And Principles in Tuberculosis Control. Paris: International Union Against Tuberculosis and Lung Disease.

Awusi, et al. 2009. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penemuan Penderita TB Paru di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah. Berita Kedokteran Masyarakat, 25 (2).

Ayulestari, D. 2014. Faktor yang Berhubungan dengan KinerjaPetugas TB dan Petugas Laboratorium dalam Case Detection Rate (CDR) di Kota Makasar. Skripsi. Makassar: Universitas Hasanuddin.

Hariadi, E. 2009. Hubungan Faktor Petugas Puskesmas dengan Cakupan Penderita Tuberkulosis Paru BTA Positif. Berita Kedokteran Masyarakat, 25 (4).

Henderson, L. N., Tulloch, J. 2008. Incentives for Retaining and Motivating Health Worker in Pacific and Asia Countries. Human Resouch for Health, 6:18.

Husein, R.D. 2012. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kinerja Petugas Program TB Paru Terhadap Penemuan Kasus Baru di Kabupaten Lampung Selatan. Jurnal Keperawatan, 7(1).

Kusumawardani, N. 2012. Faktor-faktor yang Berhubungan antara Pengetahuan, Keterampilan, dan Motivasi Petugas dengan Kinerja dalam Meningkatkan Cakupan Penemuan Penderita Baru TB Paru di Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar Provinsi Riau Tahun 2012. Skripsi: Universitas Indonesia

Minardo, J. 2015. Analisis Determinan Motivasi Petugas Tuberkulosis Paru Dalam Penemuan Kasus Di Kabupaten Semarang (Studi Kasus Di Beberapa Puskesmas). Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia, 3 (1)

Nawas, A. 2010. Penatalaksanaan TB MDR dan Strategi DOTS Plus. Jurnal Tuberkulosis Indonesia, 7

Nugraini, K., Cahyati, W. H. & Farida, E. 2015. Evaluasi Input Capaian Case Detection Rate (CDR) TB Paru dalam Program Penanggulangan Penyakit TB Paru (P2TB) Puskesmas Tahun 2012 (Studi Kualitatif di Kota Semarang). Unnes Journal of Public Health, 4 (2).

Purniti, P.S., Subanada, I.B. & Astawa, P., 2008. Spondilitis Tuberkulosis. Sari Pediatri, 10 (3).

Rahayu, S.R. 2015. Factors Associated With Tuberculosis Cases in Semarang District, Indonesia: Case–Control Study Performed in The Area Where Case Detection Rate Was Extremely Low. Environ Health Prev Med, 20: 253–261

Ratnasari, D. 2015. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pencapaian Petugas Terhadap Case Detection Rate (CDR) pada Program TB Paru di Kabupaten Rembang. Skripsi. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Saomi, E.E., Cahyati, W.H & Indarjo, I. 2015. Hubungan Karakteristik Individu dengan Penemuan Kasus TB Paru di Eks Karesidenan Pati Tahun 2013. Unnes Journal of Public Health, 4 (1).

WHO. 2015. Global Tuberculosis Report 2015.
Published
2018-01-31
How to Cite
Latifah, M., Rahayu, S., & Indrawati, F. (2018). Correlated Factors on Performance of Tuberculosis Program Officers at Community Health Clinic in Increasing the Finding of New AFB Smear-Positive Cases. Unnes Journal of Public Health, 7(1), 7-14. https://doi.org/10.15294/ujph.v7i1.16705