POLA KONSUMSI FAST FOOD DAN SERAT SEBAGAI FAKTOR GIZI LEBIH PADA REMAJA

  • Vilda Ana Veria Setyawati Universitas Dian Nuswantoro
  • Eti Rimawati Universitas Dian Nuswantoro
Keywords: Overweight, Fast Food Consumption, Fiber Consumption, konsumsi fast food, konsumsi serat, kegemukan

Abstract

Abstrak

Gizi lebih atau overweight pada saat sekarang merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia, mempengaruhi tidak hanya negara maju tapi juga negara berkembang. Survei obesitas yang dilakukan akhir-akhir ini pada anak remaja siswa/siswi SLTP di Yogyakarta menunjukkan bahwa 7,8% remaja di perkotaan dan 2% remaja di daerah pedesaan mengalami obesitas. Pada tahun 2011 berdasarkan hasil penjaringan peserta didik TA 2011/2012 di Kota Semarang pada remaja usia 16 tahun dari 16.579 anak sebesar 3,71% berstatus gizi lebih. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah ada hubungan antara serat dan fast food dengan gizi lebih. Penelitian ini dilakukan di Kota Semarang pada remaja sejumlah 65 orang. Variabel bebas penelitian ini adalah pola konsumsi fast food dan serat, sedangkan variabel terikatnya adalah status gizi. Analisis data yang digunakan adalah chi square. Hasilnya, 58,5% responden mengalami malnutrisi yang terdiri dari underweight, overweight, obesitas I, dan obesitas II; sementara 41,5% responden berstatus gizi normal. Sehingga bisa dikatakan bahwa remaja bermasalah dengan status gizi. Konsumsi fast food (p=0,21) dan serat (p=0,43) tidak berhubungan dengan overweight. Sebagian besar responden sering mengkonsumsi fast food (95,4%) dan kurang mengkonsumsi serat (84,6%).

 

Abstract

Overweight is a health problem worldwide, affecting not only developed countries but also developing countries. A recent obesity survey in junior high school students in Yogyakarta showed that 7.8% of teenagers in urban areas and 2% of adolescents in rural areas were obese. In 2011, 3.71% from 16,579 adolescents aged 16 in Semarang were over nutrition. This study aimed to determine if fiber and fast food consumption were correlated with over nutrients. This research was conducted in Semarang with 65 adolescent students as respondents. The independent variables were the pattern of fast food and fiber consumption, while the dependent variable is nutritional status. The data were analyzed with chi square test. The result showed that 58.5% of respondents were malnourished, which consists of underweight, overweight, obese I and obese II; while 41.5% of them were normal in nutrition status. It could be said that the teenagers had a problem with nutritional status. Fast food consumption (p = 0.21) and fiber consumption (p = 0.43) were not significantly associated with overweight. Most respondents consume fast food frequently (95.4%) and consume fiber less (84.6%).

