Pemilu Presiden 2019: Antara Kontestasi Politik dan Persaingan Pemicu Perpecahan Bangsa

  • Khoiril Huda Fakultas Hukum, Universitas Negeri Semarang
  • Zulfa ‘Azzah Fadhlika Fakultas Hukum, Universitas Negeri Semarang
Keywords: Kontestasi Politik, Pemilu Presiden 2019, Reaksi Masyarakat

Abstract

Pesta demokrasi Pemilu dan Pilpres menggambarkan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat, dimana pemerintahan berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dalam pemilu terdapat kontestasi politik yang mendorong para calon-calon pemimpin tersebut melakukan upaya-upaya untuk memenangkan pemilihan umum tersebut. Hal inilah yang menimbulkan reaksi yang berbeda-beda di kalangan masyarakat mengenai pandangan mereka terhadap upaya-upaya yang dilakukan para kontestan. Saat ini situasi yang sedang hangat terjadi di Indonesia yaitu pemilu presiden yang akan diselenggarakan pada tahun 2019 nanti. Pilpres baru akan diselenggarakan tahun depan, namun atmosfer keketatan persaingannya sudah terasa sejak tahun 2017. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang akan diuraikan lebih lanjut dalam pembahasan kali ini. Keketatan diantara pendukung kedua pasangan calon menyebabkan pemilihan presiden tahun 2019 mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan pilpres-pilpres sebelumnya. Pilpres kali ini merupakan rematch dalam persaingan 4 tahun yang lalu di tahun 2014. Terdapat hal-hal menarik yang perlu ditelisik lebih lanjut mengenai fenomena-fenomena yang terjadi menjelang Pilpres 2019. Salah satu hal yang dimaksud yaitu persaingan-persaingan di antara dua kubu pasangan calon. Persaingan di antara keduanya telah menimbulkan berbagai reaksi di kalangan masyarakat. Padahal, perbedaan prinsip dan sudut pandanglah yang menjadikan munculnya pola seolah-olah ada persaingan hingga merembes ke lapisan masyarakat. Maka hal-hal mengenai pemicu perpecahan di masyarakat dalam menyambut kontestasi pemilu presiden 2019 sangat penting untuk dikaji demi mempertahankan keutuhan bangsa karena Indonesia merupakan negara yang sangat menjunjung nilai-nilai pluralisme dan rentan terhadap perpecahan. Adapun objek penelitian yang akan diteliti ialah sikap masyarakat terhadap Pilpres 2019 dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif.

References

Arrsa, Ria Casmi, “Pemilu Serentak dan Masa Depan Konsolidasi Demokrasi” , Jurnal Konstitusi, Volume 11, Nomor 3, September 2014.
Cipto, Bambang, Partai Kekuasaan dan Militerisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.
Conversi, D. (2007). “Homogenisation, Nationalism and War: Should We Still Read Ernest Gellner?” Nations and Nationalism, Vol. 13 (3).
Kansil, CST., Hukum Tata Negara Republik Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta, 2000.
Lijphart, Arend., Electoral System and Party Systems: A Study of Twenty-Seven Democracies 1945-1990, New York: Oxford UP, 1995.
Pamungkas, C. (2015). “Nasionalisme Masyarakat di Perbatasan Laut: Studi Kasus Masyarakat Nelayan Karimun”, Jurnal Masyarakat Indonesia, Vol. 41 (2).
Pamungkas, Sigit., Perihal Pemilu, Yogyakarta: Laboratorium Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM, 2009.
Saragih, Bintan R., Hukum Tata Negara, Bandung: C.V. Utomo, 2006
Singh, Virbhadra, “Kata Depan” di Jhingta, Hans Raj, Corrupt Practice in Elections, New Delhi: Deep & Deep Publications, 1996.
Shubhan, Hadi., “Recal: Antara Hak Partai Politik dan Hak Berpolitik Anggota Parpol”, Jurnal Konstitusi, Volume 3, Nomor 4 Desember 2006.
S. T, Sulistiyono,. (2015). “Multikulturalisme dalam Perspektif Budaya Pesisir”, Jurnal Agastya , Vol. 5 (1).
Surbakti, Ramlan, Didik Supriyanto, Hasyim Asy’ari, Menyederhanakan Waktu Penyelenggaraan Pemilu: Pemilu Nasional dan Pemilu Daerah, Seri Elektoral Demokrasi. Buku 2, Jakarta: Kemitraan bagi Pembaharuan Tata Pemerintahan, 2011.
Published
2018-11-11
How to Cite
Huda, K., & Fadhlika, Z. ‘Azzah. (2018). Pemilu Presiden 2019: Antara Kontestasi Politik dan Persaingan Pemicu Perpecahan Bangsa. Seminar Nasional Hukum Universitas Negeri Semarang, 4(03), 547-562. Retrieved from https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/snh/article/view/27068