Hands On Activity Pada Pembelajaran Geometri Sekolah Sebagai Asesmen Kinerja Siswa

Kartono Kartono

Abstract

Geometri merupakan cabang matematika yang diajarkan mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, namun berdasarkan suatu penelitian hasil belajar geometri kurang memuaskan khususnya hasil belajar geometri sekolah. Hasil belajar geometri sekolah terkait langsung dengan kegiatan pembelajarannya. Pembelajaran geometri akan efektif apabila kegiatan yang dilakukan sesuai dengan struktur kemampuan berpikir siswa. Menurut Teori Van Hiele tentang pembelajaran geometri, bahwa tingkat kemampuan berpikir siswa dalam belajar geometri meliputi lima tingkat , yaitu visualisasi, analisis, deduksi informal, deduksi, dan rigor.Tingkatan berpikir tersebut akan dilalui siswa secara berurutan, kecepatan berpindah dari tingkat ke tingkat berikutnya banyak bergantung pada isi dan metode pembelajarannya.

Perlu disediakan aktivitas-aktivitas dalam pembelajaran yang sesuai dengan tingkat berpikir siswa dalam bentuk hands on activity. Melalui hands on activity akan terbentuk suatu penghayatan dan pengalaman untuk  menetapkan suatu pengertian, karena mampu membelajarkan secara bersama-sama kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik serta dapat memberikan penghayatan secara mendalam terhadap apa yang dipelajari, sehingga apa yang diperoleh oleh siswa tidak mudah dilupakan. Hands on activity selain sebagai komponen kegiatan pembelajaran, dapat dimanfaatkan sebagai intrumen asesmen, khususnya asesmen kinerja siswa. Gunakanlah hands on activity pada pembelajaran geometri sekolah dan manfaatkan kegiatan tersebut sebagai bentuk asesmen kinerja siswa.

Keywords

Hands on activity; geometri sekolah; asesmen kinerja

Full Text:

PDF

References

Abdussakir. 2009. Pembelajaran geometri dan teori Van Hiele. Tersedia pada http://abdussakir.wordpress.com/2009/01/25

Amin, M. 2007. Pembelajaran sain kontekstual melalui hands on activity. Tersedia pada http://lubisgrafura.wordpress.com/2007/09/09

Brualdi, A. 1998. Implementing performance assessment in classroom. Practical Assessment Research & Evaluation, 6(2). Tersedia pada http:// PAREonline.net/.

De Villiers, M. 1996. The future of secondary school geometry.Presented at the SOSI Geometry Imperfect Conference, 2-4 Oktober, UNISA, Pretoria. Tersedia pada http://www.pazone.mweb.co.za/residents/profmd/future.pdf.

Ding, L & Jones, K. 2006. Teaching geometry in lower secondary school in Shanghai China. Proceeding of the British Society for Research into Learning Mathematics, 26(1), 41-46.Tersedia pada http://www.esprint.soton.ac.uk/40502.

Hari Setiadi. 2006. Penilaian Kinerja. Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Depdiknas.

Margono, G. 2006. Standar penilaian pendidikan.Buletin BSNP, 1(2), 40-47. Tersdia pada http://www.bsnp.indonesia.org.

Noraini. 2003. Teaching and learning of geometry: Problems and prospects. Educational problems, 27, 165-178. Tersedia pada http://myais.fsktm.um.edu.rny/5101.

Noraini. 1999. Students intellectual growth in geometry: A case study of form two students.Educational Journal, 2, 71-82. Tersedia pada http://myais.umcsd.um.edu.rny.

Nurhadi. 2001. Pendekatan kontekstual. Depdiknas.

Palm, T. 2008. Performance assessment and authentic assessment: A Conceptual analysis of the literature. Practical Assessment Research & Evaluation, 13(4), 1-11. Tersedia pada http://PAREonline.net/.

Popham, W. J. 1995. Classroom assessment: what teachers need to know. Needham Heihgts, MA: Allyn & Bacon, A Simmon & Schuster Company.

Roeber, E. D. 1996. Guidelines for the development and management of performance assessments. Practical Assessment Research & Evaluation, 5(7). Tersedia pada http://PAREonline.net/.

Soedjadi, 2001. Dasar-dasar pendidikan matematika realistic Indonesia. Makalah.

Sunardi. 2005. Pengembangan model pembelajaran geometri berbasis teori Van Hiele. Disertasi, Program Pascasarjana Program Studi Pendidikan Matematika UNESA.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.