References

Adriani, M., & Wirjatmadi, B. (2012). Peranan gizi dalam siklus kehidupan, edisi 1. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Aini, SN., 2013. Faktor risiko yang berhubungan dengan gizi lebih. Unnes Journal of Public Health (UJPH). 2 (1): 1-8.
Alfawaz, Hanan A. 2012. The Relationship Between Fast Food Consumption and BMI among University Female Students. Pakistan Journal of Nutrition 11 (5): 406-410
Al-Rethaiaa, A., A.E. Fahmy and N.M. Al-Shwaiyat. 2010. Obesity and eating habits among college students in Saudi Arabia: A cross sectional study. Nutr. J., 9: 39.
Coplan, J.D., Wolk, S.I., Goetz, R.R., Ryan, N.D., Dahl, R.E., Mann, J.J., et al. 2000. Nocturnal growth hormone secretion studies in adolescents with or without major depression re-examined: integration of adult clinical follow-up data. Biol Psychiatry. 47(7): 594-604
Fatmah and Achadi, E.A. 2015. Baseline survey on nutritional and health status of underfive children at poor communities in DKI Jakarta, Tangerang, and Bogor. MAKARA Kesehatan. 9 (2): 41-48.
French, S.A., Harnack, L., and Jeffery, R.W. 2000. Fast food restaurant use among women in the pound of prevention study: Dietary, behavioral and demographic correlates. Obes. Relat. Metab. Disord., 24: 1353-1359.
French, S.A., Neumark-Sztainer, D., Story, M., Fulkerson, J.A., and Hannan, P. 2001. Fast food restaurant use among adolescents: Associations with nutrient intake, food choices and behavioral and psychosocial variables. Int. J. Obes. Relat. Metab. Disord. 25: 1823-1833.
Hadi, Hamam. 2005. ”Beban Ganda Masalah Gizi dan Implikasinya Terhadap Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nasional”, dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar. Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Haines, J., Neumark-Sztainer, D., Wall, M. and Story, M. 2007. Personal behavioral and environmental risk and protective factors for adolescent overweight. Obesity (Silver Spring). 15: 2748-2760.
Hakim, N.H.Abdull., Muniandy, N.D., and Danish, Ajau. 2012. Nutritional status and eating practices among university students in selected universities in Selangor, Malaysia. Asian Journal of Clinical Nutrition. 4 (3): 77-87.
He, Q. and Karlberg, J. 2001. BMI in childhood and its association with height gain, timing of puberty, and final height. Pediatr Res. 49 (2): 244-251.
Kalkan, I., Türkmen, A., S., & Filiz, E. 2015. Dietary habits of Turkish adolescents in Konya, Turkey. Global Journal on Advances in Pure & Applied Sciences. [Online]. 07: 190-196. Available from: http://www.world-education-center.org/index.php/paas.
Kemenkes RI, 2014. Pedoman Gizi Seimbang 2014. Diakses melalui http://gizi.depkes.go.id/pgs-2014-2.
Khomsan, A., 2003. Pola Makan Kaum Remaja, Pangan, dan Gizi untuk Kesehatan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
King, DE., Mainous, AG., Egan, BM., Woolson, RF., Geesey, ME. 2005. Fiber and C Reactive Protein in Diabetes, Hypertension, and Obesity. Diabetes Care. 28 (6).
Mahdiah. 2004. Prevalensi obesitas dan hubungan konsumsi Fast food dengan kejadian obesitas pada remaja SLTP Kota dan Desa di Daerah Istimewa Yogyakarta. http://etd.ugm.ac.id/index.php? Yogyakarta.mod=penelitian_detail&sub=Penelitian Detail&act=view&typ=html&buku_id = 24492&obyek_id=4.
Mitchel, Marry Kay. 2003. Nutrition Across the Life Span. Philadelphia: Elsevier Saunders.
Nurjanah, Nunung. 1998. “Upaya Peningkatan Kesehatan Balita Melalui Pengelolaan Gizi Keluarga”. Bina Diknakes.
Padmiari. 2002. Prevalensi Obesitas dan Konsumsi Fast Food Sebagai Faktor Resiko Obesitas Pada Anak SD di Kota Denpasar. Jogjakarta. (Online) (http://www.wpp.org/frm _makalah.php&act=edit&id=200, diakses 10 Juni 2009).
Paeratakul, S., D.P. Ferdinand, C.M. Champagne, D.H. Ryan and G.A. Bray, 2003. Fast food consumption among U.S adult and children: Dietary and nutrient intake profile. J. Am. Diet. Assoc. 103: 1332-1338
Saputra, Wiko., Nurrizka, Rahmah Hida. 2012. Faktor Demografi dan Risiko Gizi Buruk Dan Gizi Kurang. MAKARA Kesehatan. 16 (2): 95-101.
Semiloka Pra Widya Karya Pangan dan Gizi. 1997. Penanggulangan Masalah Gizi Lebih, Obesitas dan Penyakit Degeneratif. Fakultas Kedokteran, Surabaya.
Setyaningsih, Dewi Utami. 2001. “Perbedaan Frekuensi Makan fast food Siswa Kelas I di SMU N 1Semarang dan SMU N 7 Semarang Ditinjau dari Pengetahuan Gizi dan Uang Saku”. Karya Tulis Ilmiah. Akademi Gizi, Depkes RI Semarang.
Thasim, S., et al, 2013. Pengaruh edukasi terhadap perubahan pengetahuan dan asupan zat gizi pada anak gizi lebih di SDN Sudirman I Makkasar Tahun 2013. Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Hasanuddin Makassar.
Published
2016-07-31
How to Cite
Setyawati, V., & Rimawati, E. (2016). POLA KONSUMSI FAST FOOD DAN SERAT SEBAGAI FAKTOR GIZI LEBIH PADA REMAJA. Unnes Journal of Public Health, 5(3), 275-284. https://doi.org/10.15294/ujph.v5i3.16792